Dokter Gaza Abu Safiya Hanya Diberi 2 Sendok Nasi Sehari di Penjara Israel

Sabtu, 19 Juli 2025 - 10:51 WIB
loading...
Dokter Gaza Abu Safiya...
Dr. Hussam Abu Safiya terus disiksa di penjara Israel. Foto/euromedmonitor
A A A
GAZA - Seorang pengacara yang mewakili Dr. Hussam Abu Safiya dari Palestina menyuarakan keprihatinannya atas kesehatannya yang memburuk dan penyiksaan rutin di penjara Israel. Dr Abu Safiya dan para narapidana hanya diberi dua sendok nasi sehari.

Dalam wawancara dengan Arab48, yang diterbitkan pada hari Kamis (17/7/2025), pengacara Gheed Kassem mengatakan direktur Rumah Sakit Kamal Adwan, yang terletak di utara Jalur Gaza, telah menghadapi serangan fisik berat yang mengakibatkan memar di kepala, leher, tulang rusuk, dan punggungnya.

Ketika Dr. Abu Safiya meminta bantuan medis untuk komplikasi yang diakibatkan oleh pemukulan tersebut, termasuk detak jantung yang tidak teratur, permintaannya ditolak.

Pengabaian dan penganiayaan medis di penjara-penjara yang dikelola Israel telah terdokumentasi dengan baik, dengan praktik-praktik tersebut dilaporkan semakin intensif sejak peristiwa 7 Oktober 2023.

Pada awal Mei, Komisi Urusan Tahanan Palestina mengatakan para tahanan Palestina yang sakit menghadapi "pengabaian medis yang disengaja dan sistematis," di samping kelaparan dan penyiksaan yang berdampak negatif pada kondisi kesehatan mereka.

Pernyataan itu muncul setelah kematian tahanan berusia 60 tahun, Mohyee al-Din Fahmi Najem, yang menderita penyakit kronis dan tidak mendapatkan perawatan medis yang layak selama masa penahanannya.

Abu Safiya, yang masih berada di sel isolasi di penjara militer Ofer—yang menampung 450 tahanan dari Jalur Gaza—berat badannya tidak lebih dari 60 kilogram, menurut pengacaranya.

Selain itu, Dr. Abu Safiya ditahan di sel bawah tanah yang sepenuhnya terisolasi dan tidak menerima cahaya alami.

"Beliau tidak tahu apa-apa tentang dunia luar, dan beliau masih mengenakan pakaian musim dingin," ujar Kassem.

"Para tahanan di dalam penjara Ofer menghadapi kondisi yang sangat keras dan mengerikan," papar dia.

Pengacara tersebut menjelaskan bagaimana warga Palestina yang dipenjara di sana hanya diperbolehkan makan dua sendok nasi sehari, sementara gula dan garam dilarang sama sekali "untuk mencegah peningkatan hormon kebahagiaan, sekecil apa pun, akibat mengonsumsi gula".

"Ini merupakan tambahan dari penggerebekan sel yang sering terjadi, penyiksaan, dan penggeledahan terus-menerus yang dialami para tahanan," ujar dia.

Kasus penyiksaan dan pengabaian medis terbaru di tahanan Israel melibatkan kematian Samir al-Rifai, 53 tahun, dari Jenin.

Menurut Komisi Urusan Tahanan Palestina, Rifai meninggal tujuh hari setelah penangkapannya, sehingga jumlah korban tewas tahanan Palestina yang telah meninggal di bawah tahanan Israel sejak awal perang genosida di Gaza menjadi 74 orang.

Ayah lima anak ini dilaporkan menderita masalah jantung dan membutuhkan perawatan medis intensif.

Sumber-sumber menyatakan kematiannya disebabkan perlakuan buruk dan kondisi penjara yang parah, meskipun belum ada laporan resmi yang dirilis.

Ketiadaan Hak


Abu Safiya telah dikategorikan sebagai "pejuang ilegal" oleh otoritas Israel, meskipun ia seorang dokter sipil. Klasifikasi ini berarti tidak ada dakwaan resmi terhadapnya.

"Penetapan sebagai kombatan ilegal menjadikan seorang tahanan tanpa hak," ujar Kassem.

"Hukum Israel mencabut hak asasi manusia alami mereka yang memiliki sebutan ini di dalam penjara," papar dia.

Kassem menambahkan otoritas penjara juga menciptakan "hambatan beruntun bagi para pengacara," dengan setiap kunjungan harus dijadwalkan empat bulan sebelumnya.

Bahkan setelah itu, kunjungan tersebut dapat dibatalkan.

Selain itu, perwakilan hukum seringkali harus menunggu lama, dan ketika klien mereka akhirnya dibawa untuk kunjungan, mereka seringkali diserang di jalan sambil merangkak di tanah dengan borgol.

"Wawancara dilakukan di bawah mikroskop, di bawah pengawasan dan pendengaran sipir penjara. Jika sipir penjara merasa bahwa kunjungan tersebut telah meningkatkan moral narapidana, mereka akan menyerangnya sebagai balas dendam," ujar dia.

“Para narapidana juga menjadi sasaran penyiksaan psikologis yang terus-menerus,” ungkap Kassem, termasuk dipaparkan gambar-gambar vulgar dan berita-berita yang menyedihkan serta diberi informasi palsu tentang kematian orang-orang terkasih.

"Pertanyaan pertama yang ditanyakan setiap narapidana kepada saya adalah tentang keluarga mereka dan apakah mereka masih hidup," ujar dia.

Baca juga: Abu Ubaidah: Israel Tolak Kesepakatan Gencatan Senjata untuk Bebaskan Semua Tawanan di Gaza
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
India Tuntut Pertanggungjawaban...
India Tuntut Pertanggungjawaban atas Para Pelaku Pemboman Sekolah
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
PBB Ungkap Israel Bunuh...
PBB Ungkap Israel Bunuh Lebih dari 20.000 Anak Palestina
Kandidat Kuat PM Inggris...
Kandidat Kuat PM Inggris Andy Burnham Dinilai Tidak Berpihak ke Palestina
Menkes Kaji Insentif...
Menkes Kaji Insentif untuk Dokter Umum dan Gigi di Daerah Tertinggal
Gelombang Panas Dahsyat...
Gelombang Panas Dahsyat Landa Eropa, Picu Lebih dari 200 Kematian di Spanyol dan Prancis
Tragis! 3 Anak Meninggal...
Tragis! 3 Anak Meninggal Dunia akibat Suhu Panas Ekstrem di Paris
Rekomendasi
Terancam Mobil China,...
Terancam Mobil China, Honda Justru Buka 4 Dealer Baru di Jateng dan Bali
BSSN, ABI dan PINTU...
BSSN, ABI dan PINTU Perkuat Sinergi Jamin Keamanan Transaksi Digital
Peluang Iran Lolos ke...
Peluang Iran Lolos ke Babak 32 Besar Masih Terbuka, Diprediksi Capai 80 Persen
Berita Terkini
Korut Masih Andalkan...
Korut Masih Andalkan Senjata Besar, Korsel Beralih ke 500.000 Prajurit Drone, Siapa Lebih Unggul?
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Pengadilan Inggris Butuh...
Pengadilan Inggris Butuh 300 Tahun untuk Selesaikan Tumpukan Kasus
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
6 Petani Diculik Tentara...
6 Petani Diculik Tentara Israel di Lebanon Selatan
Infografis
Langgar Gencatan Senjata,...
Langgar Gencatan Senjata, Israel Gelar Serangan Udara di Gaza
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved