Bertengkar dengan Zelensky, Trump Hentikan Bantuan Militer AS untuk Ukraina

Selasa, 04 Maret 2025 - 10:05 WIB
loading...
Bertengkar dengan Zelensky,...
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) hentikan bantuan militer Amerika untuk Ukraina setelah dirinya bertengkar dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Foto/New York Times
A A A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghentikan bantuan militer Amerika untuk Ukraina pada hari Senin.

Langkah tersebut diambil Trump setelah dirinya terlibat pertengkaran verbal yang dramatis dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Oval Office Gedung Putih pada Jumat pekan lalu.

Penghentian bantuan militer AS akan dengan cepat melemahkan peluang Ukraina untuk mengalahkan invasi Rusia.

"Presiden telah menjelaskan bahwa dia fokus pada perdamaian. Kami membutuhkan mitra kami untuk berkomitmen pada tujuan itu juga," kata seorang pejabat Gedung Putih kepada AFP, yang berbicara dengan syarat anonim saat mengonfirmasi keputusan Trump.

Baca Juga: Rusia Ledek Kanada yang Bakal Ikut-ikutan Kerahkan Tentara ke Ukraina

"Kami sedang menghentikan sementara dan meninjau bantuan kami untuk memastikan bahwa itu berkontribusi pada solusi," imbuh pejabat tersebut, yang dilansir Selasa (4/3/2025).

Trump pada hari Senin juga memperingatkan bahwa Zelensky tidak akan bertahan lebih lama dengan sikap menantangnya, dan mengatakan pemimpin Ukraina itu seharusnya lebih menghargai dukungan AS.

Penghentian bantuan militer sementara tersebut berlaku segera dan memengaruhi persenjataan senilai ratusan juta dolar yang sedang dikirim ke Ukraina, menurut laporan New York Times.

Zelensky, pada bagiannya, mengatakan pada hari Senin bahwa dia mengupayakan agar perang berakhir secepat mungkin.

Komentar tersebut muncul setelah presiden Ukraina menuduh Rusia—yang menginvasi Ukraina pada tahun 2014 dan memperluas konflik pada tahun 2022—tidak serius tentang perdamaian.

Zelensky bersikeras bahwa jaminan keamanan yang ketat adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri konflik.

Namun, sikap Trump telah mengubah dukungan AS untuk Ukraina, dan sekutu Washington secara lebih luas, serta memicu kekhawatiran tentang Amerika Serikat yang beralih ke Rusia.

Dukungan Eropa untuk Ukraina


Setelah pembicaraan krisis akhir pekan di London, Inggris dan Prancis sedang menyelidiki cara mengusulkan gencatan senjata selama satu bulan "di udara, di laut, dan di infrastruktur energi"—yang berpotensi didukung oleh pasukan di darat.

Zelensky mengatakan diskusi masih berfokus pada "langkah pertama", seraya menambahkan: "Kesepakatan untuk mengakhiri perang masih sangat, sangat jauh"—komentar yang membuat Trump marah.

Zelensky menambahkan dalam sebuah pernyataan video pada hari Senin bahwa "perdamaian yang nyata dan jujur" hanya akan datang dengan jaminan keamanan bagi Ukraina, yang setuju untuk denuklirisasi pada tahun 1994 hanya dengan imbalan perlindungan yang diberikan oleh Amerika Serikat dan Inggris.

"Kurangnya jaminan keamanan bagi Ukraina 11 tahun lalu yang memungkinkan Rusia untuk memulai pendudukan Crimea dan perang di Donbas, kemudian kurangnya jaminan keamanan memungkinkan Rusia untuk melancarkan invasi skala penuh," kata Zelensky.

Rusia menolak komentarnya, menuduh Zelensky tidak menginginkan perdamaian—menggemakan kritik AS setelah dia dibentak di Oval Office oleh Trump dan Wakil Presiden AS JD Vance pada hari Jumat.

Di lapangan, pejabat Ukraina melaporkan kematian akibat serangan rudal Rusia di fasilitas pelatihan militer, sekitar 130 kilometer (80 mil) dari garis depan.

Seorang blogger militer yang disegani mengatakan antara 30 hingga 40 tentara tewas dan 90 lainnya terluka dalam serangan di dekat Dnipro pada hari Sabtu.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mahkamah Agung Batalkan...
Mahkamah Agung Batalkan Perintah Kewarganegaraan Berdasarkan Kelahiran Trump
Dewan Perdamaian Ungkap...
Dewan Perdamaian Ungkap Kendaraan Taktis Pertama Tiba di Pangkalan Multinasional Dekat Gaza
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
Rusia Sedang Dibakar...
Rusia Sedang Dibakar Ukraina, Putin Tidak Akan Gentar
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Donald Trump Raup Rp25...
Donald Trump Raup Rp25 Triliun dari Bisnis Kripto, Lampaui Pendapatan Properti yang Dibangun Puluhan Tahun
Korban Tewas Gempa Dahsyat...
Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Mencapai 920 Orang, Pencarian Korban Masih Berlangsung
Kalahkan Jerman di Piala...
Kalahkan Jerman di Piala Dunia, Paraguay Umumkan Hari Libur Nasional
Rekomendasi
Prabowo: Polri Harus...
Prabowo: Polri Harus Hadir Melindungi, Melayani, dan Mengabdi kepada Rakyat
Sujud Syukur Tidak Boleh...
Sujud Syukur Tidak Boleh Sembarangan, Ini Syarat dan Tata Caranya Menurut Ulama
Dirjenbun Kementan Pastikan...
Dirjenbun Kementan Pastikan Perlindungan dan Pemberdayaan Petani
Berita Terkini
Jelang Pemilu, Netanyahu...
Jelang Pemilu, Netanyahu Ngotot Usir Warga Palestina dari Gaza
China akan Bawa AI ke...
China akan Bawa AI ke Setiap Ruang Kelas, dari SD hingga Universitas
Mahkamah Agung Batalkan...
Mahkamah Agung Batalkan Perintah Kewarganegaraan Berdasarkan Kelahiran Trump
Militer Israel Kembangkan...
Militer Israel Kembangkan Senjata Laser Antariksa untuk Serang Satelit
Dewan Perdamaian Ungkap...
Dewan Perdamaian Ungkap Kendaraan Taktis Pertama Tiba di Pangkalan Multinasional Dekat Gaza
Jumlah Korban Tewas...
Jumlah Korban Tewas Akibat Gempa Bumi Venezuela Meningkat Jadi 1.943 Jiwa
Infografis
True Promise 4 Mengamuk!...
True Promise 4 Mengamuk! Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved