Prancis: Risiko Perang Eropa Tidak Pernah Setinggi Ini

Senin, 03 Maret 2025 - 21:38 WIB
loading...
Prancis: Risiko Perang...
Risiko Perang Eropa sangat tinggi karena konflik Ukraina dan Rusia. Foto/X
A A A
MOSKOW - Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot mengatakan risiko perang Eropa meningkat karena "garis depan Ukraina terus mendekati kita."

"Risiko perang di Eropa, di Uni Eropa tidak pernah setinggi ini... ancaman terus mendekati kita, garis depan terus mendekati kita," kata Barrot kepada radio France Inter.

Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan Prancis dan Inggris mengusulkan gencatan senjata parsial selama satu bulan yang tidak akan mencakup pertempuran darat.

Barrot menambahkan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina pada infrastruktur udara, laut, dan energi, jika diterima, dapat memungkinkan Ukraina dan sekutunya untuk menentukan apakah Presiden Rusia Vladimir Putin bertindak dengan itikad baik dan bersedia memulai negosiasi untuk kesepakatan damai jangka panjang.

Sementara itu, Kremlin mengatakan janji yang dibuat oleh para pemimpin Eropa di pertemuan puncak London selama akhir pekan untuk meningkatkan pendanaan ke Kyiv hanya akan memperpanjang konflik di Ukraina.

Juru bicara Dmitry Peskov mengatakan hasil pertemuan puncak tersebut, termasuk kesepakatan rudal pertahanan udara senilai USD2 miliar dari Inggris, akan memungkinkan permusuhan terus berlanjut.

Ia menambahkan bahwa Zelenskyy harus dipaksa untuk mencari perdamaian dan mengklaim bentrokannya dengan Presiden AS Donald Trump menunjukkan betapa sulitnya mencapai penyelesaian konflik tersebut.

Ketika ditanya tentang pernyataan Zelenskyy tentang tidak menyerahkan wilayah apa pun kepada Rusia, Peskov mengatakan bahwa situasi di lapangan telah berubah sejak perundingan Istanbul yang gagal pada tahun 2022.

"Hanya orang buta yang tidak dapat melihat ini," tambahnya.

Baca Juga: Panggil 400.000 Tentara Cadangan, PM Israel Siapkan Perang Besar di Gaza

Sementara itu, Prancis dan Inggris belum menyetujui rencana gencatan senjata parsial untuk Ukraina, kata seorang menteri Inggris, setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan rencana itu diusulkan oleh kedua negara.

"Belum ada kesepakatan yang dibuat tentang seperti apa gencatan senjata itu," kata Menteri Pertahanan Luke Pollard kepada Times Radio. “Namun, kami bekerja sama dengan Prancis dan sekutu Eropa untuk perdamaian abadi.”

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa ia berbicara dengan Macron tentang jaminan keamanan bagi negaranya, seraya menambahkan bahwa gencatan senjata yang lemah dengan Rusia hanya akan menjadi "awal" bagi agresi Rusia yang lebih besar terhadap negaranya atau negara lain di Eropa.

Kemudian, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah menyerukan "kekuatan kolektif yang lebih besar dari dunia" untuk memaksa Rusia menghentikan serangannya, karena Kyiv terus berjuang untuk "perdamaian yang adil dan dapat diandalkan."

"Kami ingin perang ini berakhir. Namun Rusia tidak, dan terus melakukan teror udara," tulis Zelensky di media sosial, seraya menambahkan bahwa Moskow meluncurkan lebih dari 1.050 serangan pesawat nirawak, hampir 1.300 bom udara, dan lebih dari 20 rudal ke Ukraina selama seminggu terakhir.

"Mereka yang mencari negosiasi tidak dengan sengaja menyerang warga sipil dengan rudal balistik," katanya.

Kremlin sebelumnya menuduh pemimpin Ukraina menunjukkan "kurangnya keterampilan diplomatik" dan tidak menyadari kenyataan di medan perang.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
140 Drone Ukraina Hajar...
140 Drone Ukraina Hajar St Petersburg, Rusia: Serangan Ini Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Putin: Serangan Rudal...
Putin: Serangan Rudal Hipersonik Oreshnik Rusia terhadap Ukraina Hanya Tes, Belum Skala Penuh
PM Inggris: Rusia Akan...
PM Inggris: Rusia Akan Serang NATO 4 Tahun Lagi
Drone Ukraina Meledak...
Drone Ukraina Meledak Sendiri di Pelabuhan Negara NATO, Kyiv Tuduh Rusia Kerjai Sinyalnya
Zelensky Tantang Putin...
Zelensky Tantang Putin Bertemu Tatap Muka, Kremlin: Datanglah ke Moskow!
AS Batal Kirim Rudal...
AS Batal Kirim Rudal Tomahawk ke Jerman Diduga Khawatir dengan Pembalasan Rusia
Kamuflase Kendaraan...
Kamuflase Kendaraan Perang Rusia Bisa Mengecoh Drone Berteknologi AI
Putin: Rusia Siap Berkompromi...
Putin: Rusia Siap Berkompromi untuk Capai Perdamaian dengan Ukraina
Mobil Dibom Israel,...
Mobil Dibom Israel, Jenderal Angkatan Darat Lebanon Tewas
Rekomendasi
Presiden KSPI: Said...
Presiden KSPI: Said Iqbal Akan Dilantik Jadi Penasihat Presiden Bidang Ketenagakerjaan
Cinta Laura Dukung Kegiatan...
Cinta Laura Dukung Kegiatan CFD Jadi Ajang Gen Z dan Gen Alpha Bersosialisasi
Pramono Tegaskan 2.843...
Pramono Tegaskan 2.843 Lowongan Padat Karya Program Jangka Pendek
Berita Terkini
5 Alasan Iran Serang...
5 Alasan Iran Serang Bahrain dan Kuwait, Menekan AS Memenuhi Tuntutan Teheran
Gerakan Protes Gen Z...
Gerakan Protes Gen Z Guncang Ibu Kota India: Aku Seekor Kecoak!
Hamas Ungkap Pertemuan...
Hamas Ungkap Pertemuan di Kairo Bahas Penerapan Gencatan Senjata Gaza
Ilmuwan Bikin Roti dengan...
Ilmuwan Bikin Roti dengan Ragi dari Kulit Mumi Berusia 5.300 Tahun
AS Pertimbangkan Gunakan...
AS Pertimbangkan Gunakan Aset Iran untuk Biaya Rekonstruksi Negara-negara Teluk
Israel Bunuh 3 Tentara...
Israel Bunuh 3 Tentara Lebanon, Presiden Aoun Murka
Infografis
APBN Pernah Jebol Nyaris...
APBN Pernah Jebol Nyaris Rp1.000 Triliun, Ini 6 Defisit Terbesar Sepanjang Sejarah Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved