Hamas Tolak Usulan Gencatan Senjata yang Mendesak Pejuang Palestina Menyerah

Rabu, 16 April 2025 - 06:08 WIB
loading...
Hamas Tolak Usulan Gencatan...
Pejuang Hamas berdiri di dekat perbatasan Gaza dan Israel. Foto/anadolu
A A A
GAZA - Hamas menolak usulan gencatan senjata yang akan membuat semua kelompok bersenjata di Gaza "menyerah" kepada Israel.

Gerakan Palestina tersebut menuduh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyabotase upaya untuk menengahi gencatan senjata dan mengakhiri perang selama 18 bulan.

Pejabat senior Hamas Sami Abu Zuhri mengatakan kepada Al Jazeera Arabic pada hari Senin (14/4/2025) bahwa kelompok tersebut "terbuka terhadap semua tawaran yang meringankan penderitaan rakyat kami", tetapi rancangan usulan Israel terbaru menuntut Palestina setuju untuk "menyerah."

"Netanyahu menetapkan kondisi yang mustahil untuk menyabotase perjanjian gencatan senjata," ujar Abu Zuhri.

"Dalam usulan terbarunya, pendudukan (Israel) tidak berkomitmen menghentikan perang sepenuhnya, mereka hanya ingin menerima tawanan. Kami siap membebaskan semua tawanan yang hidup dan mati sekaligus sebagai imbalan mengakhiri perang dan menarik diri dari Jalur Gaza," papar dia.

"Menyerah bukanlah pilihan bagi gerakan Hamas, dan kami tidak akan menerima penolakan atas keinginan rakyat kami... Hamas tidak akan menyerah, tidak akan mengibarkan bendera putih, dan akan menggunakan semua kartu tekanan terhadap pendudukan," tegas dia.

Menurut rancangan usulan gencatan senjata Israel, yang salinannya telah dilihat Middle East Eye, inisiatif tersebut menyerukan 45 hari masa tenang yang akan membebaskan semua tawanan Israel sebagai bagian dari kesepakatan bertahap.

Usulan tersebut, yang terdiri dari 12 poin, menyatakan setengah dari tawanan Israel harus dibebaskan pada pekan pertama sebagai imbalan atas makanan dan bantuan memasuki daerah kantong yang dilanda perang tersebut.

Selama lebih dari enam pekan, Israel, yang didukung penuh oleh Amerika Serikat (AS), Inggris, dan negara-negara barat lainnya, telah menolak mengizinkan pasokan penyelamat, termasuk makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan minyak goreng, untuk memasuki wilayah tersebut.

Pekan lalu, Jaringan Organisasi Non-Pemerintah Palestina (PNGO) memperingatkan situasi di Gaza telah mencapai "tahap kelaparan tingkat lanjut," yang diperburuk oleh pengeboman gudang makanan, pabrik desalinasi air, dan penutupan dapur umum.

Peringatan itu muncul beberapa jam setelah Menteri Keuangan sayap kanan Israel, Bezalel Smotrich, bersumpah "bahkan sebutir gandum pun" tidak akan masuk ke Gaza.

Sejak dimulainya perang, para ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kelompok hak asasi manusia terkemuka menuduh Israel melakukan genosida terhadap warga Palestina.

Pada bulan November, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu dan mantan menteri pertahanan Yoav Gallant, menuduh mereka melakukan berbagai kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Beberapa hari sebelum ICC mengeluarkan surat perintah penangkapannya, laporan komite khusus PBB menuduh Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata perang dan menuntut kebijakan dan praktik di Gaza yang dapat menyebabkan "kemungkinan genosida".

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, 1.482 warga Palestina telah tewas akibat serangan Israel di Gaza sejak Israel melanggar gencatan senjata bulan lalu.

Jumlah korban tewas secara keseluruhan lebih dari 50.000, dengan 10.000 warga Palestina hilang dan diduga tewas.

Baca juga: Panglima Militer Israel Sebut Tujuan Perang Gaza Tidak Akan Tercapai, Ini 3 Pemicunya
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
India Tuntut Pertanggungjawaban...
India Tuntut Pertanggungjawaban atas Para Pelaku Pemboman Sekolah
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
Dubes Iran Tegas Tolak...
Dubes Iran Tegas Tolak Gencatan Senjata di Gaza: Palestina Harus Dibebaskan!
Presiden Serbia Aleksandar...
Presiden Serbia Aleksandar Vučić Umumkan Pengunduran Diri
Presiden Korsel Lee...
Presiden Korsel Lee Jae Myung Murka Negaranya Tersingkir di Piala Dunia: Tidak Kompeten!
Rekomendasi
Pendapatan Melonjak...
Pendapatan Melonjak 47,7%, KPIG Raih Laba Bersih Rp724,2 Miliar di 2025
Perkuat Industri Maritim,...
Perkuat Industri Maritim, BKI Dorong Kolaborasi PIKKI Bersama PT PAL
Sundulan Issa Diop Paksa...
Sundulan Issa Diop Paksa Laga Belanda vs Maroko Lanjut ke Extra Time
Berita Terkini
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Momen Penyelamatan...
5 Momen Penyelamatan Korban Gempa Venezuela yang Mengharukan
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Bom Ransel Meledak di...
Bom Ransel Meledak di Apartemen Monako, Oligarki Ukraina Vadym Iermolaiev Terluka
Infografis
3 Senjata Canggih Iran...
3 Senjata Canggih Iran yang Ciptakan Mimpi Buruk bagi AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved