Rusia Mencap Menlu Pertamanya Agen Asing karena Mengkritik Keras Putin dan Perang Ukraina

Sabtu, 12 April 2025 - 11:52 WIB
loading...
Rusia Mencap Menlu Pertamanya...
Rusia mencap menlu pertamanya Andrei Kozyrev sebagai agen asing setelah mengkritik keras Presiden Vladimir Putin dan perangnya melawan Ukraina. Foto/Times of India
A A A
MOSKOW - Pemerintah Rusia telah mencap menteri luar negeri (menlu) pertamanya di era pasca-Soviet Andrei Kozyrev sebagai "agen asing". Label tersebut diumumkan setelah Korzyrev mengkritik keras Presiden Vladimir Putin dan perangnya melawan Ukraina.

Dalam sebuah pengumuman, Kementerian Kehakiman Rusia menuduh Kozyrev menyebarkan berita palsu tentang negara tersebut.

Kozyrev pernah menjabat sebagai menteri luar negeri di bawah Boris Yeltsen— perdana menteri pertama Rusia setelah runtuhnya Uni Soviet (USSR) pada tahun 1991.

Baca Juga: Putin: Rusia Segera Habisi Militer Ukraina!

Saat itu Rusia berada di bawah tekanan ekonomi yang parah, dan untuk meliberalisasi ekonomi, harus mempertahankan hubungan yang dekat dan bersahabat dengan Barat—Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Vladimir Putin menjadi Presiden Rusia, Kozyrev, yang saat itu telah lengser dari jabatannya, menentang banyak kebijakan Putin.

Selama lebih dari satu dekade, mantan diplomat yang tidak puas itu tinggal di Moskow, tetapi pada tahun 2010, memutuskan untuk pindah secara permanen ke Amerika Serikat, yang menyambutnya dengan baik.

Sejak meninggalkan Moskow, Kozyrev berubah menjadi kritikus yang blakblakan dan keras terhadap Vladimir Putin, sering kali menyuarakan ketidaksetujuannya yang tak tergoyahkan terhadap kebijakannya.

Sejak awal perang Rusia-Ukraina, Kozyrev mengecam kampanye militer Rusia di Ukraina.

Dalam beberapa minggu pertama perang, Kozyrev menghubungi mantan koleganya di Kementerian Luar Negeri Rusia untuk mengundurkan diri sebagai bentuk protes.

Selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun, dia membangun kampanye melawan pemerintah Rusia dan terus secara aktif mengkritik serangan Moskow.

Menteri Luar Negeri Rusia saat ini, Sergey Lavrov, pernah menjadi wakil Kuzyrev saat dia menjabat sebagai menteri luar negeri Rusia antara tahun 1990 dan 1996.

Setelah perang Rusia-Ukraina pecah pada tahun 2022, Kuzyrev menulis, "Dulu Lavrov selalu mendukung saya. Sekarang, saya akan melindungi diri jika dia mendukung saya."

Pada hari Jumat, Kementerian Kehakiman Rusia merilis pernyataan yang menuduh mantan menteri luar negerinya tersebut menyebarkan "informasi palsu" tentang pemerintah Rusia dan kebijakannya, serta militer Rusia.

Pernyataan tersebut mencatat penentangan Kozyrev yang terus-menerus terhadap Kremlin dan "operasi militer khusus" Moskow di Ukraina.

Dengan menyebutnya sebagai "agen asing", pernyataan tersebut menuduh mantan diplomat tinggi tersebut bekerja sama "dengan platform asing" untuk membangun narasi anti-Rusia di Amerika Serikat dan sekitarnya, tetapi tidak menyebutkan rincian klaim ini.

Sebutan "agen asing" Rusia mengandung konotasi negatif era Soviet dan mewajibkan orang-orang untuk mengidentifikasi diri mereka sebagai "agen asing" di semua platform media sosial serta publikasi, baik offline maupun online.

Sebutan ini juga mewajibkan mereka untuk melaporkan transaksi keuangan dan jejaknya di Rusia.

Menanggapi langkah pemerintah Rusia yang melabelinya sebagai "agen asing", Kozyrev mengejek keputusan tersebut, dengan mengatakan bahwa hal itu mencerminkan pola pikir Kremlin, yang menyoroti "kebodohan rezim".

"Saya senang bergabung dengan semua orang mulia yang juga telah ditetapkan sebagai agen asing oleh Rusia," katanya, seperti dikutip NDTV, Sabtu (12/4/2025).
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
Runtuhkan Dolar AS,...
Runtuhkan Dolar AS, Putin Kumpulkan 11 Pemimpin ASEAN Termasuk Indonesia
Dampak Kunjungan Trump,...
Dampak Kunjungan Trump, China Perketat Pembatasan Aktivis dan Pengawasan Domestik
Abaikan AS, Netanyahu...
Abaikan AS, Netanyahu Ngotot Tak Akan Tarik Pasukan Israel dari Lebanon
Rekomendasi
Peserta Jumtek PMR-Relawan...
Peserta Jumtek PMR-Relawan Antusias Adu Tangkas Tandu Darurat hingga Belajar Bahasa Isyarat
Disambut Antusias! 86...
Disambut Antusias! 86 SD Ikuti Audisi Liga Bintang Juara GTV di Depok
Cristiano Ronaldo Mengamuk,...
Cristiano Ronaldo Mengamuk, Portugal Pulangkan Uzbekistan
Berita Terkini
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Awas, AI dalam Beberapa...
Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
Infografis
6 Strategi Iran Memperpanjang...
6 Strategi Iran Memperpanjang Durasi Perang dengan AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved