Lowy Institute: Negara Berkembang Tercekik Utang Inisiatif Sabuk dan Jalan China

Kamis, 29 Mei 2025 - 10:45 WIB
loading...
Lowy Institute: Negara...
Laporan Lowy Institute ungkap beban utang negara-negara berkembang akibat proyek Inisiatif Sabuk dan Jalan China. Foto/Ilustrasi SINDO News
A A A
JAKARTA - China memberikan tekanan finansial yang semakin besar kepada negara-negara berkembang di saat pembayaran utang mencapai rekor tertinggi. Tahun ini, negara-negara tersebut diperkirakan akan membayar USD35 miliar kepada China, USD22 miliar di antaranya berasal dari 75 negara termiskin dan paling rentan di dunia.

Sebagian besar pembayaran ini adalah untuk pinjaman yang diambil berdasarkan Belt and Road Initiative atau Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) China selama tahun 2010-an.

Lowy Institute, sebuah lembaga think tank yang berpusat di Sydney, dalam laporannya mengatakan, "Negara-negara berkembang bergulat dengan gelombang besar pembayaran utang dan biaya bunga yang harus dibayarkan kepada China.”

Baca Juga: Pengaruh China di Amerika Latin Meningkat, Hati-Hati Jebakan Utang!

“Arus pembayaran utang ke China dari negara-negara berkembang akan berjumlah total USD35 miliar pada 2025 dan akan tetap tinggi selama sisa dekade ini.”

“Sebagian besar pembayaran utang ini, sekitar USD22 miliar, dibayarkan oleh 75 negara termiskin dan paling rentan di dunia,” bunyi laporan Lowy Institute, sebagaimana dikutip dari ANI, Kamis (29/5/2025).

Pemasok Kredit Terbesar


Institut itu menambahkan bahwa tekanan dari pinjaman negara China, bersama dengan melonjaknya pembayaran kepada sejumlah kreditor swasta internasional, memberikan tekanan finansial yang sangat besar pada negara-negara berkembang.

Hasilnya adalah meningkatnya kerentanan utang dan tersingkirnya prioritas pengeluaran penting seperti kesehatan, pendidikan, pengurangan kemiskinan, dan adaptasi iklim.

Lebih lanjut, laporan tersebut menyebutkan bahwa China berubah dari pemberi pinjaman kecil pada awal tahun 2000-an menjadi pemasok terbesar kredit bilateral baru bagi negara-negara berkembang pada pertengahan 2010-an.

Baca Juga: Beijing Gencarkan Proyek BRI, Indonesia Diingatkan soal Kualitas Produk China

Pada puncak lonjakan pinjaman BRI pada 2016, pinjaman baru yang didukung negara China berjumlah lebih dari USD50 miliar, melebihi gabungan pinjaman semua kreditor Barat tahun itu.

Ledakan pinjaman China paling menonjol di negara-negara berpenghasilan rendah dan sangat rentan, yang bergantung pada pinjaman dari kreditor bilateral serta multilateral dengan akses terbatas ke modal swasta internasional.

Penagih Utang


"Dalam perekonomian ini, China bangkit dari utang luar negeri kurang dari 5 persen pada 2005, menjadi lebih dari 40 persen pada 2015. Namun, tak lama setelah itu, pinjaman global China memasuki periode penurunan yang berkepanjangan,” imbuh laporan Lowy Institute.

“Meningkatnya risiko utang, kesulitan implementasi, dan tekanan keuangan domestik menyebabkan penandatanganan pinjaman baru China turun menjadi hanya USD18 miliar pada 2019, dengan penurunan lebih lanjut selama pandemi Covid," papar lembaga tersebut.

Penerima pinjaman baru terbesar termasuk negara tetangga langsung, Pakistan, Kazakhstan, dan Mongolia, dan negara-negara berkembang yang merupakan eksportir mineral atau logam baterai penting, seperti Argentina, Brasil, Republik Demokratik Kongo, dan Indonesia," imbuh Lowy Institute.

Lowy Institute mengatakan bahwa China yang dulunya merupakan sumber keuangan baru terbesar di dunia berkembang kini telah sepenuhnya beralih menjadi satu-satunya tujuan pembayaran utang negara berkembang terbesar di dunia. BRI mencapai puncaknya pada pertengahan 2010-an; puncak pembayaran utang tercapai pada pertengahan 2020-an.

“Sekarang, dan selama sisa dekade ini, China akan lebih mirip dengan penagih utang dibandingkan bankir bagi negara berkembang," pungkas Lowy Institute.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Standar Keselamatan...
Standar Keselamatan Kendaraan Listrik Baru China Lebih Ketat!
AS Rilis 14 Poin Perjanjian...
AS Rilis 14 Poin Perjanjian yang Disepakati dengan Iran untuk Akhiri Perang
Perjanjian Damai dengan...
Perjanjian Damai dengan Iran Terancam Batal gegara Israel, Begini Tanggapan AS
Rekomendasi
Polda Metro Singgung...
Polda Metro Singgung Ada Mantan Pejabat Berupaya Hambat Kasus Roy Suryo
Semringah di Pembukaan,...
Semringah di Pembukaan, IHSG Sesi Siang Ambruk 1,25% ke 6.099
Suap Rp61,7 Miliar ke...
Suap Rp61,7 Miliar ke Pejabat Bea Cukai, Bos Blueray Cargo Dituntut 3 Tahun Penjara
Berita Terkini
Profil Abelardo De La...
Profil Abelardo De La Espriella, Pengacara Berjam Tangan Mewah yang Jadi Presiden Baru Kolombia
Iran dan AS Sepakati...
Iran dan AS Sepakati Peta Jalan untuk Mengakhiri Perang
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
9 Kota di Mana Matahari...
9 Kota di Mana Matahari Hampir Tidak Pernah Terbenam atau Terbit saat Musim Panas
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Ledakan Dahsyat Guncang...
Ledakan Dahsyat Guncang Situs LNG Qatar, 54 Orang Terluka, 18 Hilang
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved