Trump Usul AS-Rusia-China Potong Anggaran Militer 50%, Putin Dukung, Beijing Menolak

Kamis, 27 Februari 2025 - 08:58 WIB
loading...
Trump Usul AS-Rusia-China...
Presiden Donald Trump usul AS, Rusia, China sama-sama potong anggaran militer 50 persen. Moskow mendukung, tapi China menolak. Foto/SCMP
A A A
BEIJING - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mengusulkan agar Amerika, Rusia, dan China sama-sama memotong anggaran militer hingga 50 persen.

Presiden Rusia Vladimir Putin mendukung gagasan Trump, namun China menolaknya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menegaskan bahwa belanja pertahanan Beijing yang terbatas diperlukan untuk melindungi kedaulatan nasional, keamanan, dan kepentingan pembangunannya.

Baca Juga: Donald Trump Tolak Sebut Vladimir Putin Diktator

Lin menekankan bahwa pengeluaran pertahanan China saat ini dibenarkan oleh kebutuhannya untuk menjaga keamanan dalam negeri dan berkontribusi pada perdamaian global.

Usulan Trump itu disampaikan 13 Februari lalu. "Salah satu pertemuan pertama yang ingin saya lakukan adalah dengan Presiden Xi [Jinping] dari China, Presiden [Vladimir] Putin dari Rusia. Dan saya ingin mengatakan: 'Mari kita potong anggaran militer kita menjadi setengahnya'," katanya saat itu.

"Dan kita bisa melakukannya. Dan saya pikir kita akan mampu melakukannya," ujarnya.

Putin pada hari Senin mendukung usulan Trump, menyebutnya sebagai ide yang bagus.

"Saya pikir itu ide yang bagus. AS akan memotong sebesar 50 persen dan kami akan memotong sebesar 50 persen dan kemudian China akan bergabung, jika mereka mau," kata Putin dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah Rusia.

Saat dimintai tanggapannya terhadap komentar Trump dan Putin, Lin mengatakan dalam jumpa pers bahwa China berkomitmen untuk pembangunan yang damai.

"China menegakkan strategi pertahanan diri, mengejar pembangunan yang terkoordinasi antara ekonomi dan pertahanan nasionalnya, dan tidak pernah terlibat dalam perlombaan senjata dengan negara mana pun," kata Lin, yang dilansir PTI, Kamis (27/2/2025).

Dia menambahkan bahwa Beijing telah bekerja untuk perdamaian dunia melalui tindakan konkret dan menyuntikkan stabilitas dan kepastian ke dunia.

China, yang merupakan pembelanja pertahanan terbesar kedua setelah AS, tahun lalu meningkatkan anggaran pertahanannya sebesar 7,2 persen menjadi sekitar USD232 miliar (1,67 triliun Yuan) karena terus melakukan modernisasi besar-besaran militernya di semua angkatan bersenjatanya.

Spekulasi tersebar luas bahwa Beijing mungkin juga akan meningkatkan pengeluaran pertahanannya tahun ini di tengah pernyataan Trump untuk lebih meningkatkan militer AS.

Lin mengatakan belanja pertahanan global mencapai rekor tertinggi tahun lalu.

“Menurut statistik, belanja pertahanan global tahun 2024 sekitar USD2,43 triliun, rekor tertinggi. Di balik peningkatan belanja pertahanan global yang terus-menerus adalah situasi keamanan internasional dan regional yang semakin tegang dan defisit keamanan yang terus meningkat,” katanya.

“Semua pihak menghadapi tantangan bersama dalam tata kelola keamanan global. Komunitas internasional, terutama negara-negara besar, harus memimpin dalam bertindak sebagai pendorong solidaritas global dan jangkar bagi perdamaian dunia,” katanya.

Rusia telah meningkatkan anggaran militer secara besar-besaran sejak melancarkan serangannya ke Ukraina pada tahun 2022, yang mendorong pertumbuhan ekonomi tetapi juga inflasi.

Putin mengatakan tahun lalu bahwa pada tahun 2024 anggaran pertahanan dan keamanan akan mencapai sekitar 8,7 persen dari PDB.

Dia mengatakan pada hari Senin bahwa dia tidak dapat berbicara atas nama China. "Tetapi Rusia dapat mencapai kesepakatan dengan AS (untuk memangkas anggaran), kami tidak menentangnya," ujarnya.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
Rusia Sedang Dibakar...
Rusia Sedang Dibakar Ukraina, Putin Tidak Akan Gentar
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Aroma Match Fixing Rugikan...
Aroma Match Fixing Rugikan Timnas Iran di Piala Dunia 2026, Kenapa FIFA Tolak Investigasi?
Burkina Faso Putuskan...
Burkina Faso Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Prancis
Hilang Misterius 12...
Hilang Misterius 12 Tahun Silam, Pencarian Pesawat Malaysia Airlines MH370 Diperpanjang Setahun
Rekomendasi
Ramalan Diego Maradona...
Ramalan Diego Maradona Jadi Kenyataan? Kritik Piala Dunia di Amerika Serikat Kembali Viral
Dampak Pembiayaan PNM...
Dampak Pembiayaan PNM Diakui, Kini Melayani 23 Juta Nasabah Perempuan Prasejahtera
Sunscreen Ringan Jadi...
Sunscreen Ringan Jadi Pilihan Perlindungan Kulit Harian di Iklim Tropis
Berita Terkini
Jumlah Korban Tewas...
Jumlah Korban Tewas Akibat Gempa Bumi Venezuela Meningkat Jadi 1.943 Jiwa
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
2 Negara Muslim Ini...
2 Negara Muslim Ini Saling Serang, Ini 7 Alasan Konflik Itu Tak Mudah Diselesaikan
Rusia Sedang Dibakar...
Rusia Sedang Dibakar Ukraina, Putin Tidak Akan Gentar
Bagaimana Iran Menggunakan...
Bagaimana Iran Menggunakan Strategi Ubur-ubur untuk Menjatuhkan Jet Tempur AS?
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Infografis
AS Mulai Bagikan Info...
AS Mulai Bagikan Info Intel Ruang Angkasa Sensitif China-Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved