Malaysia Bagi-bagi Uang ke Rakyat dan Turunkan Harga BBM, Ini Penyebabnya
Kamis, 24 Juli 2025 - 07:27 WIB
loading...
Pemerintah Malaysia akan bagi-bagi uang tunai ke seluruh warga usia dewasa, dan juga akan menurunkan harga bahan bakar minyak. Foto/The Star
A
A
A
KUALA LUMPUR - Pemerintah Malaysia telah mengumumkan akan membagikan uang tunai kepada seluruh warga usia dewasa, dan juga akan menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM). Langkah ini diambil Perdana Menteri (PM) Anwar Ibrahim untuk meredam kemarahan publik atas kenaikan biaya hidup sebagai imbas dari dinaikkannya besaran pajak.
PM Anwar mengumumkan hal itu pada Rabu yang disiarkan stasiun televisi setempat. Anwar sendiri sedang bersiap menghadapi demo besar-besaran di Ibu Kota Malaysia, Kuala Lumpur, pada Sabtu mendatang, yang bertujuan untuk memaksanya mengundurkan diri atas imbas kenaikan harga dan kegagalan memenuhi reformasi yang dijanjikan.
Pemerintahan Anwar telah melakukan sejumlah langkah untuk meningkatkan pendapatan dan produktivitas tahun ini, termasuk kenaikan upah minimum, kenaikan tarif listrik bagi pengguna listrik besar, dan perluasan pajak penjualan dan jasa.
Baca Juga: Digerebek Komisi Anti-Korupsi, Manajer Ini Bakar Uang Senilai Rp384,4 Miliar
Anwar mengatakan langkah-langkah tersebut terutama ditujukan kepada bisnis besar dan orang kaya, tetapi para kritikus menyuarakan kekhawatiran bahwa biaya yang lebih tinggi pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen, termasuk mereka yang berpenghasilan rendah dan menengah.
Dalam pengumumannya, Anwar mengatakan semua warga Malaysia di atas 18 tahun akan menerima 100 ringgit (USD23,67) dalam bentuk bantuan tunai satu kali yang akan dicairkan mulai 31 Agustus.
Menurutnya, pemerintah akan membelanjakan total 15 miliar ringgit (USD3,55 miliar) dalam bentuk bantuan tunai pada tahun 2025, naik dari 13 miliar ringgit yang awalnya dialokasikan untuk tahun tersebut.
Polisi setempat mengatakan mereka memperkirakan antara 10.000 dan 15.000 massa akan menghadiri demo besar-besaran pada Sabtu nanti, yang diselenggarakan oleh partai-partai oposisi.
"Saya mengakui adanya keluhan dan menerima bahwa biaya hidup tetap menjadi tantangan yang harus diatasi, meskipun kami telah mengumumkan berbagai langkah sejauh ini," kata Anwar, seraya menambahkan bahwa lebih banyak inisiatif untuk membantu mereka yang berada dalam kemiskinan akan diluncurkan pada hari Kamis (24/7/2025), sebagaimana dikutip Reuters.
Anwar mengatakan pemerintah juga akan mengumumkan detail rencana yang telah lama ditunggu-tunggu untuk menyesuaikan subsidi menyeluruh pada bahan bakar transportasi RON95 yang banyak digunakan sebelum akhir September.
Setelah perubahan subsidi diterapkan, harga bahan bakar di pompa bensin Malaysia akan turun menjadi 1,99 ringgit per liter, dibandingkan dengan harga saat ini 2,05 ringgit, imbuh Anwar.
Namun, kata dia, warga negara asing harus membayar harga pasar bahan bakar tanpa subsidi. Anwar tidak memberikan detail tentang bagaimana langkah tersebut akan ditegakkan.
Para analis mengatakan perubahan skema rasionalisasi subsidi bahan bakar—yang awalnya ditetapkan pada pertengahan 2025 dan bertujuan untuk menghapus subsidi bagi orang kaya—dapat memengaruhi rencana konsolidasi fiskal Malaysia.
Ekonom Kenanga Investment Bank, Muhammad Saifuddin Sapuan, mengatakan bahwa pemberian uang tunai dan langkah-langkah subsidi diperlukan untuk mendorong permintaan domestik, di tengah hambatan eksternal yang timbul dari ketidakpastian global yang sedang berlangsung.
"Namun demikian, hal ini memiliki konsekuensi, terutama terkait bagaimana pemerintah akan membiayainya, dan kemungkinan akan menekan target fiskalnya," ujarnya.
Kathleen Chen, dari tim Sovereigns Fitch Ratings, mengatakan penundaan lebih lanjut atau kemajuan yang tidak memadai dalam rasionalisasi subsidi dapat membahayakan tujuan pemerintah untuk mengurangi defisitnya menjadi 3% pada tahun 2028.
Menurutnya, Fitch memperkirakan utang pemerintah umum Malaysia akan tetap tinggi, sekitar 76,5% dari PDB pada tahun 2025, dengan penurunan yang hanya bertahap dalam jangka menengah.
PM Anwar mengumumkan hal itu pada Rabu yang disiarkan stasiun televisi setempat. Anwar sendiri sedang bersiap menghadapi demo besar-besaran di Ibu Kota Malaysia, Kuala Lumpur, pada Sabtu mendatang, yang bertujuan untuk memaksanya mengundurkan diri atas imbas kenaikan harga dan kegagalan memenuhi reformasi yang dijanjikan.
Pemerintahan Anwar telah melakukan sejumlah langkah untuk meningkatkan pendapatan dan produktivitas tahun ini, termasuk kenaikan upah minimum, kenaikan tarif listrik bagi pengguna listrik besar, dan perluasan pajak penjualan dan jasa.
Baca Juga: Digerebek Komisi Anti-Korupsi, Manajer Ini Bakar Uang Senilai Rp384,4 Miliar
Anwar mengatakan langkah-langkah tersebut terutama ditujukan kepada bisnis besar dan orang kaya, tetapi para kritikus menyuarakan kekhawatiran bahwa biaya yang lebih tinggi pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen, termasuk mereka yang berpenghasilan rendah dan menengah.
Dalam pengumumannya, Anwar mengatakan semua warga Malaysia di atas 18 tahun akan menerima 100 ringgit (USD23,67) dalam bentuk bantuan tunai satu kali yang akan dicairkan mulai 31 Agustus.
Menurutnya, pemerintah akan membelanjakan total 15 miliar ringgit (USD3,55 miliar) dalam bentuk bantuan tunai pada tahun 2025, naik dari 13 miliar ringgit yang awalnya dialokasikan untuk tahun tersebut.
Polisi setempat mengatakan mereka memperkirakan antara 10.000 dan 15.000 massa akan menghadiri demo besar-besaran pada Sabtu nanti, yang diselenggarakan oleh partai-partai oposisi.
"Saya mengakui adanya keluhan dan menerima bahwa biaya hidup tetap menjadi tantangan yang harus diatasi, meskipun kami telah mengumumkan berbagai langkah sejauh ini," kata Anwar, seraya menambahkan bahwa lebih banyak inisiatif untuk membantu mereka yang berada dalam kemiskinan akan diluncurkan pada hari Kamis (24/7/2025), sebagaimana dikutip Reuters.
Anwar mengatakan pemerintah juga akan mengumumkan detail rencana yang telah lama ditunggu-tunggu untuk menyesuaikan subsidi menyeluruh pada bahan bakar transportasi RON95 yang banyak digunakan sebelum akhir September.
Setelah perubahan subsidi diterapkan, harga bahan bakar di pompa bensin Malaysia akan turun menjadi 1,99 ringgit per liter, dibandingkan dengan harga saat ini 2,05 ringgit, imbuh Anwar.
Namun, kata dia, warga negara asing harus membayar harga pasar bahan bakar tanpa subsidi. Anwar tidak memberikan detail tentang bagaimana langkah tersebut akan ditegakkan.
Para analis mengatakan perubahan skema rasionalisasi subsidi bahan bakar—yang awalnya ditetapkan pada pertengahan 2025 dan bertujuan untuk menghapus subsidi bagi orang kaya—dapat memengaruhi rencana konsolidasi fiskal Malaysia.
Ekonom Kenanga Investment Bank, Muhammad Saifuddin Sapuan, mengatakan bahwa pemberian uang tunai dan langkah-langkah subsidi diperlukan untuk mendorong permintaan domestik, di tengah hambatan eksternal yang timbul dari ketidakpastian global yang sedang berlangsung.
"Namun demikian, hal ini memiliki konsekuensi, terutama terkait bagaimana pemerintah akan membiayainya, dan kemungkinan akan menekan target fiskalnya," ujarnya.
Kathleen Chen, dari tim Sovereigns Fitch Ratings, mengatakan penundaan lebih lanjut atau kemajuan yang tidak memadai dalam rasionalisasi subsidi dapat membahayakan tujuan pemerintah untuk mengurangi defisitnya menjadi 3% pada tahun 2028.
Menurutnya, Fitch memperkirakan utang pemerintah umum Malaysia akan tetap tinggi, sekitar 76,5% dari PDB pada tahun 2025, dengan penurunan yang hanya bertahap dalam jangka menengah.
(mas)
Lihat Juga :