4 Negara yang Pernah Menyerang Israel namun Gagal
Rabu, 23 Juli 2025 - 12:05 WIB
loading...
Tentara Irak naik ke helikopter. Foto/irna
A
A
A
TEL AVIV - Sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948, wilayah Timur Tengah telah menjadi pusat konflik militer yang berlarut-larut, terutama antara Israel dan negara-negara Arab serta beberapa kekuatan regional lainnya. Penolakan terhadap keberadaan negara Yahudi di tengah kawasan mayoritas Muslim memicu serangkaian perang dan serangan dari berbagai negara yang bertujuan untuk menggulingkan, melemahkan, atau menghentikan ekspansi Israel.
Namun, meskipun dikelilingi negara-negara yang lebih besar dan lebih banyak secara jumlah penduduk, Israel berhasil mempertahankan eksistensinya dan bahkan memperluas wilayahnya dalam beberapa konflik besar.
Hal ini menimbulkan pertanyaan mendalam: mengapa negara-negara tersebut gagal dalam menyerang Israel, padahal sering kali mereka memiliki keunggulan jumlah dan dukungan politik di dunia Arab?
Mesir adalah negara yang paling sering terlibat dalam perang melawan Israel sejak berdirinya negara itu pada tahun 1948.
Pada Perang Arab-Israel 1948–1949, Mesir bersama beberapa negara Arab lainnya menyerang Israel setelah deklarasi kemerdekaannya.
Tujuan utama Mesir adalah mencegah terbentuknya negara Yahudi dan merebut wilayah Palestina. Mesir sempat menduduki sebagian wilayah di selatan Israel, terutama wilayah Negev, namun pasukan Israel berhasil melakukan serangan balik dan mengepung pasukan Mesir di “kantong Faluja.”
Hasil akhirnya adalah gencatan senjata yang memaksa Mesir mundur tanpa mencapai tujuannya. Pada tahun 1956, dalam Krisis Suez, Mesir kembali berkonflik dengan Israel setelah nasionalisasi Terusan Suez oleh Presiden Gamal Abdel Nasser.
Israel, dengan dukungan Inggris dan Prancis, menyerang Mesir dan berhasil merebut Semenanjung Sinai. Namun, tekanan dari Amerika Serikat dan Uni Soviet membuat pasukan Israel harus mundur.
Tujuan strategis Mesir, yaitu mempertahankan kedaulatan atas Suez dan mengusir Israel, tetap tercapai berkat diplomasi internasional, namun dari sisi militer Mesir kalah.
Pada Perang Enam Hari tahun 1967, Mesir kembali menjadi aktor utama dalam koalisi Arab yang berusaha menekan Israel. Namun, Israel meluncurkan serangan preemptive yang menghancurkan angkatan udara Mesir di darat.
Dalam waktu enam hari, Israel berhasil merebut Semenanjung Sinai dari Mesir. Meskipun pada Perang Yom Kippur 1973 Mesir berhasil mengejutkan Israel dengan menyebrangi Terusan Suez dan menghancurkan garis pertahanan Bar-Lev, Israel akhirnya membalik keadaan dan mengepung pasukan Mesir di barat kanal.
Tujuan Mesir untuk merebut kembali Sinai gagal total, meskipun kemudian wilayah tersebut dikembalikan melalui jalur diplomatik dalam Perjanjian Camp David 1979.
Secara keseluruhan, Mesir gagal dalam semua upaya militernya untuk menghancurkan atau melemahkan Israel.
Suriah menjadi salah satu negara paling agresif terhadap Israel, terutama dalam dua konflik besar: Perang Enam Hari 1967 dan Perang Yom Kippur 1973.
Dalam Perang 1967, Suriah ikut serta dalam koalisi Arab yang berniat menyerang Israel. Namun dalam waktu singkat, Israel melumpuhkan kekuatan udara Suriah dan berhasil merebut wilayah strategis Dataran Tinggi Golan.
Kehilangan Golan menjadi pukulan besar bagi Suriah karena wilayah itu penting secara militer dan sumber air.
Enam tahun kemudian, pada Oktober 1973, Suriah melancarkan serangan mendadak dalam Perang Yom Kippur, berbarengan dengan Mesir.
Mereka mencoba merebut kembali Dataran Golan dengan kekuatan darat dan artileri besar-besaran. Dalam beberapa hari awal, Suriah berhasil mendorong pasukan Israel mundur, namun Israel segera mengirim bala bantuan dan melakukan serangan balik.
Akhirnya pasukan Israel berhasil menembus pertahanan Suriah dan mendekati ibu kota Damaskus sebelum gencatan senjata diberlakukan.
Meskipun Suriah menunjukkan keberhasilan awal, mereka tetap gagal mencapai tujuan utama, yaitu merebut kembali Golan dan melemahkan Israel secara jangka panjang. Sampai hari ini, Dataran Golan masih dikuasai Israel.
Yordania terlibat langsung dalam Perang Arab-Israel 1948 dan Perang Enam Hari 1967. Pada tahun 1948, Yordania berhasil menduduki Tepi Barat dan Yerusalem Timur, tetapi setelah beberapa tahun, wilayah itu menjadi titik konflik berkepanjangan.
Dalam Perang Enam Hari 1967, meskipun awalnya tidak berniat menyerang, Yordania kemudian ikut serta setelah mendapat tekanan dari Mesir dan Suriah.
Yordania menembakkan artileri ke wilayah Israel dan melakukan serangan terhadap Yerusalem Barat. Sebagai balasan, Israel melancarkan serangan balik cepat dan berhasil merebut Tepi Barat serta Yerusalem Timur.
Keterlibatan Yordania berakhir dengan kehilangan wilayah yang sebelumnya mereka kuasai selama hampir dua dekade.
Tujuan Yordania untuk mempertahankan atau memperluas wilayah Arab di Palestina gagal total. Setelah perang ini, Yordania menjadi lebih berhati-hati dan akhirnya menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada tahun 1994.
Dari semua negara Arab, Yordania termasuk yang paling cepat menyadari bahwa konflik militer dengan Israel tidak menguntungkan secara jangka panjang.
Irak tidak berbatasan langsung dengan Israel, namun tetap berusaha menyerang dalam berbagai kesempatan sebagai bentuk solidaritas terhadap negara-negara Arab.
Pada Perang Arab-Israel 1948, Irak mengirimkan pasukan untuk membantu Palestina, namun tidak memberikan dampak signifikan.
Peristiwa yang paling terkenal terjadi selama Perang Teluk 1991, ketika Irak di bawah kepemimpinan Saddam Hussein menembakkan sekitar 42 rudal balistik Scud ke kota-kota di Israel seperti Tel Aviv dan Haifa.
Tujuannya adalah memancing Israel untuk membalas serangan, sehingga memecah belah koalisi negara-negara Arab yang dipimpin AS dalam menyerang Irak.
Namun, Israel menahan diri dari membalas, setelah menerima tekanan diplomatik kuat dari Amerika Serikat dan negara-negara Arab moderat. Akibatnya, strategi Irak untuk menghancurkan kesatuan koalisi itu gagal.
Selain kerusakan infrastruktur dan trauma sipil, rudal-rudal Scud tidak memberikan dampak militer yang signifikan terhadap Israel.
Serangan ini menjadi contoh bagaimana sebuah negara yang berusaha menyerang Israel dari jarak jauh tetap gagal dalam mencapai tujuan politik maupun militernya.
Baca juga: 1.054 Tewas saat Mencoba Mendapatkan Makanan di Gaza, Uni Eropa Ancam Israel
Namun, meskipun dikelilingi negara-negara yang lebih besar dan lebih banyak secara jumlah penduduk, Israel berhasil mempertahankan eksistensinya dan bahkan memperluas wilayahnya dalam beberapa konflik besar.
Hal ini menimbulkan pertanyaan mendalam: mengapa negara-negara tersebut gagal dalam menyerang Israel, padahal sering kali mereka memiliki keunggulan jumlah dan dukungan politik di dunia Arab?
1. Mesir
Mesir adalah negara yang paling sering terlibat dalam perang melawan Israel sejak berdirinya negara itu pada tahun 1948.
Pada Perang Arab-Israel 1948–1949, Mesir bersama beberapa negara Arab lainnya menyerang Israel setelah deklarasi kemerdekaannya.
Tujuan utama Mesir adalah mencegah terbentuknya negara Yahudi dan merebut wilayah Palestina. Mesir sempat menduduki sebagian wilayah di selatan Israel, terutama wilayah Negev, namun pasukan Israel berhasil melakukan serangan balik dan mengepung pasukan Mesir di “kantong Faluja.”
Hasil akhirnya adalah gencatan senjata yang memaksa Mesir mundur tanpa mencapai tujuannya. Pada tahun 1956, dalam Krisis Suez, Mesir kembali berkonflik dengan Israel setelah nasionalisasi Terusan Suez oleh Presiden Gamal Abdel Nasser.
Israel, dengan dukungan Inggris dan Prancis, menyerang Mesir dan berhasil merebut Semenanjung Sinai. Namun, tekanan dari Amerika Serikat dan Uni Soviet membuat pasukan Israel harus mundur.
Tujuan strategis Mesir, yaitu mempertahankan kedaulatan atas Suez dan mengusir Israel, tetap tercapai berkat diplomasi internasional, namun dari sisi militer Mesir kalah.
Pada Perang Enam Hari tahun 1967, Mesir kembali menjadi aktor utama dalam koalisi Arab yang berusaha menekan Israel. Namun, Israel meluncurkan serangan preemptive yang menghancurkan angkatan udara Mesir di darat.
Dalam waktu enam hari, Israel berhasil merebut Semenanjung Sinai dari Mesir. Meskipun pada Perang Yom Kippur 1973 Mesir berhasil mengejutkan Israel dengan menyebrangi Terusan Suez dan menghancurkan garis pertahanan Bar-Lev, Israel akhirnya membalik keadaan dan mengepung pasukan Mesir di barat kanal.
Tujuan Mesir untuk merebut kembali Sinai gagal total, meskipun kemudian wilayah tersebut dikembalikan melalui jalur diplomatik dalam Perjanjian Camp David 1979.
Secara keseluruhan, Mesir gagal dalam semua upaya militernya untuk menghancurkan atau melemahkan Israel.
2. Suriah
Suriah menjadi salah satu negara paling agresif terhadap Israel, terutama dalam dua konflik besar: Perang Enam Hari 1967 dan Perang Yom Kippur 1973.
Dalam Perang 1967, Suriah ikut serta dalam koalisi Arab yang berniat menyerang Israel. Namun dalam waktu singkat, Israel melumpuhkan kekuatan udara Suriah dan berhasil merebut wilayah strategis Dataran Tinggi Golan.
Kehilangan Golan menjadi pukulan besar bagi Suriah karena wilayah itu penting secara militer dan sumber air.
Enam tahun kemudian, pada Oktober 1973, Suriah melancarkan serangan mendadak dalam Perang Yom Kippur, berbarengan dengan Mesir.
Mereka mencoba merebut kembali Dataran Golan dengan kekuatan darat dan artileri besar-besaran. Dalam beberapa hari awal, Suriah berhasil mendorong pasukan Israel mundur, namun Israel segera mengirim bala bantuan dan melakukan serangan balik.
Akhirnya pasukan Israel berhasil menembus pertahanan Suriah dan mendekati ibu kota Damaskus sebelum gencatan senjata diberlakukan.
Meskipun Suriah menunjukkan keberhasilan awal, mereka tetap gagal mencapai tujuan utama, yaitu merebut kembali Golan dan melemahkan Israel secara jangka panjang. Sampai hari ini, Dataran Golan masih dikuasai Israel.
3. Yordania
Yordania terlibat langsung dalam Perang Arab-Israel 1948 dan Perang Enam Hari 1967. Pada tahun 1948, Yordania berhasil menduduki Tepi Barat dan Yerusalem Timur, tetapi setelah beberapa tahun, wilayah itu menjadi titik konflik berkepanjangan.
Dalam Perang Enam Hari 1967, meskipun awalnya tidak berniat menyerang, Yordania kemudian ikut serta setelah mendapat tekanan dari Mesir dan Suriah.
Yordania menembakkan artileri ke wilayah Israel dan melakukan serangan terhadap Yerusalem Barat. Sebagai balasan, Israel melancarkan serangan balik cepat dan berhasil merebut Tepi Barat serta Yerusalem Timur.
Keterlibatan Yordania berakhir dengan kehilangan wilayah yang sebelumnya mereka kuasai selama hampir dua dekade.
Tujuan Yordania untuk mempertahankan atau memperluas wilayah Arab di Palestina gagal total. Setelah perang ini, Yordania menjadi lebih berhati-hati dan akhirnya menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada tahun 1994.
Dari semua negara Arab, Yordania termasuk yang paling cepat menyadari bahwa konflik militer dengan Israel tidak menguntungkan secara jangka panjang.
4. Irak
Irak tidak berbatasan langsung dengan Israel, namun tetap berusaha menyerang dalam berbagai kesempatan sebagai bentuk solidaritas terhadap negara-negara Arab.
Pada Perang Arab-Israel 1948, Irak mengirimkan pasukan untuk membantu Palestina, namun tidak memberikan dampak signifikan.
Peristiwa yang paling terkenal terjadi selama Perang Teluk 1991, ketika Irak di bawah kepemimpinan Saddam Hussein menembakkan sekitar 42 rudal balistik Scud ke kota-kota di Israel seperti Tel Aviv dan Haifa.
Tujuannya adalah memancing Israel untuk membalas serangan, sehingga memecah belah koalisi negara-negara Arab yang dipimpin AS dalam menyerang Irak.
Namun, Israel menahan diri dari membalas, setelah menerima tekanan diplomatik kuat dari Amerika Serikat dan negara-negara Arab moderat. Akibatnya, strategi Irak untuk menghancurkan kesatuan koalisi itu gagal.
Selain kerusakan infrastruktur dan trauma sipil, rudal-rudal Scud tidak memberikan dampak militer yang signifikan terhadap Israel.
Serangan ini menjadi contoh bagaimana sebuah negara yang berusaha menyerang Israel dari jarak jauh tetap gagal dalam mencapai tujuan politik maupun militernya.
Baca juga: 1.054 Tewas saat Mencoba Mendapatkan Makanan di Gaza, Uni Eropa Ancam Israel
(sya)
Lihat Juga :