Ekspansi Tambang Mineral Tanah Langka China Timbulkan Kerusakan dari Myanmar hingga Afrika

Jum'at, 27 Juni 2025 - 10:44 WIB
loading...
Ekspansi Tambang Mineral...
Ekspansi tambang mineral tanah langka China timbulkan kerusakan lingkungan di Myanmar. Potret serupa juga terjadi di negara-negara Afrika. Foto/Global Witness
A A A
JAKARTA - Citra satelit menunjukkan perubahan drastis di wilayah Utara Tentara Negara Bagian Wa (United Wa State Army/UWSA) di Myanmar. Pada tahun 2015, hanya terdapat tiga lokasi penambangan rare earth (mineral tanah langka) di daerah Mong Bawk dekat perbatasan Shan State-China.

Namun hingga Februari 2025, jumlah tersebut meningkat menjadi 26 lokasi—kenaikan delapan kali lipat yang menandai percepatan ekstraksi mineral kritis oleh China di kawasan tersebut.

Mengutip dari PML Daily, Jumat (27/6/2025), operasi tambang ini menggunakan metode in situ leaching, yaitu teknik dengan cara memompa larutan kimia langsung ke lereng bukit untuk mengekstraksi unsur rare earth.

Bahan kimia tersebut melarutkan mineral, yang kemudian dialirkan ke kolam pemrosesan, di mana unsur-unsur bernilai ekonomis dipisahkan dengan tambahan bahan kimia lainnya. Metode ini meninggalkan kontaminasi lingkungan yang signifikan.

Baca Juga: China Diduga Berupaya Bungkam Kritik atas Kerusakan Lingkungan di Tibet

Letak tambang-tambang ini menyebabkan pencemaran air yang meluas. Salah satu fasilitas tambang hanya berjarak tiga kilometer di selatan kota Mong Bawk, tepat di samping aliran sungai Pai yang melewati lahan pertanian dan pemukiman warga.

Lokasi tambang-tambang tersebut membentang di dua wilayah aliran sungai besar—air mengalir ke barat menuju Sungai Kha yang bermuara ke Salween, atau ke timur menuju Sungai Lwe yang berakhir di Mekong di perbatasan Shan State-Laos.

Kontaminasi dari operasi ini mempengaruhi masyarakat di seluruh daerah aliran sungai tersebut. Bukti pencemaran ini terlihat jelas saat topan Yagi melanda pada September 2024.

Kota Mong Bawk mengalami banjir parah yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan ketinggian air mencapai sekitar satu meter dan diduga mengandung zat-zat berbahaya dari tambang. Air tersebut bertahan selama tiga hari. Warga setempat menyatakan mereka belum pernah melihat banjir seburuk ini sebelumnya dari pegunungan sekitarnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Dari Infrastruktur ke...
Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Australia Beri Peringatan:...
Australia Beri Peringatan: El Nino Kali Ini Akan Jadi yang Terkuat dalam Tujuh Dekade
Spesifikasi Pesawat...
Spesifikasi Pesawat Pengebom B-52 AS yang Jatuh Tak Berbekas, Dijuluki Bongsor Jelek dan Gendut
Rekomendasi
Pesan Said Didu untuk...
Pesan Said Didu untuk Prabowo: Waktu Melakukan Akomodasi Politik Sudah Lewat
Said Didu: Jangan Juga...
Said Didu: Jangan Juga Semua Orang Kritis Ditakut-takuti
Kylian Mbappe Cetak...
Kylian Mbappe Cetak 2 Rekor Bersejarah di Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Kenapa Perdamaian Iran...
Kenapa Perdamaian Iran Tak Semudah Membalikkan Telapak Tangan?
Selat Hormuz Tak Akan...
Selat Hormuz Tak Akan Lagi seperti Dulu, Ini 3 Alasannya
Trump Tegaskan Tanpa...
Trump Tegaskan Tanpa AS, Tidak akan Ada Israel, Netanyahu Harus Lebih Tanggung Jawab
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN...
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN dan Perundingan Bilateral di Sela-selanya
Pengaktifan Kembali...
Pengaktifan Kembali Transit Lewat Selat Hormuz Mungkin Perlu Waktu Beberapa Pekan
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Infografis
5 Fakta Jeffrey Epstein:...
5 Fakta Jeffrey Epstein: dari Guru Tanpa Ijazah hingga Dugaan Agen Mossad
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved