Ekspansi Tambang Mineral Tanah Langka China Timbulkan Kerusakan dari Myanmar hingga Afrika

Jum'at, 27 Juni 2025 - 10:44 WIB
loading...
A A A
Penguasaan UWSA atas wilayah Mong Bawk memungkinkan perusahaan China menambang tanpa tunduk pada regulasi lingkungan Myanmar. Di negara-negara Afrika, lemahnya institusi dan korupsi sering kali menghambat pengawasan dan penegakan standar lingkungan.

Penelitian menunjukkan bahwa kedekatan dengan tambang yang dikuasai China di Afrika tidak berdampak positif terhadap penurunan angka pengangguran lokal. Sebaliknya, tambang non-China cenderung dikaitkan dengan peningkatan kesempatan kerja di daerah sekitarnya. Ini menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi tidak disertai manfaat ekonomi yang sepadan bagi masyarakat lokal.

Skala ekstraksi terus meningkat. Myanmar mengekspor lebih dari 140.000 ton cadangan rare earth ke China senilai lebih dari USD 1 miliar antara Mei 2017 hingga Oktober 2021. Pada 2019 saja, ekspor mineral dari Sub-Sahara Afrika ke China mencapai USD 10 miliar. Angka-angka ini mencerminkan skala besar ekstraksi yang mendorong kerusakan lingkungan di berbagai wilayah.

Meluasnya Kerusakan Lingkungan


Mineral yang diekstraksi melalui metode merusak ini memasok industri teknologi dan energi terbarukan dunia. Unsur rare earth dari Myanmar digunakan dalam turbin angin, kendaraan listrik, hingga ponsel pintar. Kobalt dari Kongo menjadi bahan utama baterai untuk elektronik dan kendaraan listrik.

Rantai pasok teknologi hijau sangat bergantung pada metode ekstraksi yang menyebabkan kerusakan lingkungan parah di negara-negara sumbernya. Komunitas lokal menanggung dampak jangka panjang dari ekstraksi ini. Di Mong Bawk, warga tidak lagi bisa menggunakan air dari aliran sungai yang tercemar secara aman.

Rekaman video dari para pekerja tambang lokal menunjukkan proses kimia skala besar yang memastikan sumber air ini akan tetap tercemar selama bertahun-tahun. Di Afrika, lokasi tambang yang ditinggalkan terus menjadi sumber bahaya meski perusahaan telah lama pergi dengan membawa keuntungan.

Dari 26 tambang di Mong Bawk hingga ribuan tambang di Kachin, dari tambang kobalt di Kongo hingga tambang litium di Zimbabwe, operasi tambang China mengedepankan ekstraksi mineral di atas perlindungan lingkungan. Seiring meningkatnya permintaan global atas mineral ini, kerusakan lingkungan diperkirakan akan terus meluas—kecuali terjadi perubahan signifikan dalam praktik tambang dan pengawasan yang lebih ketat.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Petani dan Pelaku UMKM...
Petani dan Pelaku UMKM Sumut, Riau, hingga Aceh Kirim Hasil Kerajinan Lidi ke China
Skandal Kerajaan, Putra...
Skandal Kerajaan, Putra dari Putri Mahkota Norwegia Divonis Penjara atas Tuduhan Pemerkosaan
Acuhkan Trump, Israel...
Acuhkan Trump, Israel Tolak Tinggalkan Lebanon meski AS-Iran Berdamai
Rekomendasi
Cedera Patah Kaki di...
Cedera Patah Kaki di Piala Dunia 2026, Ismael Kone Terancam Absen Setahun
Prabowo Panggil John...
Prabowo Panggil John Herdman ke Hambalang, Bahas Roadmap Timnas Indonesia Menuju Piala Dunia 2030
Polda Metro: Barang...
Polda Metro: Barang Bukti Kasus Roy Suryo Sudah Diuji Lab oleh Lembaga Tersertifikasi
Berita Terkini
Langkah Mengejutkan,...
Langkah Mengejutkan, Partai Komunis Kuba Bersedia Buka Ekonomi Menuju Pasar Bebas
Netanyahu Keras Kepala,...
Netanyahu Keras Kepala, Israel Tak akan Mundur dari Lebanon Selatan
Hizbullah Peringatkan...
Hizbullah Peringatkan Israel Punya Waktu 60 hari untuk Mundur dari Lebanon
Swiss Ungkap Perundingan...
Swiss Ungkap Perundingan AS-Iran Tidak Jadi Digelar, Wapres Vance Batalkan Perjalanan
Jurnalis AS: Trump Tak...
Jurnalis AS: Trump Tak Konsultasi dengan Israel soal Iran untuk Lemahkan Posisi Netanyahu
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Infografis
10 Negara yang Paling...
10 Negara yang Paling Tidak Dikenal, dari Nauru hingga Tuvalu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved