Profil Victor Gao, Analis yang Sebut China Bisa Hidup 5.000 Tahun Lagi Meski Ditekan AS

Kamis, 24 April 2025 - 08:44 WIB
loading...
Profil Victor Gao, Analis...
Victor Gao, analis Beijing yang yakin China tak akan kalah dalam perang dagang melawan AS. Dia sebut China akan hidup 5.000 tahun lagi. Foto/Wikipedia
A A A
JAKARTA - Analis Beijing Victor Gao, dalam sebuah wawancara dengan Channel 4 News, menegaskan ketahanan dan keyakinan China dalam menghadapi tekanan ekonomi dari Amerika Serikat (AS).

Berbicara kepada jurnalis Cathy Newman, Gao menolak anggapan bahwa China akan kalah dalam perang dagang melawan AS.

Dia menyatakan bahwa Beijing tidak gentar kehilangan pasar ekspor ke Washington, yang selama ini menyumbang sekitar 15% dari total ekspor China.

"China telah ada di sini selama 5.000 tahun. Sebagian besar waktu itu, Amerika Serikat belum ada, dan kami tetap bertahan. Jika AS ingin menutup diri, silakan saja. Kami akan bertahan 5.000 tahun lagi,” tegasnya.

Baca Juga: Tegang di Langit Indo-Pasifik, Jet Tempur China Kejar Pesawat AS Dekat Kapal Induk

Gao menyebut bahwa upaya AS untuk memaksakan kehendak kepada negara-negara lain melalui tekanan ekonomi ibarat “menodongkan senjata ke kepala seseorang.”

Meski mengakui bahwa banyak negara saat ini sedang merapat ke AS untuk membuat kesepakatan dagang, dia menegaskan bahwa hal itu bukan karena kepercayaan, melainkan karena tekanan.

Profil Victor Gao


Victor Zhikai Gao, yang lahir pada 1962, adalah seorang pengacara, pengusaha, dan analis China yang merupakan wakil presiden Pusat China dan Globalisasi (CCG) yang berpusat di Beijing.

Gao dikenal juga sebagai pakar hubungan internasional di Universitas Soochow, di mana dia menjabat sebagai Profesor Ketua.

Tak hanya itu, dia tercatat sebagai anggota Komite Kota Beijing dari Komite Revolusioner Kuomintang China. Da sebelumnya adalah seorang penerjemah untuk mendiang pemimpin China Deng Xiaoping.

Kehidupan dan Pendidikan Victor Gao


Gao dibesarkan di pedesaan China selama tahun 1970-an. Dia bersekolah di sekolah menengah atas di China Selatan.

Ketika pemimpin Partai Komunis China Deng Xiaoping membuka kembali universitas selama reformasi ekonomi China, Gao meyakinkan pemerintah setempat untuk mengizinkannya mengambil Gaokao (ujian) untuk masuk perguruan tinggi pada tahun 1977 sebelum dia lulus sekolah menengah atas.

Gao meraih gelar Sarjana Seni (B.A.) dalam bahasa dan sastra Inggris dari Universitas Soochow pada tahun 1981, kemudian meraih gelar Magister Seni (M.A.) dalam bahasa dan sastra Inggris dari Universitas Studi Luar Negeri Beijing pada tahun 1983.

Dia menempuh pendidikan pascasarjana di Amerika Serikat di Universitas Yale, tempat dia lulus dengan gelar magister dalam ilmu politik pada tahun 1990 dan kemudian gelar Juris Doctor (J.D.) dari Sekolah Hukum Yale pada tahun 1993. Dia diterima di Asosiasi Pengacara Negara Bagian New York pada tahun 1994.

Karier Victor Gao


Dari tahun 1983 hingga 1988, Gao menjadi penerjemah untuk Deng Xiaoping. Dia juga menjadi anggota Kementerian Luar Negeri dari tahun 1983 hingga 1989 di Sekretariat Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York.

Setelah meninggalkan Kementerian Luar Negeri pada tahun 1988, Gao direkomendasikan oleh Henry Kissinger untuk belajar di Universitas Yale, di mana dia memperoleh gelar Juris Doctor dari Sekolah Hukum Yale pada tahun 1993.

Kemudian dia menjadi penasihat kebijakan untuk Komisi Sekuritas dan Berjangka Hong Kong dari tahun 1999 hingga 2000.

Gao pernah menjadi bankir investasi untuk Morgan Stanley. Dia adalah direktur Asosiasi Studi Internasional Nasional China dan direktur eksekutif Asosiasi Ekuitas Swasta Beijing. Gao juga merupakan wakil presiden Pusat China dan Globalisasi.

"Gao pernah diperlakukan sebagai lawan bicara yang bereputasi baik dalam hubungan AS–China," tulis majalah Foreign Policy.

Pandangan Victor Gao soal Hong Kong dan AUKUS


Pada tahun 2014, Gao mengecam protes pro-demokrasi di Hong Kong sebagai tindakan ilegal dan provokatif.

Dia mendukung Undang-Undang Keamanan Nasional dan integrasi Hong Kong yang berkelanjutan dengan China.

Pada September 2021, Gao menyebut pakta AUKUS sebagai "pelanggaran berat terhadap hukum internasional", mengeklaim bahwa Australia yang dipersenjatai dengan kapal selam nuklir akan menjadi target serangan nuklir di masa mendatang.

Dia pernah menyebut warga Australia "tidak punya otak".

"Saya akan mengatakan kesepakatan AUKUS itu sendiri dengan memungkinkan Australia membangun kapal selam nuklir akan memiliki satu konsekuensi besar bagi Australia, yaitu, Australia tidak akan lagi menikmati manfaat dan hak istimewa yang sangat langka untuk tidak menjadi target senjata nuklir di masa mendatang," katanya.

Sedangkan soal Taiwan, Gao mendukung segala cara yang mungkin untuk mencapai penyatuan China dengan pulau tersebut.

Pada Oktober 2021, Gao mengeklaim bahwa orang Taiwan keturunan Jepang mendukung kemerdekaan Taiwan, dan bahwa setelah China mengambil alih, mereka harus menunjukkan dukungan untuk penyatuan kembali secara tertulis atau beremigrasi.

Majalah Foreign Policy menganggap komentar Gao itu sebagai seruan untuk pembersihan etnis.

Pada Agustus 2022, Gao berpendapat bahwa "misi militer China adalah untuk membebaskan Taiwan."
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Kim Jong-un Janji Kapal...
Kim Jong-un Janji Kapal Perang Korut Dilengkapi Senjata Nuklir, Momok bagi AS
Viral! Kebun Binatang...
Viral! Kebun Binatang China Cari Pemeran Beruang Hitam, Gajinya Rp263,6 Juta
Iran Tuduh NATO Terlibat...
Iran Tuduh NATO Terlibat Perang Gabungan AS-Israel Gara-gara Pengakuan Sekjen Mark Rutte
Kerja Sama Yunani-China...
Kerja Sama Yunani-China Diperdebatkan, Legislator Tolak Status 'Mitra Lemah'
Jepang Sangkal Militernya...
Jepang Sangkal Militernya Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk China
Bukan Utang, Purbaya...
Bukan Utang, Purbaya Tegaskan Pendanaan AIIB Rp303 Triliun Murni Investasi
Gempa Guncang Venezuela,...
Gempa Guncang Venezuela, 18 Orang Diselamatkan dari Reruntuhan
Nah, Menteri Israel...
Nah, Menteri Israel Ini Sebut Perdamaian AS-Iran Tak Tahan Lama
Rekomendasi
UATAS dan AFPI Ajak...
UATAS dan AFPI Ajak Mahasiswa Bijak Kelola Keuangan
Kawal Transformasi Terintegrasi...
Kawal Transformasi Terintegrasi untuk Perkuat Bio Farma Group
Amalan Jumat: Raih Cahaya...
Amalan Jumat: Raih Cahaya dengan Membaca Surat Al-Kahfi
Berita Terkini
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan,...
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan, Korban Tewas Gempa Venezuela Capai 589 Orang
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Hizbullah Sergap Unit...
Hizbullah Sergap Unit Israel di Beit Yahoun, 4 Tentara Zionis Terluka
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Singapura Marah Kapalnya...
Singapura Marah Kapalnya Diserang di Selat Hormuz
Iran Sebut Pernyataan...
Iran Sebut Pernyataan Bersama AS-GCC Provokatif, Serukan Zona Bebas Senjata Nuklir Timur Tengah
Infografis
Profil Ayatollah Ali...
Profil Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Tewas Diserang AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved