Jenderal Tertinggi Ukraina Minta Mobilisasi 30.000 Tentara Per Bulan untuk Perang Melawan Rusia

Kamis, 10 April 2025 - 05:59 WIB
loading...
Jenderal Tertinggi Ukraina...
Panglima Militer Ukraina Kolonel Jenderal Oleksandr Syrsky minta mobilisasi 30.000 tentara setiap bulan untuk mempertahankan perlawanan terhadap tentara Rusia. Foto/Kyiv Independent/Telegram
A A A
KYIV - Panglima Militer Ukraina Kolonel Jenderal Oleksandr Syrsky mengatakan Kyiv harus memobilisasi 30.000 tentara setiap bulan untuk mempertahankan perlawanan terhadap tentara Rusia.

Jenderal tertinggi Kyiv itu juga menyoroti kesenjangan yang semakin besar antara kemampuan militer kedua negara.

Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada hari Rabu oleh outlet Ukraina; lb.ua, Syrsky mengeklaim bahwa Rusia dapat memobilisasi hingga 5 juta tentara terlatih dan berpengalaman, dengan total kekuatan potensial sebesar 20 juta tentara.

Baca Juga: Tentara China Ikut Perang Sokong Rusia Melawan Ukraina, AS Cemas

Dia menekankan kesenjangan ini untuk menggarisbawahi urgensi mobilisasi lanjutan oleh Ukraina di tengah meningkatnya tekanan medan perang.

Menurut Syrsky, pasukan Rusia telah meningkat lima kali lipat sejak konflik meningkat pada tahun 2022 dan kini berjumlah sekitar 623.000 personel.

“Setiap bulan, mereka menambahnya sebanyak 8.000-9.000; dalam setahun, jumlahnya menjadi 120.000-130.000,” katanya.

Rusia telah menghindari wajib militer nasional secara penuh. Setelah mobilisasi parsial pada musim gugur 2022, Kremlin sebagian besar mengandalkan tentara kontrak dan insentif finansial untuk merekrut sukarelawan.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan pada bulan Desember bahwa pada tahun 2024 lebih dari 1.000 sukarelawan menandatangani kontrak setiap hari untuk maju ke garis depan.

Syrksy mengeklaim bahwa di beberapa daerah garis depan pasukan Rusia lebih banyak jumlahnya daripada Ukraina dengan rasio sepuluh banding satu, yang menggambarkan meningkatnya tekanan pada personel militer Ukraina.

Setelah konflik meningkat, Ukraina mengumumkan mobilisasi umum, melarang sebagian besar pria berusia 18 hingga 60 tahun meninggalkan negara itu. Namun, kampanye tersebut telah dirusak oleh korupsi dan penghindaran wajib militer.

Sebagai respons, Kyiv menurunkan usia wajib militer menjadi 25 tahun dan memberlakukan hukuman yang lebih ketat untuk penghindaran wajib militer dan desersi tahun lalu.

Mengingat kekurangan pasukan yang parah dan meningkatnya korban, Ukraina juga meluncurkan program kontrak militer sukarela baru pada bulan Februari yang menargetkan pria berusia 18–24 tahun, yang bertujuan untuk meningkatkan perekrutan sambil mengatasi tekanan Barat untuk menurunkan usia wajib militer.

Program tersebut menawarkan kontrak satu tahun dengan pembayaran 1 juta hryvnia (USD24.000)—empat kali lipat dari tarif standar—ditambah bonus tempur bulanan mulai dari 120.000 hryvnia (USD2.880), bersama dengan manfaat lainnya.

Untuk mengatasi kekurangan rekrutmen, petugas pendaftaran Ukraina telah mengadopsi metode yang semakin kejam untuk mengisi jajaran. Dalam beberapa bulan terakhir, banyak video yang beredar di media sosial telah menunjukkan petugas menahan pria di depan umum, sering kali menggunakan kekerasan fisik, dan mengangkut mereka dengan minibus ke pusat pendaftaran.

Ada juga laporan tentang cedera dan bahkan kematian yang melibatkan individu yang menolak upaya mobilisasi.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Mantan Menteri Kehakiman...
Mantan Menteri Kehakiman Korsel Divonis 25 Tahun Penjara Terkait Peran dalam Darurat Militer
Gempa Venezuela, Badan...
Gempa Venezuela, Badan Geologi AS Bikin Pemodelan Korban Tewas 10.000 hingga 100.000 Orang
Rekomendasi
Bank Mandiri Taspen...
Bank Mandiri Taspen dan PNM Gelar Pelatihan Vokasi untuk Difabel di Brebes
Sarwendah Undang Ruben...
Sarwendah Undang Ruben Onsu Bertemu 11 Juli, Konflik Keluarga Diharapkan Berakhir Damai
Kisah Jin Sakhr Merebut...
Kisah Jin Sakhr Merebut Takhta Nabi Sulaiman, hingga Kerajaannya Kembali pada 10 Muharram
Berita Terkini
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
PBB Ungkap Israel Bunuh...
PBB Ungkap Israel Bunuh Lebih dari 20.000 Anak Palestina
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Mengapa Negara-negara...
Mengapa Negara-negara Arab Khawatir Kesepakatan Iran Jadi Titik Balik yang Membawa Bencana?
Ketika Paris Lebih Panas...
Ketika Paris Lebih Panas dari Makkah, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Infografis
3 Alasan Greenland Jadi...
3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved