Profil Xi Mingze: Jejak Senyap Putri Tunggal Presiden China dari Harvard hingga Balik Tembok Kekuasaan

Jum'at, 30 Mei 2025 - 14:33 WIB
loading...
Profil Xi Mingze: Jejak...
Presiden China Xi Jinping (kanan) dan putri tunggalnya, Xi Mingze. Foto/Zee News
A A A
JAKARTA - Di balik tirai kekuasaan China yang tebal, terdapat sosok Xi Mingze, putri tunggal Presiden Xi Jinping dan penyanyi kenamaan Peng Liyuan. Perempuan muda misterius tersebut sedang jadi pemberitaan media internasional karena pernah kuliah di Universitas Harvard dan diburu pendukung Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Profil Xi Mingze


Lahir pada 25 Juni 1992 di Fuzhou, Fujian, China, Xi Mingze tumbuh dalam lingkungan yang sangat tertutup dari sorotan publik. Namun, jejak pendidikannya hingga ke Universitas Harvard dan kehidupannya yang penuh misteri menarik perhatian dunia.

Sejak kecil, Xi Mingze dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan menjauh dari perhatian media. Dia menempuh pendidikan di Beijing Jingshan School dan Hangzhou Foreign Language School, di mana dia belajar bahasa Prancis.

Baca Juga: AS Akan Mulai Cabut Visa Mahasiswa China, Pendukung Trump Desak Putri Xi Jinping Diusir

Setelah lulus, dia melanjutkan studi di Universitas Zhejiang selama satu tahun sebelum akhirnya diterima di Universitas Harvard, AS, pada tahun 2010.

Di Universitas Harvard, Xi Mingze mengambil jurusan psikologi dan lulus dengan gelar Bachelor of Arts (BA) pada tahun 2014.

Yang mengejutkan, selama masa studinya di Harvard, dia menggunakan nama samaran untuk menjaga privasinya dan menjalani kehidupan kampus yang sederhana serta fokus pada akademik. Hanya segelintir orang yang mengetahui identitas aslinya selama di sana.

Menurut China Times, dia dijuluki "Xiao Muzi" oleh kakeknya—revolusioner Komunis dan mantan pejabat negara Xi Zhongxun.

"Dia menunjuknya sebagai sosok polos dan sopan yang berguna bagi masyarakat," tulis media China tersebut.

"Dia terkenal sebagai gadis yang sederhana dan suka bergaul, membaca dan fashion di antara hobinya," demikian profil singkat Xi Mingze tahun 2012 yang ditulis surat kabar Taiwan.

Pada 2008, setelah gempa bumi Sichuan yang dahsyat, Xi Mingze yang kala itu remaja berusia 16 tahun meminta cuti sekolah untuk menghabiskan satu minggu guna membantu korban bencana, termasuk merawat para korban yang selamat.

Hal itu diungkap ibunya, Peng Liyuan, kepada media setempat kala itu. Ditanya apakah dia khawatir tentang keselamatan putrinya, Peng berkata; “Karena gempa bumi telah merenggut begitu banyak nyawa dan memicu bencana besar, putri saya harus pergi ke garis depan untuk membantu. Selama tujuh hari sebagai sukarelawan, dia bekerja keras dan tidak pernah mengeluh. Dia belajar banyak dan juga membuat banyak teman lokal. Dia mengatakan orang-orang di Sichuan ramah, kuat, dan baik hati."

Pada tahun 2013, dia tampil bersama orang tuanya dalam kunjungan ke desa Liangjiahe di Yan'an, tempat ayahnya pernah bekerja selama Revolusi Kebudayaan.

Setelah lulus dari Universitas Harvard, Xi Mingze kembali ke China dan tetap menjaga kehidupan pribadinya dari sorotan media.

Namun, pada tahun 2019, terjadi kebocoran informasi pribadi yang mengungkap identitas dan foto-fotonya. Seorang pria bernama Niu Tengyu dihukum 14 tahun penjara karena membocorkan data tersebut, menyoroti betapa ketatnya perlindungan privasi keluarga Xi.

Sekarang ini, Presiden AS Donald Trump melarang Universitas Harvard menerima mahasiswa asing, terutama asal China—tindakan yang ditentang kampus elite tersebut dengan mengajukan gugatan ke pengadilan. Putusan final pengadilan belum keluar, namun langkah Trump disambut para pendukungnya.

Para pendukung Trump meyakini, Xi Mingze masih berada di Amerika Serikat meski sudah lama lulus dari Universitas Harvard.

Salah satu pendukung Trump, Laura Loomer, seorang aktivis sayap kanan Make America Great Again (MAGA), mendesak pengusiran putri tunggal Presiden Xi Jinping tersebut. "Ayo! Deportasi Putri Xi Jinping! Dia tinggal di Massachusetts dan [pernah] kuliah di Harvard!" tulisnya di X.

“Sumber-sumber mengatakan kepada saya bahwa pengawal PLA [Tentara Pembebasan Rakyat dari CCP [Partai Komunis China] menyediakan keamanan pribadi untuknya di tanah AS di Massachusetts!” imbuh Loomer.

"Komunis tidak pantas berada di negara kita. Saya rasa saya akan menghadapinya lewat video dan bertanya tentang ayahnya," kata Loomer saat AS mengumumkan tindakan keras besar-besaran terhadap mahasiswa China.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dewan Perdamaian Ungkap...
Dewan Perdamaian Ungkap Kendaraan Taktis Pertama Tiba di Pangkalan Multinasional Dekat Gaza
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Aroma Match Fixing Rugikan...
Aroma Match Fixing Rugikan Timnas Iran di Piala Dunia 2026, Kenapa FIFA Tolak Investigasi?
Korban Tewas Gempa Dahsyat...
Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Mencapai 920 Orang, Pencarian Korban Masih Berlangsung
Netanyahu: Israel Masih...
Netanyahu: Israel Masih Mungkin Serang Iran!
Rekomendasi
Pengumuman Hasil Seleksi...
Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi PPPK Sekolah Rakyat 2026 Dirilis, Cek Akun SSCASN!
IPB University Akan...
IPB University Akan Buka Jalur RPL untuk Penerimaan Mahasiswa Baru S1 dan Pascasarjana
Dukung Sekolah Nyaman,...
Dukung Sekolah Nyaman, Pegadaian Praya Edukasi Siswa Siapkan Masa Depan Lewat Emas
Berita Terkini
Dewan Perdamaian Ungkap...
Dewan Perdamaian Ungkap Kendaraan Taktis Pertama Tiba di Pangkalan Multinasional Dekat Gaza
Jumlah Korban Tewas...
Jumlah Korban Tewas Akibat Gempa Bumi Venezuela Meningkat Jadi 1.943 Jiwa
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
2 Negara Muslim Ini...
2 Negara Muslim Ini Saling Serang, Ini 7 Alasan Konflik Itu Tak Mudah Diselesaikan
Rusia Sedang Dibakar...
Rusia Sedang Dibakar Ukraina, Putin Tidak Akan Gentar
Bagaimana Iran Menggunakan...
Bagaimana Iran Menggunakan Strategi Ubur-ubur untuk Menjatuhkan Jet Tempur AS?
Infografis
4 Senjata Andalan China,...
4 Senjata Andalan China, dari Robot Serigala hingga Rudal Hipersonik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved