Paniknya Para Mahasiwa China usai Trump Larang Universitas Havard Terima Pelajar Asing
Minggu, 25 Mei 2025 - 07:56 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, universitas di negara lain mulai mengambil langkah cepat. Hong Kong University of Science and Technology menawarkan jalur masuk tanpa syarat, prosedur pendaftaran yang disederhanakan, dan dukungan akademik untuk mahasiswa terdampak.
Pippa Ebel, konsultan pendidikan independen yang berbasis di Guangzhou, menyebut kebijakan Trump bukan sekadar gangguan jangka pendek, melainkan titik balik bagi banyak keluarga China.
“Ini bisa menjadi dorongan terakhir untuk berpaling dari AS dan memilih negara-negara seperti Australia, Inggris, atau Singapura,” katanya.
Zhao (23), mahasiswa baru program master di Universitas Harvard, masih bertekad mengejar mimpinya di AS. Namun, dia mulai mempertimbangkan untuk menunda pendaftaran atau bahkan pindah ke negara lain.
“Rencana hidup saya terganggu total. Saya sudah siap mengajukan visa bulan depan, tapi kini saya bingung,” ungkapnya.
Postingan seorang mahasiswi di media sosial China, Xiaohongshu, berjudul “Pengungsi Harvard”, sempat viral sebelum akhirnya dihapus. Dalam unggahan itu, dia menyebut bahwa para dosen di Harvard Kennedy School telah mengirim email kepada mahasiswa China, menyatakan bahwa pihak kampus tengah menyusun respons dan akan bernegosiasi dengan pemerintah dalam waktu 72 jam.
Apakah ini awal dari era baru di mana geopolitik mencampuri pendidikan tinggi global? Yang jelas, mahasiswa seperti Zhao, Zhang, dan Kaiqi kini berdiri di garis depan persimpangan antara mimpi akademik dan ketegangan diplomatik.
Pippa Ebel, konsultan pendidikan independen yang berbasis di Guangzhou, menyebut kebijakan Trump bukan sekadar gangguan jangka pendek, melainkan titik balik bagi banyak keluarga China.
“Ini bisa menjadi dorongan terakhir untuk berpaling dari AS dan memilih negara-negara seperti Australia, Inggris, atau Singapura,” katanya.
Zhao (23), mahasiswa baru program master di Universitas Harvard, masih bertekad mengejar mimpinya di AS. Namun, dia mulai mempertimbangkan untuk menunda pendaftaran atau bahkan pindah ke negara lain.
“Rencana hidup saya terganggu total. Saya sudah siap mengajukan visa bulan depan, tapi kini saya bingung,” ungkapnya.
Postingan seorang mahasiswi di media sosial China, Xiaohongshu, berjudul “Pengungsi Harvard”, sempat viral sebelum akhirnya dihapus. Dalam unggahan itu, dia menyebut bahwa para dosen di Harvard Kennedy School telah mengirim email kepada mahasiswa China, menyatakan bahwa pihak kampus tengah menyusun respons dan akan bernegosiasi dengan pemerintah dalam waktu 72 jam.
Apakah ini awal dari era baru di mana geopolitik mencampuri pendidikan tinggi global? Yang jelas, mahasiswa seperti Zhao, Zhang, dan Kaiqi kini berdiri di garis depan persimpangan antara mimpi akademik dan ketegangan diplomatik.
(mas)
Lihat Juga :