Dari Sudan hingga Kenya: Jejak Senyap Militer Swasta China

Minggu, 22 Juni 2025 - 12:02 WIB
loading...
Dari Sudan hingga Kenya:...
Riset ORCA ungkap kehadiran militer swasta China di negara-negara Afrika, termasuk Sudan dan Kenya. Foto/The Jamestown Foundation
A A A
JAKARTA - Dalam beberapa tahun terakhir, kemunculan perusahaan militer swasta (private military companies/PMCs) secara global telah mengaburkan batas antara kepentingan negara dan korporasi. Jika perhatian dunia selama ini tertuju pada perusahaan-perusahaan Barat seperti Blackwater atau Grup Wagner dari Rusia, maka kemunculan PMCs China yang cepat dan senyap di Afrika dan sebagian Asia nyaris luput dari sorotan.

Dengan embel-embel sebagai pelindung aset-aset Belt and Road Initiative (BRI) atau sekadar penyedia "logistik keamanan", PMCs China semakin terlibat dalam dinamika politik domestik negara-negara berkembang. Operasi mereka tidak netral; keberadaan mereka berjalan seiring dengan visi geopolitik Beijing.

Menurut Ratish Mehta, peneliti di Organisation for Research on China and Asia (ORCA), kehadiran PMCs China merupakan ancaman yang unik dan belum banyak diakui. Dia menyebut keberadaan mereka sebagai bentuk intervensi terselubung yang memperkuat pemerintahan otoriter, menekan perbedaan pendapat, dan membuat negara tuan rumah semakin bergantung pada negara China.

Baca Juga: Kematian Mendadak Jenderal Xu Qiliang Soroti Isu Internal Militer China

Dari Perlindungan ke Intervensi: Jangkauan Politik PMCs China


Mehta menyebut perusahaan seperti Frontier Services Group (FSG), DeWe Security, dan Haiwei Security kerap menyamarkan diri sebagai unit logistik atau perlindungan yang bertugas mengamankan proyek-proyek infrastruktur di wilayah rawan konflik. Namun dalam praktiknya, peran mereka sering kali melebar ke wilayah politik. Di Sudan Selatan misalnya, di mana perusahaan minyak milik negara China, CNPC, memiliki kepentingan besar, PMCs China menjalankan fungsi yang lebih dari sekadar penjaga pasif.

Ketika konflik kembali pecah pada 2018, kontraktor keamanan ini dikerahkan di sekitar ladang minyak dan bekerja sama erat dengan milisi yang berpihak pada pemerintah serta berbagi intelijen. Hal ini menjadikan mereka sebagai kekuatan pendukung salah satu faksi dalam perang sipil.

"Kehadiran mereka mengubah dinamika konflik, meningkatkan kapabilitas militer pemerintah, sekaligus melindungi kepentingan ekonomi China. Meski tak ada pengerahan militer resmi dari China, secara de facto mereka telah campur tangan melalui agen-agen kuasi-negara ini," kata Mehta, dikutip dari PML Daily, Minggu (22/6/2025).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Langka, Kapal Perang...
Langka, Kapal Perang China Latihan Tembak di Dalam ZEE Jepang
China Perluas Pengaruh...
China Perluas Pengaruh di Kirgizstan, Warga Khawatir soal Kedaulatan
Filipina dan China Bentrok,...
Filipina dan China Bentrok, 1 Tentara Terluka
Satria Kumbara, Eks...
Satria Kumbara, Eks Marinir TNI AL yang Jadi Tentara Bayaran Rusia, Dikabarkan Tewas
China Sangkal Tudingan...
China Sangkal Tudingan Trump tentang Campur Tangan Pemilu AS
China Ungguli AS dalam...
China Ungguli AS dalam Popularitas Global, Xi Jinping Dianggap Lebih Positif daripada Trump
Mengancam Bumi, China...
Mengancam Bumi, China Siap Pindahkan Asteroid 2015 XF261
Perang di Iran Telah...
Perang di Iran Telah Telan Biaya Rp671 Triliun, Menhan AS Minta Dana Tambahan
Harga Minyak Dunia Mendidih...
Harga Minyak Dunia Mendidih usai Trump Ancam Bombardir Infrastruktur Iran
Rekomendasi
Ada Perusahaan Menolak...
Ada Perusahaan Menolak Didata Sensus Ekonomi 2026, Siap-siap! Dibina Kemenperin
Kapolri Bertemu Direktur...
Kapolri Bertemu Direktur FBI, Bahas Penguatan Kerja Sama Kejahatan Transnasional
Prabowonomics Jadi Tema...
Prabowonomics Jadi Tema Harlah ke-28 PKB, Cak Imin Beri Penjelasan
Berita Terkini
Pemimpin Baru Hamas...
Pemimpin Baru Hamas Ungkap 6 Prioritas, Agenda Utama Akhiri Serangan Israel di Gaza
Selamat dari Serangan...
Selamat dari Serangan di Selat Hormuz, 3 Pelaut Thailand Gugat Pemilik Kapal
IRGC pada Warga Kuwait:...
IRGC pada Warga Kuwait: Amerika Serikat, Bukan Iran, yang Langgar Kedaulatan Anda
AS Terus Serang Iran...
AS Terus Serang Iran tapi Malah Ketakutan, Peringatkan Warganya di Seluruh Dunia
Menlu Rubio Klaim Iran...
Menlu Rubio Klaim Iran Memohon Kesepakatan dengan AS, Ancam 1 Kepala untuk 1 Mata
Lebih dari 2.300 Pemukim...
Lebih dari 2.300 Pemukim Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa, Hamas dan Yordania Murka
Infografis
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved