Perang Druze dan Arab Badui Pecah di Suriah, 30 Orang Tewas
Senin, 14 Juli 2025 - 17:35 WIB
loading...
Perang antara suku Druze dengan Arab Badui pecah di Suriah. Foto/X/@Antiochian_Rum
A
A
A
DAMASKUS - Lebih dari 30 orang tewas dan hampir 100 lainnya terluka dalam bentrokan antara pejuang suku Badui bersenjata dan milisi Druze di Provinsi Suwayda, Suriah selatan. Itu menjadikan konflik sektarian terus meningkat di Suriah.
Kementerian Dalam Negeri SUriah menyatakan keprihatinan dan kesedihan yang mendalam atas "perkembangan berdarah" yang terjadi antara "kelompok dan suku bersenjata lokal" di lingkungan Al-Maqous, Suwayda, pada Minggu malam.
"Dalam konteks ini, Kementerian Dalam Negeri menegaskan bahwa unit-unit pasukannya, berkoordinasi dengan Kementerian Pertahanan, akan melakukan intervensi langsung di wilayah tersebut untuk menyelesaikan konflik, menghentikan bentrokan, memberlakukan keamanan, mengadili mereka yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut, dan menyerahkan mereka ke pengadilan yang berwenang," tambahnya, dilansir Anadolu.
Menurut kantor berita pemerintah SANA, sejumlah pasukan militer yang dikerahkan di wilayah tersebut juga gugur saat berupaya melindungi penduduk sipil dari kelompok-kelompok terlarang.
Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai jumlah korban yang dilaporkan.
Menteri Dalam Negeri Suriah Anas Khattab menyebut "ketiadaan lembaga negara, terutama lembaga militer dan keamanan" sebagai alasan utama di balik ketegangan yang sedang berlangsung di Provinsi Suwayda di selatan dan wilayah sekitarnya.
Baca Juga: 6 Anak Gaza Tewas Diserang saat Ambil Air, Israel Salahkan Rudalnya Malfungsi
"Tidak ada solusi untuk ini selain memberlakukan (tindakan) keamanan dan mengaktifkan peran lembaga-lembaga tersebut untuk memastikan perdamaian sipil dan kembalinya kehidupan normal secara menyeluruh," kata Khattab di akun X miliknya.
Pada Minggu malam, bentrokan bersenjata pecah antara suku Badui setempat dan milisi Druze di Suwayda, yang mengakibatkan kematian dan cedera warga sipil serta anggota milisi.
Bashar al-Assad, pemimpin Suriah selama hampir 25 tahun, melarikan diri ke Rusia pada bulan Desember, mengakhiri rezim Partai Ba'ath, yang telah berkuasa sejak tahun 1963.
Pemerintahan transisi baru yang dipimpin oleh Presiden Ahmad al-Sharaa dibentuk di Suriah pada bulan Januari.
Kementerian Dalam Negeri SUriah menyatakan keprihatinan dan kesedihan yang mendalam atas "perkembangan berdarah" yang terjadi antara "kelompok dan suku bersenjata lokal" di lingkungan Al-Maqous, Suwayda, pada Minggu malam.
"Dalam konteks ini, Kementerian Dalam Negeri menegaskan bahwa unit-unit pasukannya, berkoordinasi dengan Kementerian Pertahanan, akan melakukan intervensi langsung di wilayah tersebut untuk menyelesaikan konflik, menghentikan bentrokan, memberlakukan keamanan, mengadili mereka yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut, dan menyerahkan mereka ke pengadilan yang berwenang," tambahnya, dilansir Anadolu.
Menurut kantor berita pemerintah SANA, sejumlah pasukan militer yang dikerahkan di wilayah tersebut juga gugur saat berupaya melindungi penduduk sipil dari kelompok-kelompok terlarang.
Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai jumlah korban yang dilaporkan.
Menteri Dalam Negeri Suriah Anas Khattab menyebut "ketiadaan lembaga negara, terutama lembaga militer dan keamanan" sebagai alasan utama di balik ketegangan yang sedang berlangsung di Provinsi Suwayda di selatan dan wilayah sekitarnya.
Baca Juga: 6 Anak Gaza Tewas Diserang saat Ambil Air, Israel Salahkan Rudalnya Malfungsi
"Tidak ada solusi untuk ini selain memberlakukan (tindakan) keamanan dan mengaktifkan peran lembaga-lembaga tersebut untuk memastikan perdamaian sipil dan kembalinya kehidupan normal secara menyeluruh," kata Khattab di akun X miliknya.
Pada Minggu malam, bentrokan bersenjata pecah antara suku Badui setempat dan milisi Druze di Suwayda, yang mengakibatkan kematian dan cedera warga sipil serta anggota milisi.
Bashar al-Assad, pemimpin Suriah selama hampir 25 tahun, melarikan diri ke Rusia pada bulan Desember, mengakhiri rezim Partai Ba'ath, yang telah berkuasa sejak tahun 1963.
Pemerintahan transisi baru yang dipimpin oleh Presiden Ahmad al-Sharaa dibentuk di Suriah pada bulan Januari.
(ahm)
Lihat Juga :