Melawan China, Tetangga Indonesia Borong 33 Jet Tempur F/A-18 AS tapi Bekas Pakai Kuwait

Minggu, 13 Juli 2025 - 08:05 WIB
loading...
Melawan China, Tetangga...
Malaysia diam-diam membeli 33 jet tempur F/A-18 AS, tapi bekas pakai Kuwait, untuk menghadapi China di Laut China Selatan. Foto/Lance Cpl. Ashley E. Santy/Military.com
A A A
KUALA LUMPUR - Amerika Serikat (AS) telah menyetujui pembelian 33 jet tempur F/A-18C/D Hornet oleh Malaysia untuk memperkuat kemampuan udaranya di Laut China Selatan. Ini bagian dari strategi negara tetangga Indonesia tersebut dalam membangun pencegahan secara "diam-diam" sekaligus menjaga hubungan baik dengan China.

Kepala Angkatan Udara Kerajaan Malaysia (RMAF) Jenderal Tan Sri Asghar Khan Goriman Khan mengonfirmasi bahwa Washington telah menyetujui permintaan Malaysia untuk memperoleh hingga 33 jet tempur F/A-18C/D Hornet. Puluhan jet tempur itu bekas pakai dari Kuwait.

Langkah Washington itu, yang membutuhkan persetujuan Kongres berdasarkan Undang-Undang Pengendalian Ekspor Senjata AS, muncul setelah negosiasi bertahun-tahun yang dimulai pada tahun 2017. Wakil Menteri Pertahanan Malaysia Adly Zahari mengatakan kesepakatan tersebut diperkirakan akan selesai tahun ini.

Baca Juga: AS Kerahkan Kapal Induk Nuklir USS Nimitz ke Laut China Selatan, Ini Respons Marah China

Abdul Rahman Yaacob, peneliti di program Asia Tenggara Lowy Institute, mengatakan pembelian jet tempur tersebut akan secara signifikan memperkuat kemampuan pertahanan udara Malaysia.

"Hal ini penting di Malaysia Timur, di mana blok energi Malaysia terletak di Laut China Selatan, dekat Sarawak," kata Rahman, seperti dikutip South China Morning Post, Minggu (13/7/2025).

Menurutnya, jika dikerahkan di Malaysia Timur, jet tempur Hornet akan melengkapi fasilitas Angkatan Laut yang baru dikembangkan di Sarawak dan menunjukkan upaya Kuala Lumpur untuk membangun sistem pencegahan di wilayah yang telah mengalami peningkatan aktivitas China.

Tahun lalu, Angkatan Udara Malaysia mulai memperkuat kemampuan pengawasan udaranya di Malaysia Timur dengan mengerahkan radar AN/TP77 yang dipasok AS dan radar GM400A Prancis. Radar jarak jauh ini memungkinkan Malaysia untuk memantau wilayah udara di atas zona ekonomi eksklusifnya di Laut China Selatan.

Rahman mengatakan Washington juga diharapkan memberikan dukungan untuk memastikan pesawat bekas pakai Kuwait itu selalu mutakhir dan untuk memperkuat kesadaran domain maritim negara Asia Tenggara tersebut.

“Proyek-proyek ini mencerminkan kemitraan pertahanan AS-Malaysia yang erat, yang umumnya tidak banyak diketahui publik. Hal ini juga mencerminkan kebijakan pemerintah Malaysia untuk melibatkan China secara positif sambil diam-diam membangun kemampuan pertahanan Malaysia,” imbuh Rahman.

Armada Angkatan Udara Malaysia saat ini tidak memadai untuk mencakup Semenanjung Malaysia dan Malaysia Timur, kata Rahman, seraya mencatat bahwa pada tahun 2021 negara tersebut hanya dapat mengirimkan pesawat Hawk tua untuk menghalau pesawat tempur China yang terlihat terbang menuju wilayah udara Malaysia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
Dosen Ini Donorkan Organnya...
Dosen Ini Donorkan Organnya untuk Selamatkan 5 Orang, Staf RS Berbaris Beri Penghormatan Terakhir
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Umumkan Pengunduran Diri
Iran: Israel Ingin Sabotase...
Iran: Israel Ingin Sabotase Perjanjian Damai Iran-AS
Rekomendasi
Membangun Revolusi Pembiayaan...
Membangun Revolusi Pembiayaan Sosial Nasional Tanpa Membebani APBN
Haul Akbar Ploso, Gus...
Haul Akbar Ploso, Gus Muhaimin: Jangan Hanya Menonton, Santri Harus Jadi Solusi Bangsa
Ferdinand: Pernyataan...
Ferdinand: Pernyataan Tiyo Soal Teror Alat Penyadap Masuk Kategori Penyebaran Hoaks
Berita Terkini
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Awas, AI dalam Beberapa...
Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
Infografis
Krisis Kepercayaan pada...
Krisis Kepercayaan pada F-35 Dorong Eropa Kembangkan Jet Tempur Gen 6
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved