Perekonomian China dalam Pusaran Krisis Terbesar sejak Dua Dekade Terakhir
Senin, 02 Juni 2025 - 10:44 WIB
loading...
A
A
A
Pemerintah daerah kini dibebani utang sebesar 94 triliun Yuan, dengan 35 triliun tergolong berisiko tinggi dan 59 triliun tersembunyi dalam pembiayaan bayangan. Krisis utang ini mengancam investasi publik, kestabilan perbankan, serta perlindungan jaminan sosial.
Baca Juga: Profil Xi Mingze: Jejak Senyap Putri Tunggal Presiden China dari Harvard hingga Balik Tembok Kekuasaan
Penjualan ritel tumbuh 4,6% hingga 6%, namun jika disesuaikan dengan inflasi, pertumbuhan riil jauh lebih rendah. Meski terdapat 3,1 miliar perjalanan selama libur Mayday, pengeluaran per hari per individu hanya sekitar 100 Yuan (Rp220.000). Biaya hidup yang tinggi—dari perumahan, pendidikan hingga kesehatan—serta ketidakpastian pekerjaan menekan konsumsi.
Fenomena “Lying Flat,” di mana generasi muda menolak sistem kerja konvensional, semakin menurunkan belanja konsumen. Pemotongan suku bunga pun dinilai tak efektif merangsang permintaan.
Laporan juga menyoroti kelemahan mendasar pada sektor perbankan kecil dan menengah. Sejak 2024, sekitar 200 bank pedesaan ditutup karena ketidakstabilan keuangan. Sebanyak 357 bank kini dikategorikan berisiko tinggi, terutama di wilayah timur laut, Henan, dan Gansu.
Pemerintah tengah bersiap menghadapi kemungkinan kegagalan perbankan, memunculkan perbandingan dengan krisis keuangan AS 2008. Namun, tingginya utang membatasi kemampuan China untuk menerapkan langkah pemulihan yang efektif.
Ekspor China tumbuh 6,9% pada kuartal pertama, namun sebagian besar karena aksi "kejar tarif.” Impor turun 6%, mencerminkan lemahnya permintaan domestik. Tarif dari AS menyebabkan ekspor menyusut 21%, sementara Vietnam dan Korea Selatan menerapkan tarif antidumping.
Investasi asing kabur, dan investasi perusahaan China di luar negeri melonjak 20% menjadi 345,7 miliar Yuan (sekitar Rp48 triliun), memperburuk kehilangan lapangan kerja, pendapatan pajak, dan deindustrialisasi.
Baca Juga: Profil Xi Mingze: Jejak Senyap Putri Tunggal Presiden China dari Harvard hingga Balik Tembok Kekuasaan
Penjualan ritel tumbuh 4,6% hingga 6%, namun jika disesuaikan dengan inflasi, pertumbuhan riil jauh lebih rendah. Meski terdapat 3,1 miliar perjalanan selama libur Mayday, pengeluaran per hari per individu hanya sekitar 100 Yuan (Rp220.000). Biaya hidup yang tinggi—dari perumahan, pendidikan hingga kesehatan—serta ketidakpastian pekerjaan menekan konsumsi.
Fenomena “Lying Flat,” di mana generasi muda menolak sistem kerja konvensional, semakin menurunkan belanja konsumen. Pemotongan suku bunga pun dinilai tak efektif merangsang permintaan.
Laporan juga menyoroti kelemahan mendasar pada sektor perbankan kecil dan menengah. Sejak 2024, sekitar 200 bank pedesaan ditutup karena ketidakstabilan keuangan. Sebanyak 357 bank kini dikategorikan berisiko tinggi, terutama di wilayah timur laut, Henan, dan Gansu.
Pemerintah tengah bersiap menghadapi kemungkinan kegagalan perbankan, memunculkan perbandingan dengan krisis keuangan AS 2008. Namun, tingginya utang membatasi kemampuan China untuk menerapkan langkah pemulihan yang efektif.
Masalah Pengangguran
Ekspor China tumbuh 6,9% pada kuartal pertama, namun sebagian besar karena aksi "kejar tarif.” Impor turun 6%, mencerminkan lemahnya permintaan domestik. Tarif dari AS menyebabkan ekspor menyusut 21%, sementara Vietnam dan Korea Selatan menerapkan tarif antidumping.
Investasi asing kabur, dan investasi perusahaan China di luar negeri melonjak 20% menjadi 345,7 miliar Yuan (sekitar Rp48 triliun), memperburuk kehilangan lapangan kerja, pendapatan pajak, dan deindustrialisasi.
Lihat Juga :