8 Negara Pemilik Mineral Tanah Langka Terbesar di Dunia, Harta Karun yang Diincar AS
Selasa, 11 Maret 2025 - 12:14 WIB
loading...
A
A
A
Logam tanah langka digunakan dalam berbagai perangkat elektronik seperti ponsel, tablet, speaker, dan baterai. Selain itu, juga dimanfaatkan dalam sektor kesehatan, otomotif, penerbangan, industri militer, dan juga pengembangan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
8. Greenland—wilayah otonomi Denmark (1,5 juta metrik ton)
"Mineral tanah langka termasuk mineral penting yang sangat penting bagi teknologi canggih, seperti chip semikonduktor, energi bersih dan teknologi penyimpanan energi, serta sistem pertahanan," kata Jane Nakano, peneliti Keamanan Energi dan Perubahan Iklim di Pusat Studi Strategis dan Internasional, kepada Newsweek.
China telah mendominasi kepemilikan "harta karun" tersebut, membuat banyak negara—termasuk AS—bergantung pada Beijing selama puluhan tahun.
Beijing telah menggunakan kekayaan mineral tanah langka sebagai "kartu" untuk mengalahkan Amerika dalam berbagai persaingan. Contoh sederhananya, jika China membatasi atau bahkan melarang ekspor mineral tanah langkanya, maka industri militer Amerika termasuk jet tempur siluman F-35 bisa terancam.
"Selama hampir 40 tahun, AS semakin bergantung pada China untuk [mineral] tanah langka mentah maupun olahan. Ketergantungan ini muncul karena AS memilih untuk tidak melakukan penambangan dan pemurnian dalam negeri, karena tidak mau menanggung biaya investasi dan lingkungan yang signifikan," kata Ryan Kiggins, seorang profesor ilmu politik di University of Central Oklahoma.
8 Negara Pemilik Mineral Tanah Langka Terbesar di Dunia
1. China (44 juta metrik ton)
2. Brasil (21 juta metrik ton)
3. India (6,9 juta metrik ton)
4. Australia (5,7 metrik ton)
5. Rusia (3,8 juta metrik ton)
6. Vietnam (3,5 juta metrik ton)
7. Amerika Serikat (1,9 juta metrik ton)
8. Greenland—wilayah otonomi Denmark (1,5 juta metrik ton)
"Mineral tanah langka termasuk mineral penting yang sangat penting bagi teknologi canggih, seperti chip semikonduktor, energi bersih dan teknologi penyimpanan energi, serta sistem pertahanan," kata Jane Nakano, peneliti Keamanan Energi dan Perubahan Iklim di Pusat Studi Strategis dan Internasional, kepada Newsweek.China telah mendominasi kepemilikan "harta karun" tersebut, membuat banyak negara—termasuk AS—bergantung pada Beijing selama puluhan tahun.
Beijing telah menggunakan kekayaan mineral tanah langka sebagai "kartu" untuk mengalahkan Amerika dalam berbagai persaingan. Contoh sederhananya, jika China membatasi atau bahkan melarang ekspor mineral tanah langkanya, maka industri militer Amerika termasuk jet tempur siluman F-35 bisa terancam.
"Selama hampir 40 tahun, AS semakin bergantung pada China untuk [mineral] tanah langka mentah maupun olahan. Ketergantungan ini muncul karena AS memilih untuk tidak melakukan penambangan dan pemurnian dalam negeri, karena tidak mau menanggung biaya investasi dan lingkungan yang signifikan," kata Ryan Kiggins, seorang profesor ilmu politik di University of Central Oklahoma.
Lihat Juga :