Rakyat Swiss Minta Pembelian 36 Jet Tempur Siluman F-35 AS Dibatalkan, Ini Alasannya
Senin, 21 April 2025 - 15:26 WIB
loading...
A
A
A
Program Joint Strike Fighter, dengan biaya seumur hidup yang diproyeksikan sebesar USD1,58 triliun hingga tahun 2088, sebagaimana diperkirakan oleh GAO, merupakan landasan ekspor pertahanan AS.
Lebih dari selusin negara, termasuk Jepang, Australia, dan Inggris, mengoperasikan atau telah memesan F-35, yang menciptakan jaringan angkatan udara yang dapat dioperasikan bersama.
Penarikan pasukan Swiss dapat melemahkan koalisi ini, sehingga membuat negara lain berani mempertimbangkan kembali komitmen mereka.
Di Eropa, inisiatif seperti European Sky Shield Initiative, yang diluncurkan pada tahun 2022 untuk meningkatkan koordinasi pertahanan udara, menandakan dorongan yang semakin besar untuk otonomi regional.
Prancis dan Jerman, yang tidak termasuk dalam program F-35, tengah mengembangkan Sistem Udara Tempur Masa Depan (FCAS), platform generasi keenam yang diharapkan akan hadir pada tahun 2040.
Perubahan Swiss ke Rafale dapat memperkuat produsen Eropa, yang akan menantang dominasi AS di pasar jet tempur.
Tantangan F-35 tidak hanya terjadi di Swiss.
Di AS, program tersebut telah menghadapi pengawasan ketat karena kelebihan biaya dan penundaan.
Laporan Pentagon tahun 2024 menyoroti masalah yang terus-menerus terjadi pada peningkatan Block 4 jet tersebut, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peperangan elektroniknya tetapi masih tertinggal dari jadwal.
Di tingkat internasional, operator seperti Israel telah mengadaptasi F-35 untuk misi tertentu, seperti serangan presisi di Suriah, yang menunjukkan keserbagunaannya.
Namun, bagi Swiss, kemampuan tersebut sebagian besar tidak relevan. Peran utama Angkatan Udara Swiss—mencegat pesawat tak berizin dan melakukan pengawasan—memerlukan keandalan dan keterjangkauan dibandingkan dengan teknologi siluman mutakhir.
Perbandingan dengan platform lain, seperti Su-57 milik Rusia atau J-20 milik China, kurang relevan, karena jet-jet ini melayani ambisi kekuatan besar yang jauh dari postur pertahanan Swiss.
Rafale, dengan biaya perawatannya yang lebih rendah dan fleksibilitas operasional, tetap menjadi alternatif yang paling menarik.
Saat Swiss bergulat dengan keputusannya, tiga skenario muncul. Pertama, pemerintah dapat tunduk pada tekanan publik dan membatalkan kontrak F-35, yang berpotensi menegosiasikan kesepakatan baru untuk jet Rafale. Ini akan memperkuat industri pertahanan Eropa tetapi berisiko menimbulkan ketegangan diplomatik dengan AS.
Kedua, kompromi dapat mengurangi pesanan F-35, mengalihkan dana ke prioritas lain seperti pertahanan udara berbasis darat.
Ketiga, pemerintah mungkin terus maju, menyerap biaya politik tetapi mengamankan jet untuk pengiriman antara tahun 2027 hingga 2030. Setiap jalur membawa pengorbanan, menyeimbangkan keamanan nasional, kendala ekonomi, dan sentimen publik.
Penentangan publik Swiss terhadap pembelian F-35 menggarisbawahi momen penting dalam dinamika pertahanan global.
Intinya, kontroversi ini bukan hanya tentang jet tempur tetapi tentang harga penyelarasan di era ketidakpastian.
Perjuangan Swiss mencerminkan pertanyaan yang lebih luas yang dihadapi sekutu AS: dapatkah negara-negara mempertahankan otonomi mereka sambil mengadopsi teknologi yang mengikat mereka dengan kepentingan Amerika?
F-35, keajaiban teknik, mewujudkan dilema ini, menawarkan kemampuan yang tak tertandingi dengan mengorbankan ketergantungan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Saat Swiss mempertimbangkan pilihannya, keputusannya akan bergema jauh melampaui batas wilayahnya, berpotensi membentuk kembali aliansi dan pasar.
Akankah negara netral ini memetakan arah baru, atau akan tunduk pada tekanan tatanan pertahanan yang dipimpin AS? Jawabannya dapat mendefinisikan ulang masa depan kekuatan militer di abad ke-21.
Lebih dari selusin negara, termasuk Jepang, Australia, dan Inggris, mengoperasikan atau telah memesan F-35, yang menciptakan jaringan angkatan udara yang dapat dioperasikan bersama.
Penarikan pasukan Swiss dapat melemahkan koalisi ini, sehingga membuat negara lain berani mempertimbangkan kembali komitmen mereka.
Di Eropa, inisiatif seperti European Sky Shield Initiative, yang diluncurkan pada tahun 2022 untuk meningkatkan koordinasi pertahanan udara, menandakan dorongan yang semakin besar untuk otonomi regional.
Prancis dan Jerman, yang tidak termasuk dalam program F-35, tengah mengembangkan Sistem Udara Tempur Masa Depan (FCAS), platform generasi keenam yang diharapkan akan hadir pada tahun 2040.
Perubahan Swiss ke Rafale dapat memperkuat produsen Eropa, yang akan menantang dominasi AS di pasar jet tempur.
Tantangan F-35 tidak hanya terjadi di Swiss.
Di AS, program tersebut telah menghadapi pengawasan ketat karena kelebihan biaya dan penundaan.
Laporan Pentagon tahun 2024 menyoroti masalah yang terus-menerus terjadi pada peningkatan Block 4 jet tersebut, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peperangan elektroniknya tetapi masih tertinggal dari jadwal.
Di tingkat internasional, operator seperti Israel telah mengadaptasi F-35 untuk misi tertentu, seperti serangan presisi di Suriah, yang menunjukkan keserbagunaannya.
Namun, bagi Swiss, kemampuan tersebut sebagian besar tidak relevan. Peran utama Angkatan Udara Swiss—mencegat pesawat tak berizin dan melakukan pengawasan—memerlukan keandalan dan keterjangkauan dibandingkan dengan teknologi siluman mutakhir.
Perbandingan dengan platform lain, seperti Su-57 milik Rusia atau J-20 milik China, kurang relevan, karena jet-jet ini melayani ambisi kekuatan besar yang jauh dari postur pertahanan Swiss.
Rafale, dengan biaya perawatannya yang lebih rendah dan fleksibilitas operasional, tetap menjadi alternatif yang paling menarik.
Saat Swiss bergulat dengan keputusannya, tiga skenario muncul. Pertama, pemerintah dapat tunduk pada tekanan publik dan membatalkan kontrak F-35, yang berpotensi menegosiasikan kesepakatan baru untuk jet Rafale. Ini akan memperkuat industri pertahanan Eropa tetapi berisiko menimbulkan ketegangan diplomatik dengan AS.
Kedua, kompromi dapat mengurangi pesanan F-35, mengalihkan dana ke prioritas lain seperti pertahanan udara berbasis darat.
Ketiga, pemerintah mungkin terus maju, menyerap biaya politik tetapi mengamankan jet untuk pengiriman antara tahun 2027 hingga 2030. Setiap jalur membawa pengorbanan, menyeimbangkan keamanan nasional, kendala ekonomi, dan sentimen publik.
Penentangan publik Swiss terhadap pembelian F-35 menggarisbawahi momen penting dalam dinamika pertahanan global.
Intinya, kontroversi ini bukan hanya tentang jet tempur tetapi tentang harga penyelarasan di era ketidakpastian.
Perjuangan Swiss mencerminkan pertanyaan yang lebih luas yang dihadapi sekutu AS: dapatkah negara-negara mempertahankan otonomi mereka sambil mengadopsi teknologi yang mengikat mereka dengan kepentingan Amerika?
F-35, keajaiban teknik, mewujudkan dilema ini, menawarkan kemampuan yang tak tertandingi dengan mengorbankan ketergantungan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Saat Swiss mempertimbangkan pilihannya, keputusannya akan bergema jauh melampaui batas wilayahnya, berpotensi membentuk kembali aliansi dan pasar.
Akankah negara netral ini memetakan arah baru, atau akan tunduk pada tekanan tatanan pertahanan yang dipimpin AS? Jawabannya dapat mendefinisikan ulang masa depan kekuatan militer di abad ke-21.
(mas)
Lihat Juga :