Ribuan Tentara Ukraina Terancam Dikepung Pasukan Rusia di Kursk

Minggu, 09 Maret 2025 - 13:50 WIB
loading...
Ribuan Tentara Ukraina...
Militer Ukraina menderita pukulan telak dalam perang di Kursk melawan pasukan Rusia selama tiga hari terakhir. Foto/Kementerian Pertahanan Rusia
A A A
KYIV - Militer Ukraina menderita pukulan telak dalam perang di Kursk melawan pasukan Rusia selama tiga hari terakhir. Sekarang ribuan tentara Kyiv terancam dikepung pasukan Moskow atau memilih mundur dari wilayah tersebut.

Ribuan tentara Ukraina awalnya menyerbu wilayah Kursk Rusia dalam serangan mendadak musim panas lalu. Kyiv berharap untuk menggunakan kehadiran pasukannya di Kursk sebagai pengaruh terhadap Moskow dalam setiap perundingan damai.

Namun situasi pasukan Ukraina di Kursk telah memburuk tajam dalam tiga hari terakhir, menurut peta sumber terbuka. Pasukan Rusia telah merebut kembali sebagian besar wilayah Kursk.

Baca Juga: Rudal Rusia Hancurkan Kendaraan Pasokan HIMARS Amerika di Ukraina, Ini Videonya

Situasi genting bagi Ukraina muncul setelah Washington menangguhkan pembagian intelijennya dengan Kyiv dan memunculkan kemungkinan bahwa pasukannya mungkin terpaksa mundur kembali ke Ukraina dengan situasi yang secara politik canggung dan psikologis sulit, atau berisiko ditangkap atau dibunuh.

Pembalikan situasi di medan perang tersebut terjadi pada saat Kyiv berada di bawah tekanan Amerika Serikat (AS) yang meningkat untuk menyetujui gencatan senjata dengan Moskow.

Itu juga terjadi saat pasukan Rusia terus maju di sepanjang bagian garis depan di dalam Ukraina, bahkan saat pasukan Ukraina melancarkan perlawanan di satu area.

“Situasi (untuk Ukraina di Kursk) sangat buruk,” kata Pasi Paroinen, seorang analis militer di Black Bird Group yang berbasis di Finlandia, kepada Reuters, Minggu (9/3/2025).

“Sekarang tidak banyak yang tersisa sampai pasukan Ukraina dikepung atau dipaksa mundur. Dan penarikan pasukan berarti menghadapi tantangan berbahaya, di mana pasukan akan terus-menerus diancam oleh pesawat nirawak dan artileri Rusia,” paparnya.

“Jika pasukan Ukraina tidak dapat memulihkan situasi dengan cepat, ini bisa menjadi momen di mana tonjolan Kursk akhirnya mulai tertutup menjadi kantong yang dikepung,” imbuh dia.

Tidak ada konfirmasi resmi dari Kementerian Pertahanan Rusia atau militer Ukraina mengenai dorongan pasukan Moskow, yang keduanya cenderung melaporkan perubahan medan perang dengan penundaan.

Yan Matveev, analis militer lainnya, mengatakan di Telegram bahwa Ukraina harus membuat pilihan yang sulit.

“Satu-satunya argumen yang mendukung mempertahankan pangkalan jembatan adalah alasan politik. Untuk menggunakan sisa-sisa pangkalan jembatan untuk tawar-menawar. Dan juga sedikit moral—lagipula, mundur adalah mundur,” katanya.

Membawa Perang ke Rusia


Serangan Ukraina ke Kursk Agustus lalu adalah serangan paling serius di wilayah Rusia sejak invasi Nazi ke Uni Soviet pada tahun 1941. Itu dirancang untuk membawa perang ke orang-orang Rusia biasa, yang telah coba dilindungi Kremlin dari dampak pertempuran yang berkecamuk di dalam Ukraina.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan bahwa hal itu juga ditujukan untuk mencoba meredakan tekanan pada pasukan Ukraina yang mempertahankan negara mereka sendiri dari pasukan Rusia di timur dengan memaksa Moskow mengalihkan sumber daya untuk mempertahankan wilayahnya sendiri, dan memberi Kyiv potensi tawar-menawar dalam perundingan damai di masa mendatang.

Serangan Ukraina ke Kursk memalukan bagi Moskow dan menimbulkan pertanyaan yang tidak mengenakkan tentang kemampuannya untuk melindungi perbatasannya sendiri.

Presiden Rusia Vladimir Putin telah berulang kali mengatakan pasukannya akan mendapatkan kembali kendali penuh atas Kursk dengan kekerasan dan menolak gagasan untuk menjadikannya bagian dari perundingan yang lebih luas di masa mendatang.

Pemetaan sumber terbuka dari Deep State, sumber blog militer Ukraina yang otoritatif, menunjukkan pada hari Jumat bahwa sekitar tiga perempat pasukan Ukraina di dalam Kursk kini hampir sepenuhnya dikepung oleh pasukan Rusia.

Deep State mengatakan pada Kamis malam bahwa pasukan Rusia telah maju di dekat pemukiman Kuryilovka. Dalam pembaruan yang dirilis pada hari Jumat, disebutkan pula bahwa pasukan Rusia menekan posisi pasukan Ukraina di daerah perbatasan dengan wilayah Sumy sebagai bagian dari operasi yang sama dan bergerak untuk mencoba memblokir pasokan bagi pasukan Ukraina di dalam Kursk.

“Perlu dicatat bahwa musuh memiliki keunggulan dalam UAV (pesawat nirawak), baik pengintaian maupun penyerang. Yang paling umum digunakan adalah pesawat nirawak FPV. Mereka terutama bertanggung jawab atas pengendalian tembakan terhadap segala sesuatu yang bergerak ‘masuk’ atau ‘keluar’ dari wilayah Kursk,” kata Deep State dalam catatannya.

Yuri Podolyaka, seorang blogger perang Rusia yang berpengaruh, mengatakan pasukan Rusia telah menerobos selatan Sudzha, sebuah kota Rusia yang terletak di dalam kantong yang hampir terkepung.

“Angkatan Bersenjata Rusia telah membuat irisan yang dalam (hingga 4 kilometer) dan benar-benar mencapai rute pasokan alternatif ke Sudzha (yang digunakan musuh karena jalan utama tidak dapat digunakan),” tulis Podolyaka di saluran Telegramnya.

Seorang analis militer Ukraina dan mantan komandan, Evhen Dykyi, mengatakan pasukan Ukraina telah meningkatkan posisi mereka dalam satu atau dua hari terakhir di perbatasan Sudhza.

“Baru kemarin, kami meluncurkan serangan balik lagi ke sana,” katanya kepada Radio NV.

“Sekarang giliran kami untuk menyerang bagian belakang dan logistik mereka. Kita akan lihat seberapa sukses tindakan balasan ini nantinya.”

Staf Umum Ukraina, dalam laporan larut malam pada hari Jumat, mengatakan angkatan bersenjatanya telah menangkis 29 serangan Rusia di wilayah Kursk selama sehari terakhir. Pasukan Rusia, katanya, telah melancarkan 22 serangan udara.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Fregat Rusia Tembaki...
Fregat Rusia Tembaki Kapal Pesiar Inggris, Starmer: Tindakan Sembrono
2 Pesawat Pengebom Nuklir...
2 Pesawat Pengebom Nuklir dari 2 Negara Adikuasa yang Bermusuhan Jatuh di Hari yang Sama
Kapal Fregat Rusia Lepaskan...
Kapal Fregat Rusia Lepaskan Tembakan Peringatan di Selat Inggris
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN...
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN dan Perundingan Bilateral di Sela-selanya
Prabowo Batal Hadiri...
Prabowo Batal Hadiri KTT ASEAN-Rusia, Istana Ungkap Alasannya
Swiss Gelar Referendum...
Swiss Gelar Referendum untuk Batasi Populasi hingga 10 Juta Jiwa
Pangeran George Resmi...
Pangeran George Resmi Masuk Eton College, Biayanya Rp1,4 Miliar per Tahun!
Rekomendasi
Bawa Archie dan Lilibet...
Bawa Archie dan Lilibet ke Inggris, Pangeran Harry Berharap Bisa Bertemu Raja Charles
Saat Messi Bersinar,...
Saat Messi Bersinar, Ronaldo Justru Tenggelam
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Berita Terkini
Arab Saudi Kebut Pembangunan...
Arab Saudi Kebut Pembangunan Jeddah Tower 1.000 Meter, Gedung Tertinggi di Dunia Kalahkan Burj Khalifa
Trump: AS Harus Kembalikan...
Trump: AS Harus Kembalikan Uang Iran atau Kepercayaan Dunia pada Dolar Rusak
Analis Israel: Netanyahu...
Analis Israel: Netanyahu Pembohong yang Dipermalukan Trump dalam Kesepakatan AS-Iran
AS Identifikasi 8 Awak...
AS Identifikasi 8 Awak Tewas dalam Jatuhnya Bomber Nuklir B-52, Ini Daftarnya
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Trump Telah Teken Nota...
Trump Telah Teken Nota Kesepahaman AS-Iran, Ini Rincian 14 Poinnya
Infografis
7 Rudal Jelajah Terkuat...
7 Rudal Jelajah Terkuat di Dunia, Misil-Misil Rusia Mendominasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved