Trump Akan Akui Crimea Milik Rusia untuk Akhiri Perang Ukraina

Minggu, 20 April 2025 - 15:43 WIB
loading...
Trump Akan Akui Crimea...
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump akan mengakui Crimea sebagai wilayah Rusia. Langkah ini sebagai bagian dari usulan AS untuk akhiri perang Rusia-Ukraina. Foto/Sputniknews
A A A
WASHINGTON - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan mengakui Crimea sebagai wilayah Rusia. Langkah itu sebagai bagian dari usulan Amerika untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina.

Seorang pejabat Amerika yang mengetahui kerangka kerja tersebut mengungkapkannya kepada CNN.

Crimea, yang sebelumnya wilayah Ukraina, telah dikendalikan Rusia sejak 2014. Menurut Moskow, wilayah itu memisahkan dari Ukraina setelah peristiwa "Kudeta Maidan 2014" yang didukung Barat dan kemudian memilih bergabung dengan Rusia melalui referendum.

Kyiv dan sekutu Barat-nya tidak mengakui referendum tersebut dan menganggap Crimea dianeksasi atau dicaplok oleh Rusia.

Baca Juga: Hormati Momen Paskah, Putin Umumkan Gencatan Senjata Sepihak selama 30 Jam

Empat wilayah Ukraina lainnya—Donetsk dan Luhansk di timur serta Kherson dan Zaporizhzhia di selatan—juga sebagian dikuasai Rusia sejak invasi skala penuhnya pada tahun 2022. Seperti Crimea, Moskow juga menyatakan empat wilayah itu sudah memilih bergabung dengan Rusia melalui referendum.

Belum ada komentar langsung dari Kyiv terkait laporan tentang rencana Trump mengakui Crimea milik Rusia. Namun, laporan itu sepertinya tidak akan disambut baik oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang mengatakan pada Maret lalu bahwa pemerintahnya tidak akan mengakui wilayah pendudukan mana pun sebagai wilayah Rusia, dan menyebutnya sebagai "garis merah".

"Wilayah-wilayah itu mungkin akan menjadi salah satu isu yang paling sensitif dan sulit dalam perundingan damai," kata Zelensky saat itu, seraya menambahkan, "Bagi kami, garis merahnya adalah pengakuan wilayah Ukraina yang diduduki sementara sebagai wilayah Rusia. Kami tidak akan melakukannya.”

Usulan AS untuk mengakhiri perang juga akan memberlakukan gencatan senjata di sepanjang garis depan konflik, imbuh sumber pemerintah AS tersebut kepada CNN, yang dilansir Minggu (20/4/2025).

Menurut sumber tersebut, kerangka kerja itu dibagikan dengan pihak Eropa dan Ukraina di Paris, Prancis, pada hari Kamis. Hal itu juga dikomunikasikan kepada Rusia melalui panggilan telepon antara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.

Meskipun Presiden AS Donald Trump mengeklaim bahwa dia akan dapat mengakhiri perang di Ukraina dalam satu hari, upaya Amerika untuk mencapai kesepakatan damai sebagian besar terhenti karena sikap keras kepala Rusia, yang menyebabkan rasa frustrasi yang semakin meningkat di Gedung Putih.

Setelah Rubio memperingatkan pada hari Jumat bahwa AS siap untuk "melanjutkan" upaya untuk membawa perdamaian ke Ukraina dalam beberapa hari jika tidak ada tanda-tanda kemajuan yang nyata, Trump menawarkan pendekatan yang tidak terlalu keras, dengan mengatakan bahwa Rubio "benar" tetapi memproyeksikan lebih banyak optimisme tentang prospek kesepakatan.

Ketika didesak mengenai batas waktu bagi AS untuk mundur, Trump berkata: "Tidak ada jumlah hari tertentu, tetapi cepat, kami ingin menyelesaikannya."

Sumber yang berbicara kepada CNN mengatakan bahwa masih ada beberapa bagian kerangka kerja yang harus diselesaikan, seraya menambahkan bahwa AS berencana untuk bekerja sama dengan Eropa dan Ukraina pada minggu depan di London.

Pemerintahan Trump secara bersamaan merencanakan pertemuan lain antara utusan Trump untuk Timur Tengah Steve Witkoff dan Rusia untuk mengajak Moskow menyetujui kerangka kerja tersebut, lanjut sumber tersebut.

Laporan serupa juga diterbitkan Bloomberg. Namun, tokoh-tokoh pro-Ukraina kompak menentang proposal tersebut—yang belum difinalisasi dan belum dikonfirmasi secara independen.

Ketika dihubungi oleh Newsweek, Gedung Putih menolak berkomentar.

"Kami tidak akan mengomentari diskusi yang sedang berlangsung. Jika ada rincian, Gedung Putih akan mengumumkannya secara resmi," kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih Brian Hughes.

Para pengguna media sosial pro-Ukraina menyatakan kemarahan atas laporan tentang proposal pemerintah Trump tersebut.

Akun "Jay in Kyiv", misalnya, yang memposting bahwa langkah tersebut akan membuat AS bergabung dengan jajaran kleptokrasi yang mengerikan seperti Korea Utara, Belarus, Rusia, Nikaragua, dan Venezuela.

Peneliti senior CEPA Olga Lautman memposting, "Crimea adalah dan akan selalu menjadi Ukraina, tidak peduli apa yang dikatakan Trump dan para penjahatnya."

Akun X "UA Voyager" menulis bahwa sebagai seseorang dari Crimea, pihaknya melihat aneksasi dari dekat, menambahkan, "Saya tahu seperti apa rasanya pendudukan. Saya tahu berapa banyak orang di Crimea yang masih percaya pada Ukraina. Dan sekarang—saya benar-benar tidak bisa berkata apa-apa."

Kelompok Ukraine Front Line, yang dijalankan oleh EuroMaidan PR, memposting bahwa jika Trump mengakui Crimea atau wilayah mana pun sebagai milik Rusia, maka semua negosiasi akan batal.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Bom Ransel Meledak di...
Bom Ransel Meledak di Apartemen Monako, Oligarki Ukraina Vadym Iermolaiev Terluka
Inggris Akan Ganti 6...
Inggris Akan Ganti 6 Kapal Perusak Tua dengan 6 Kapal Perang Hibrida Pengendali Drone
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Harga Bensin di AS Tetap...
Harga Bensin di AS Tetap Mahal meski Minyak Dunia Rontok, Trump Semprot Raksasa Energi
Burkina Faso Putuskan...
Burkina Faso Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Prancis
Hilang Misterius 12...
Hilang Misterius 12 Tahun Silam, Pencarian Pesawat Malaysia Airlines MH370 Diperpanjang Setahun
Rekomendasi
Jokowi Hadiri HUT Ke-80...
Jokowi Hadiri HUT Ke-80 Bhayangkara di Cikeas
MUI Siapkan Naskah Akademik...
MUI Siapkan Naskah Akademik RUU Pidana LBGT, DPR Janji Tindak Lanjuti
Berjasa Besar bagi Bahasa...
Berjasa Besar bagi Bahasa dan Budaya, Sutan Takdir Alisjahbana Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Berita Terkini
Bagaimana Iran Menggunakan...
Bagaimana Iran Menggunakan Strategi Ubur-ubur untuk Menjatuhkan Jet Tempur AS?
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Raja Charles Kehilangan...
Raja Charles Kehilangan Gelar Bersejarah Pembela Iman
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Infografis
Donald Trump - Elon...
Donald Trump - Elon Musk Memanas, Perang Alien Vs Predator Dimulai?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved