Serangan Racun Navalny, Merkel Siap Pimpin Eropa Mensanksi Rusia

Selasa, 08 September 2020 - 23:27 WIB
loading...
Serangan Racun Navalny,...
Kanselir Jerman Angela Merkel. Foto/The Straits Times
A A A
BERLIN - Kanselir Jerman Angela Merkel bermaksud untuk mengoordinasikan tindakan apa pun terhadap Rusia atas serangan racun terhadap pemimpin oposisi Alexey Navalny dengan mitra Eropanya, mengesampingkan tanggapan sepihak.

Merkel membuat komentar itu pada pertemuan tertutup kaukus parlemen yang dipimpin Demokrat Kristen di Berlin, menurut seorang pejabat yang meminta untuk tidak disebutkan namanya sejalan dengan aturan pengarahan. Dia menekankan bahwa serangan racun terhadap Navalny tidak ditujukan ke Jerman dan oleh karena itu menjadi masalah bagi seluruh Uni Eropa.

Ketika kejengkelan terhadap pemerintahan Presiden Rusia Vladimir Putin mencapai batasnya di Berlin, Merkel memutuskan dengan posisinya sebelumnya minggu ini dan membuka pintu untuk kemungkinan tindakan terhadap pipa gas Nord Stream 2. Ini adalah sebuah perubahan sikap yang drastis setelah sebelumnya menyerukan agar proyek pipa gas tersebut diselesaikan dan diperlakukan secara terpisah dari kasus Navalny.

"Dalam pertemuan tersebut, dia mengindikasikan bahwa dia belum membuat keputusan akhir tentang apakah pipa Laut Baltik yang kontroversial dari Rusia akan terpengaruh oleh tindakan apa pun terhadap Moskow," kata pejabat itu seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (8/9/2020).(Baca juga: Jerman Ancam Jatuhkan Sanksi pada Rusia Terkait dengan Navalny )

Pemikiran Merkel bergeser setelah spesialis militer Jerman memutuskan minggu lalu bahwa Navalny telah diracuni oleh Novichok, racun saraf yang dikembangkan Rusia.

"Navalny telah diracuni, ini jelas jelas - dan ini adalah sesuatu yang tidak akan kami terima," kata Wakil Kanselir Olaf Scholz.

“Itu bertentangan dengan semua gagasan hukum yang kami miliki,” imbuhnya.

Scholz, menteri keuangan Jerman, mengulangi komentar Merkel, mengatakan bahwa Jerman akan bekerja dengan mitra Uni Eropa (UE) dan NATO untuk mengembangkan tanggapan terhadap Moskow - dan menolak untuk mengatakan apakah dia mendukung proyek pipa tersebut.

Navalny, seorang politisi dan penyelidik korupsi yang merupakan salah satu pengkritik paling vokal Presiden Rusia Vladimir Putin, jatuh sakit dalam penerbangan kembali ke Moskow dari Siberia pada 20 Agustus. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit di kota Omsk di Siberia setelah pesawat melakukan pendaratan darurat.

Para pendukung Navalny di Rusia bersikeras dia sengaja diracuni oleh otoritas negara, tuduhan yang ditolak Kremlin sebagai "omong kosong".

Dia kemudian dipindahkan ke rumah sakit Charite Berlin, di mana minggu lalu dokter mengatakan ada indikasi bahwa dia telah diracuni.

Pemerintah Jerman mengatakan bahwa ahli toksikologi militer Jerman telah menemukan bahwa Navalny telah terkena racun saraf Novichok. Berlin lantas menuntut Moskow untuk mengklarifikasi insiden tersebut.

Para dokter Rusia yang merawat Navalny di Siberia telah berulang kali membantah kesimpulan rumah sakit Jerman tersebut. Mereka mengatakan bahwa telah mengesampingkan serangan racun sebagai diagnosis dan bahwa tes mereka untuk zat beracun ternyata negatif.

Novichok, racun saraf era Soviet, sempat mencuri perhatian setelah digunakan untuk meracuni mantan mata-mata Rusia Sergei Skripal dan putrinya di Inggris. Racin ini adalah penghambat kolinesterase, bagian dari kelas zat yang awalnya diidentifikasi oleh dokter di Charite terhadap Navalny. (Baca juga: Dokter Rusia Ajak Jerman Bentuk Tim Gabungan Selidiki Kasus Navalny )
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
1.300 Orang Tewas Akibat...
1.300 Orang Tewas Akibat Gelombang Panas di Eropa
Langka, Putin Akui Rusia...
Langka, Putin Akui Rusia Krisis Bahan Bakar akibat Serangan Ukraina
Putin: Barat Coba Kacaukan...
Putin: Barat Coba Kacaukan Rusia karena Tak Mampu Mengalahkannya di Medan Perang
Inggris Sekarang Tanpa...
Inggris Sekarang Tanpa Kapal Selam Serang Nuklir Aktif, Jadi Tak Berdaya Melawan Rusia
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Update Korban Gempa...
Update Korban Gempa Venezuela: 235 Orang Tewas dan 70.000 Keluarga Terdampak
Duh, AS-Iran Saling...
Duh, AS-Iran Saling Serang Lagi Gara-Gara Salah Menafsirkan MoU Perjanjian Damai
Rekomendasi
Keamanan Aset Kripto...
Keamanan Aset Kripto Bukan Hanya soal Teknologi, tetapi Kesadaran Pengguna
Kawal Kedaulatan Energi...
Kawal Kedaulatan Energi di Jatim, Komut Pertamina Mochamad Iriawan Cek Kesiapan SAF hingga B50
Mahasiswa ITS Kembangkan...
Mahasiswa ITS Kembangkan Nanopestisida yang Tahan Hujan dan Paparan Sinar UV
Berita Terkini
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Infografis
5 Rudal Paling Mematikan...
5 Rudal Paling Mematikan di Dunia, Satan II Rusia Bisa Hancurkan Banyak Kota Sekaligus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved