Makin Mencekam, Wali Kota Los Angeles Terapkan Jam Malam usai Kerusuhan Imigrasi Trump

Rabu, 11 Juni 2025 - 10:58 WIB
loading...
Makin Mencekam, Wali...
Demonstran menentang kebijakan keras imigrasi Presiden AS Donald Trump di Los Angeles, California. Foto/aljazeera
A A A
LOS ANGELES - Wali Kota Los Angeles Karen Bass mengumumkan jam malam untuk sebagian kota terbesar kedua di Amerika Serikat (AS) di tengah protes terhadap tindakan keras imigrasi Presiden Donald Trump. Jam malam berlaku untuk 1 mil persegi (2,6 km persegi) di area pusat kota.

“Jam malam itu berlaku mulai pukul 8 malam pada hari Selasa (10/6/2025) hingga pukul 6 pagi pada hari Rabu (03:00 GMT hingga 13:00 GMT Rabu),” ungkap Bass.

"Banyak bisnis kini telah terpengaruh atau dirusak. Tadi malam, ada 23 bisnis yang dijarah, dan saya pikir jika Anda berkendara melalui pusat kota LA, grafiti ada di mana-mana dan telah menyebabkan kerusakan signifikan pada bisnis dan sejumlah properti," ujar Bass dalam konferensi pers.

Dia menjelaskan, "Jadi pesan saya kepada Anda adalah: Jika Anda tidak tinggal atau bekerja di pusat kota LA, hindari area tersebut. Penegak hukum akan menangkap individu yang melanggar jam malam dan Anda akan dituntut."

Bass mengatakan dia memperkirakan jam malam akan tetap berlaku selama beberapa hari, tetapi menekankan perintah tersebut hanya berlaku untuk sebagian kecil kota, yang mencakup 502 mil persegi (1.300 km persegi).

"Saya pikir penting untuk menunjukkan hal ini, bukan untuk meremehkan vandalisme dan kekerasan yang telah terjadi di sana – itu signifikan – karena sangat penting untuk mengetahui apa yang terjadi di 1 mil persegi ini tidak memengaruhi kota," papar Bass.

Dia menjelaskan, "Beberapa gambaran protes dan kekerasan memberikan kesan ini adalah krisis di seluruh kota, dan sebenarnya tidak."

Perintah Bass muncul saat protes terhadap penggerebekan pemerintahan Trump terhadap tersangka migran tidak berdokumen memasuki malam kelima di Los Angeles, dan saat demonstrasi menyebar ke puluhan kota AS lainnya, termasuk New York, Chicago, dan Atlanta.

Tindakan keras Trump terhadap imigrasi dan pengerahan Garda Nasional dan Marinir terhadap pengunjuk rasa telah menuai kecaman dari para pejabat California, yang menuduh presiden menyalahgunakan wewenangnya dan mengobarkan ketegangan.

Dalam pidatonya kepada warga California pada Selasa malam, Gubernur California Gavin Newsom mengecam penggunaan kekuatan militer oleh Trump sebagai "penyalahgunaan kekuasaan yang terang-terangan".

"Saat itulah spiral kemerosotan dimulai. Ia menggandakan pengerahan Garda Nasional yang berbahaya dengan mengipasi api lebih keras, dan presiden - ia melakukannya dengan sengaja," tegas Newsom.

Newsom, yang telah mengajukan gugatan terhadap pengerahan pasukan oleh pemerintahan Trump yang bertentangan dengan keinginannya, mengatakan presiden telah melepaskan "jaring militer" yang menyasar "tukang cuci piring, tukang kebun, buruh harian, dan penjahit" alih-alih penjahat yang kejam.

"Itu hanyalah kelemahan-kelemahan yang menyamar sebagai kekuatan. Pemerintah Donald Trump tidak melindungi masyarakat kita, mereka membuat masyarakat trauma, dan tampaknya itulah intinya," ungkap Newsom. "California akan terus berjuang."

"Jika beberapa dari kita dapat diculik dari jalan tanpa surat perintah, hanya berdasarkan kecurigaan atau warna kulit, maka tidak seorang pun dari kita yang aman," papar dia.

Dia menjelaskan, “Rezim otoriter mulai dengan menyasar orang-orang yang paling tidak mampu membela diri. Namun, mereka tidak berhenti di situ.”

Melaporkan dari acara peringatan terhadap penggerebekan di Los Angeles, Teresa Bo dari Al Jazeera mengatakan para pengunjuk rasa menolak pernyataan pemerintahan Trump bahwa penggerebekan tersebut ditujukan kepada penjahat yang kejam.

“Banyak orang yang kami ajak bicara di sini mengatakan mereka salah, bahwa mereka adalah pekerja yang datang ke negara ini untuk mencari kehidupan yang lebih baik,” ujar Bo.

Dia menegaskan, “Itulah sebabnya sebagian besar orang yang ada di sini sangat marah, dan mereka menuntut diakhirinya penggerebekan.”

Bo mengatakan para aktivis yang diajak bicara juga menekankan perlunya menjaga demonstrasi tetap damai.

“Ini adalah sesuatu yang telah kami dengar berulang kali,” ungkap dia.

“Mereka mengatakan alasan utama mereka perlu bersikap damai adalah karena kekerasan memberi Donald Trump alasan untuk menggunakan militer, untuk menggunakan Garda Nasional di jalan-jalan Los Angeles,” ungkap dia.

Sebelumnya pada hari Selasa, Trump menegaskan kembali keputusannya memobilisasi pasukan melawan para pengunjuk rasa di tengah meningkatnya kecaman.

“Generasi pahlawan militer tidak menumpahkan darah mereka di pantai yang jauh hanya untuk menyaksikan negara kita dihancurkan oleh invasi dan pelanggaran hukum dunia ketiga di sini, di dalam negeri, seperti yang terjadi di California,” ujar Trump kepada para prajurit Angkatan Darat AS saat berkunjung ke Fort Bragg di North Carolina.

“Sebagai panglima tertinggi, saya tidak akan membiarkan itu terjadi. Itu tidak akan pernah terjadi,” pungkas dia.

Baca juga: Sejumlah Toko dan Restoran Dijarah saat Kerusuhan Los Angeles, 500 Marinir AS Berjaga
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Siapkan Kemenangan pada...
Siapkan Kemenangan pada Pemilu Pertengahan, Trump Gelar Konvensi Partai Republik
Mahkamah Agung Batalkan...
Mahkamah Agung Batalkan Perintah Kewarganegaraan Berdasarkan Kelahiran Trump
Dewan Perdamaian Ungkap...
Dewan Perdamaian Ungkap Kendaraan Taktis Pertama Tiba di Pangkalan Multinasional Dekat Gaza
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Donald Trump Raup Rp25...
Donald Trump Raup Rp25 Triliun dari Bisnis Kripto, Lampaui Pendapatan Properti yang Dibangun Puluhan Tahun
WHO: Gelombang Panas...
WHO: Gelombang Panas Eropa Sebabkan 1.300 Kematian, Terbanyak di Prancis
Mantan Kepala Staf IDF...
Mantan Kepala Staf IDF Ini Siap "Gulingkan" Netanyahu sebagai PM Israel
Rekomendasi
IHSG Balik Melawan,...
IHSG Balik Melawan, Hari Ini Ditutup Menghijau Sentuh Level 5.695
Presiden Belarus Lukashenko...
Presiden Belarus Lukashenko Tiba di Jakarta, Bertemu Prabowo Besok
MNC University Gelar...
MNC University Gelar Seminar The Future of Jakarta: JAKI Smart City Innovation & Digital Public Service, Kupas Inovasi Layanan Publik Digital
Berita Terkini
Jalanan di Inggris Meleleh...
Jalanan di Inggris Meleleh pada Suhu 45 Derajat Celsius, Ini 3 Alasannya
Paksa Rusia Mengakhiri...
Paksa Rusia Mengakhiri Perang, Ukraina Intensifkan Serangan Drone ke Moskow
Siapkan Kemenangan pada...
Siapkan Kemenangan pada Pemilu Pertengahan, Trump Gelar Konvensi Partai Republik
Dunia Fokus ke Iran,...
Dunia Fokus ke Iran, Israel Justru Percepat Perebutan Lahan di Gaza dan Tepi Barat
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Rakyat UEA Menikmati Jaringan Kereta Api
Kesepakatan MiG untuk...
Kesepakatan MiG untuk Drone antara Polandia dan Drone Ukraina Batal, Ini Pemicu Utamanya
Infografis
Kebakaran Baru di Los...
Kebakaran Baru di Los Angeles, Trump Justru Ancam Hentikan Bantuan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved