Mantan Presiden Filipina Duterte Naik Pesawat Menuju Den Haag usai Ditangkap
Rabu, 12 Maret 2025 - 02:01 WIB
loading...
A
A
A
Beberapa pendukung Duterte berunjuk rasa di gerbang Pangkalan Udara Villamor, di dalam kompleks bandara, tempat mantan presiden itu dibawa setelah penangkapannya.
Media pemerintah mengatakan lebih dari 370 polisi telah dikerahkan di sana dan ke "lokasi-lokasi penting" lainnya untuk memastikan kedamaian tetap terjaga.
Sementara para pendukungnya mengkritik penangkapan itu, para aktivis menyebutnya sebagai "momen bersejarah" bagi mereka yang tewas dalam perang narkoba yang dilakukannya dan keluarga mereka, menurut Koalisi Internasional untuk Hak Asasi Manusia di Filipina (ICHRP).
"Lengkungan alam semesta moral itu panjang, tetapi hari ini, ia telah condong ke arah keadilan. Penangkapan Duterte adalah awal dari pertanggungjawaban atas pembunuhan massal yang menandai pemerintahannya yang brutal," tegas Ketua ICHRP Peter Murphy.
Duterte berada di Hong Kong untuk berkampanye dalam pemilihan paruh waktu mendatang pada 12 Mei, di mana dia berencana mencalonkan diri lagi sebagai wali kota Davao.
Rekaman yang ditayangkan di televisi lokal menunjukkan dia berjalan keluar dari bandara menggunakan tongkat.
Pihak berwenang mengatakan dia dalam "kesehatan yang baik" dan dirawat oleh dokter pemerintah.
"Apa dosa saya? Saya melakukan segalanya demi perdamaian dan kehidupan yang damai bagi rakyat Filipina," ujar dia kepada kerumunan ekspatriat Filipina yang bersorak sebelum meninggalkan Hong Kong.
“Penangkapan Duterte menandai awal babak baru dalam sejarah Filipina," ujar ilmuwan politik Filipina Richard Heydarian.
"Ini tentang supremasi hukum dan hak asasi manusia," papar dia.
Heydarian menambahkan pihak berwenang telah menangkap Duterte segera di bandara alih-alih membiarkan masalah ini berjalan melalui pengadilan setempat untuk "menghindari kekacauan politik".
Media pemerintah mengatakan lebih dari 370 polisi telah dikerahkan di sana dan ke "lokasi-lokasi penting" lainnya untuk memastikan kedamaian tetap terjaga.
Sementara para pendukungnya mengkritik penangkapan itu, para aktivis menyebutnya sebagai "momen bersejarah" bagi mereka yang tewas dalam perang narkoba yang dilakukannya dan keluarga mereka, menurut Koalisi Internasional untuk Hak Asasi Manusia di Filipina (ICHRP).
"Lengkungan alam semesta moral itu panjang, tetapi hari ini, ia telah condong ke arah keadilan. Penangkapan Duterte adalah awal dari pertanggungjawaban atas pembunuhan massal yang menandai pemerintahannya yang brutal," tegas Ketua ICHRP Peter Murphy.
Duterte berada di Hong Kong untuk berkampanye dalam pemilihan paruh waktu mendatang pada 12 Mei, di mana dia berencana mencalonkan diri lagi sebagai wali kota Davao.
Rekaman yang ditayangkan di televisi lokal menunjukkan dia berjalan keluar dari bandara menggunakan tongkat.
Pihak berwenang mengatakan dia dalam "kesehatan yang baik" dan dirawat oleh dokter pemerintah.
"Apa dosa saya? Saya melakukan segalanya demi perdamaian dan kehidupan yang damai bagi rakyat Filipina," ujar dia kepada kerumunan ekspatriat Filipina yang bersorak sebelum meninggalkan Hong Kong.
“Penangkapan Duterte menandai awal babak baru dalam sejarah Filipina," ujar ilmuwan politik Filipina Richard Heydarian.
"Ini tentang supremasi hukum dan hak asasi manusia," papar dia.
Heydarian menambahkan pihak berwenang telah menangkap Duterte segera di bandara alih-alih membiarkan masalah ini berjalan melalui pengadilan setempat untuk "menghindari kekacauan politik".
Lihat Juga :