Dunia Kecam Inisiatif Bantuan AS-Israel setelah Serbuan Mematikan di Gaza
Rabu, 28 Mei 2025 - 13:30 WIB
loading...
Kekacauan terjadi saat pembagian bantuan di pusat bantuan AS-Israel di Gaza. Foto/aljazeera
A
A
A
GAZA - Sebanyak tiga warga Palestina tewas di Gaza setelah militer Israel melepaskan tembakan ke kerumunan orang yang bergegas ke titik distribusi bantuan yang didirikan organisasi kontroversial yang didukung Israel dan Amerika Serikat (AS). Insiden mematikan di kota selatan Rafah pada hari Selasa (27/5/2025) menyebabkan 46 orang lainnya terluka dan tujuh orang hilang, menurut pihak berwenang di Gaza.
Kelompok bantuan di balik inisiatif tersebut, Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) membantah laporan tersebut, sementara militer Israel mengatakan pasukannya telah melepaskan tembakan peringatan di area di luar lokasi distribusi dan kendali telah ditegakkan kembali.
Insiden tersebut memicu kritik dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kelompok bantuan, tetapi Israel dan AS terus membela GHF.
Berikut ini ringkasan reaksi dunia atas kejadian itu:
Seorang juru bicara sekretaris jenderal PBB, Antonio Guterres, mengatakan gambar dan video dari titik-titik bantuan yang didirikan oleh GHF "sangat memilukan, paling tidak begitulah".
“Kami dan mitra kami memiliki rencana yang terperinci, berprinsip, dan operasional yang baik yang didukung negara-negara anggota untuk menyalurkan bantuan kepada populasi yang putus asa,” ujar Stephane Dujarric kepada wartawan.
“Bantuan kemanusiaan perlu didistribusikan dengan cara yang aman berdasarkan prinsip-prinsip independensi (dan) imparsialitas, seperti yang selalu kami lakukan… Kami melihat rencana yang mereka (Yayasan Kemanusiaan Gaza) terbitkan dan yang mereka sampaikan kepada kami, dan rencana itu tidak dilakukan dengan parameter yang kami rasa sesuai dengan prinsip-prinsip kami, yang kami terapkan secara menyeluruh, dari Gaza hingga Sudan hingga Myanmar, ke mana pun Anda ingin membicarakannya,” papar dia.
Kantor Media Pemerintah di Gaza mengutuk tindakan militer Israel di Rafah.
“Pasukan pendudukan, yang ditempatkan di dalam atau di sekitar area tersebut, melepaskan tembakan langsung ke warga sipil yang kelaparan yang dipancing ke lokasi-lokasi ini dengan dalih menerima bantuan,” ungkap pernyataan kantor tersebut.
“Apa yang terjadi hari ini di Rafah adalah pembantaian yang disengaja dan kejahatan perang yang sesungguhnya, yang dilakukan dengan kejam terhadap warga sipil yang telah lemah karena kelaparan akibat pengepungan selama lebih dari 90 hari,” papar kantor itu.
Kantor tersebut menambahkan, “Insiden ini memberikan bukti yang tidak dapat disangkal tentang kegagalan total pendudukan Israel dalam mengelola bencana kemanusiaan yang sengaja diciptakannya.”
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui kekacauan di lokasi GHF, tetapi mengatakan gangguan itu hanya berlangsung singkat.
“Kami menyusun rencana dengan teman-teman Amerika kami untuk memiliki lokasi distribusi yang terkendali di mana perusahaan Amerika akan mendistribusikan makanan kepada keluarga-keluarga Palestina,” ujar dia.
Dia menjelaskan, “Ada beberapa kehilangan kendali untuk sementara waktu. Untungnya, kami berhasil mengendalikannya kembali.”
Ia juga mengklaim tidak ada bukti kekurangan gizi di Jalur Gaza, dengan mengatakan, “Anda tidak melihat satu pun, tidak satu pun (orang) yang kurus kering sejak awal perang hingga saat ini.”
Departemen Luar Negeri AS juga meremehkan serbuan di lokasi GHF dan menepis kritik terhadap program bantuan tersebut sebagai “keluhan tentang gaya”.
“Hamas menentang dinamika (bantuan) ini. Mereka telah berupaya menghentikan pergerakan bantuan melalui Gaza ke pusat-pusat distribusi ini, tetapi mereka gagal,” papar Tammy Bruce, juru bicara Departemen Luar Negeri AS.
Dia menjelaskan, “Dalam lingkungan seperti itu, tidak mengherankan jika mungkin ada beberapa masalah yang terlibat. Namun, kabar baiknya adalah mereka yang berusaha memberikan bantuan kepada warga Gaza, yang bukan Hamas, telah berhasil.”
Ia menambahkan, “Cerita sebenarnya adalah bantuan dan makanan bergerak ke Gaza dalam skala besar. Kami melihat 8.000 kotak… Ini adalah lingkungan yang rumit, dan ceritanya adalah fakta itu berhasil.”
“Kebutuhan di lapangan sangat besar. Pada suatu saat di sore hari, volume orang di (lokasi distribusi) begitu banyak sehingga tim GHF mundur untuk memungkinkan sejumlah kecil warga Gaza mengambil bantuan dengan aman dan menyebar,” ujar kelompok itu.
Kelompok itu mengklaim operasi kini telah kembali normal, seraya menambahkan mereka telah mendistribusikan sekitar 8.000 kotak makanan, yang menurut mereka akan memberi makan 5,5 orang selama 3,5 hari, dan jumlahnya mencapai sekitar 462.000 makanan.
Hardin Lang, wakil presiden kelompok itu untuk kebijakan dan program, mengatakan inisiatif bantuan yang didukung AS-Israel dijalankan logika militer, bukan kemanusiaan.
"Ini bukan cara yang Anda gunakan untuk memberi makan populasi, apalagi populasi yang berada di ambang kelaparan," ungkap dia kepada Al Jazeera, berbicara dari Washington, DC.
"Jenis operasi yang diperlukan untuk mencegah kelaparan, atau menghentikannya jika sudah berlangsung, adalah operasi logistik yang sangat besar dan rumit. Dan itu bukan hanya makanan. Anda harus memiliki akses ke fasilitas medis, akses ke pusat-pusat malnutrisi akut ... yang belum diperhitungkan dalam rencana ini," papar dia.
Ia menambahkan, “Ini tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Rasanya seperti dirancang untuk menempatkan orang-orang di selatan Gaza, ke wilayah yang telah ditetapkan oleh Israel sebagai ‘wilayah yang aman’, ‘zona kemanusiaan’, bukannya mencoba memenuhi kebutuhan penduduk yang sangat putus asa.”
Ahmed Bayram, juru bicara NRC, meminta Israel dan AS membatalkan inisiatif mereka dan membiarkan organisasi kemanusiaan melakukan pekerjaan mereka.
“Apa yang kita lihat memang merupakan ringkasan dari tragedi yang dialami warga Gaza,” ujar dia.
“Ini bukan cara pemberian bantuan; ini bukan cara penyaluran bantuan, apalagi yang dilakukan penjajah, negara yang telah menghancurkan dan meratakan Rafah, meminta orang-orang kembali ke Rafah, yang telah mengusir orang-orang keluar dari Rafah, dan sekarang menyuruh mereka untuk kembali dan menerima apa pun yang bisa mereka dapatkan,” pungkas dia.
Baca juga: Bak Film Zombie, Massa Kelaparan Serbu Pusat Bantuan Gaza, Personel AS dan Israel Kabur
Kelompok bantuan di balik inisiatif tersebut, Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) membantah laporan tersebut, sementara militer Israel mengatakan pasukannya telah melepaskan tembakan peringatan di area di luar lokasi distribusi dan kendali telah ditegakkan kembali.
Insiden tersebut memicu kritik dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kelompok bantuan, tetapi Israel dan AS terus membela GHF.
Berikut ini ringkasan reaksi dunia atas kejadian itu:
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Seorang juru bicara sekretaris jenderal PBB, Antonio Guterres, mengatakan gambar dan video dari titik-titik bantuan yang didirikan oleh GHF "sangat memilukan, paling tidak begitulah".
“Kami dan mitra kami memiliki rencana yang terperinci, berprinsip, dan operasional yang baik yang didukung negara-negara anggota untuk menyalurkan bantuan kepada populasi yang putus asa,” ujar Stephane Dujarric kepada wartawan.
“Bantuan kemanusiaan perlu didistribusikan dengan cara yang aman berdasarkan prinsip-prinsip independensi (dan) imparsialitas, seperti yang selalu kami lakukan… Kami melihat rencana yang mereka (Yayasan Kemanusiaan Gaza) terbitkan dan yang mereka sampaikan kepada kami, dan rencana itu tidak dilakukan dengan parameter yang kami rasa sesuai dengan prinsip-prinsip kami, yang kami terapkan secara menyeluruh, dari Gaza hingga Sudan hingga Myanmar, ke mana pun Anda ingin membicarakannya,” papar dia.
Palestina
Kantor Media Pemerintah di Gaza mengutuk tindakan militer Israel di Rafah.
“Pasukan pendudukan, yang ditempatkan di dalam atau di sekitar area tersebut, melepaskan tembakan langsung ke warga sipil yang kelaparan yang dipancing ke lokasi-lokasi ini dengan dalih menerima bantuan,” ungkap pernyataan kantor tersebut.
“Apa yang terjadi hari ini di Rafah adalah pembantaian yang disengaja dan kejahatan perang yang sesungguhnya, yang dilakukan dengan kejam terhadap warga sipil yang telah lemah karena kelaparan akibat pengepungan selama lebih dari 90 hari,” papar kantor itu.
Kantor tersebut menambahkan, “Insiden ini memberikan bukti yang tidak dapat disangkal tentang kegagalan total pendudukan Israel dalam mengelola bencana kemanusiaan yang sengaja diciptakannya.”
Israel
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui kekacauan di lokasi GHF, tetapi mengatakan gangguan itu hanya berlangsung singkat.
“Kami menyusun rencana dengan teman-teman Amerika kami untuk memiliki lokasi distribusi yang terkendali di mana perusahaan Amerika akan mendistribusikan makanan kepada keluarga-keluarga Palestina,” ujar dia.
Dia menjelaskan, “Ada beberapa kehilangan kendali untuk sementara waktu. Untungnya, kami berhasil mengendalikannya kembali.”
Ia juga mengklaim tidak ada bukti kekurangan gizi di Jalur Gaza, dengan mengatakan, “Anda tidak melihat satu pun, tidak satu pun (orang) yang kurus kering sejak awal perang hingga saat ini.”
Amerika Serikat
Departemen Luar Negeri AS juga meremehkan serbuan di lokasi GHF dan menepis kritik terhadap program bantuan tersebut sebagai “keluhan tentang gaya”.
“Hamas menentang dinamika (bantuan) ini. Mereka telah berupaya menghentikan pergerakan bantuan melalui Gaza ke pusat-pusat distribusi ini, tetapi mereka gagal,” papar Tammy Bruce, juru bicara Departemen Luar Negeri AS.
Dia menjelaskan, “Dalam lingkungan seperti itu, tidak mengherankan jika mungkin ada beberapa masalah yang terlibat. Namun, kabar baiknya adalah mereka yang berusaha memberikan bantuan kepada warga Gaza, yang bukan Hamas, telah berhasil.”
Ia menambahkan, “Cerita sebenarnya adalah bantuan dan makanan bergerak ke Gaza dalam skala besar. Kami melihat 8.000 kotak… Ini adalah lingkungan yang rumit, dan ceritanya adalah fakta itu berhasil.”
Yayasan Kemanusiaan Gaza
“Kebutuhan di lapangan sangat besar. Pada suatu saat di sore hari, volume orang di (lokasi distribusi) begitu banyak sehingga tim GHF mundur untuk memungkinkan sejumlah kecil warga Gaza mengambil bantuan dengan aman dan menyebar,” ujar kelompok itu.
Kelompok itu mengklaim operasi kini telah kembali normal, seraya menambahkan mereka telah mendistribusikan sekitar 8.000 kotak makanan, yang menurut mereka akan memberi makan 5,5 orang selama 3,5 hari, dan jumlahnya mencapai sekitar 462.000 makanan.
Refugees International
Hardin Lang, wakil presiden kelompok itu untuk kebijakan dan program, mengatakan inisiatif bantuan yang didukung AS-Israel dijalankan logika militer, bukan kemanusiaan.
"Ini bukan cara yang Anda gunakan untuk memberi makan populasi, apalagi populasi yang berada di ambang kelaparan," ungkap dia kepada Al Jazeera, berbicara dari Washington, DC.
"Jenis operasi yang diperlukan untuk mencegah kelaparan, atau menghentikannya jika sudah berlangsung, adalah operasi logistik yang sangat besar dan rumit. Dan itu bukan hanya makanan. Anda harus memiliki akses ke fasilitas medis, akses ke pusat-pusat malnutrisi akut ... yang belum diperhitungkan dalam rencana ini," papar dia.
Ia menambahkan, “Ini tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Rasanya seperti dirancang untuk menempatkan orang-orang di selatan Gaza, ke wilayah yang telah ditetapkan oleh Israel sebagai ‘wilayah yang aman’, ‘zona kemanusiaan’, bukannya mencoba memenuhi kebutuhan penduduk yang sangat putus asa.”
Dewan Pengungsi Norwegia
Ahmed Bayram, juru bicara NRC, meminta Israel dan AS membatalkan inisiatif mereka dan membiarkan organisasi kemanusiaan melakukan pekerjaan mereka.
“Apa yang kita lihat memang merupakan ringkasan dari tragedi yang dialami warga Gaza,” ujar dia.
“Ini bukan cara pemberian bantuan; ini bukan cara penyaluran bantuan, apalagi yang dilakukan penjajah, negara yang telah menghancurkan dan meratakan Rafah, meminta orang-orang kembali ke Rafah, yang telah mengusir orang-orang keluar dari Rafah, dan sekarang menyuruh mereka untuk kembali dan menerima apa pun yang bisa mereka dapatkan,” pungkas dia.
Baca juga: Bak Film Zombie, Massa Kelaparan Serbu Pusat Bantuan Gaza, Personel AS dan Israel Kabur
(sya)
Lihat Juga :