Partai Anti-Islam AfD Rayakan Kemenangan Bersejarah Pemilu Jerman

Senin, 24 Februari 2025 - 07:12 WIB
loading...
Partai Anti-Islam AfD...
Alternative for Germany (AfD), partai ekstrem kanan Jerman yang dikenal anti-Islam, merayakan hasil Pemilu yang memecahkan rekor pada hari Minggu. Foto/Screengrab video tagesschau
A A A
BERLIN - Alternative for Germany (AfD), partai ekstrem kanan Jerman yang dikenal anti-Islam, merayakan hasil Pemilu yang memecahkan rekor pada hari Minggu.

Kemenangan bersejarah AfD memicu harapan terliarnya untuk suatu hari memasuki pemerintahan, sebuah skenario mengerikan bagi banyak musuhnya.

Partai anti-imigrasi itu memperoleh 19,5-20 persen suara menurut jajak pendapat, menjadikannya partai terkuat kedua setelah aliansi konservatif CDU/CSU yang dipimpin Friedrich Merz dengan sedikitnya 28,5 persen.

Baca Juga: Jerman Khawatir Bom Nuklir AS Tak Bela NATO Jika Perang dengan Rusia

"Kami telah mencapai hasil yang bersejarah," kata kandidat utama AfD, Alice Weidel (46), kepada para pendukung partai sambil bersorak dan melambaikan bendera nasional Jerman pada pesta malam pemilu di Berlin, sebagaimana dilansir AFP, Senin (24/2/2025).

Bagi banyak warga negara Jerman dan partai-partai arus utama, itu adalah hasil yang diantisipasi tetapi tetap mengejutkan, yang menandakan lonceng kematian bagi gagasan bahwa negara yang masih berusaha menebus Holocaust itu kebal terhadap kebangkitan sayap kanan ekstrem.

Weidel menegaskan bahwa partai itu sekarang "berlabuh kuat" di lanskap politik dan "tidak pernah sekuat ini di tingkat nasional".

Dia kembali mengajukan pendekatan kepada CDU/CSU untuk bekerja sama dalam pemerintahan, sebuah gagasan yang ditolak keras oleh Merz.

AfD sendiri terkadang bersikeras bahwa partainya "konservatif-libertarian", dan merupakan kerabat ideologis Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang anggota kabinetnya dan sekutu miliardernya Elon Musk telah menyuarakan dukungan penuh untuk partai tersebut.

Weidel meramalkan bahwa jika CDU/CSU terus menolak bekerja sama dengan partainya untuk "melaksanakan keinginan rakyat", AfD akan "menyalip" mereka dalam pemilu berikutnya yang diperkirakan empat tahun dari sekarang.

Platform Ultra-Konservatif


Di bawah Weidel, AfD telah berusaha untuk mengecilkan beberapa retorika nativis dan revisionisnya yang paling keras.

Upaya untuk menutupi sejarah Nazi dan Holocaust Jerman mendorong badan keamanan negara untuk menempatkan partai tersebut di bawah pengawasan dan menjadikannya target protes jalanan massal.

Weidel selama kampanye bersusah payah untuk mendorong AfD lebih jauh ke arus utama politik—mengingat upaya para pemimpin populis sayap kanan lainnya di luar negeri—dibantu dengan mendapatkan waktu tayang dalam debat televisi dengan kandidat utama lainnya.

AfD dibenci oleh banyak orang Jerman karena secara terbuka mencela migran ilegal, Islam, dan multikulturalisme.

Dalam perang budaya yang dipicu media sosial yang semakin memecah belah demokrasi liberal Barat, AfD menyuarakan pandangan anti-"woke", meragukan perubahan iklim, dan condong ke Moskow dalam perang Ukraina.

Kampanye disinformasi yang terkait dengan Rusia telah sangat mendukung pandangan dan narasi pro-AfD.

Di wilayah luas bekas komunis Jerman timur—tempat nostalgia terhadap era Soviet masih ada bersamaan dengan kebencian terhadap penyerapan efektif oleh negara-negara Barat yang kaya pada tahun 1990—AfD memperoleh skor di atas 30 persen.

Namun di wilayah barat juga, bagi semakin banyak pemilih, sisi terkeras AfD telah dilunakkan, sebagian oleh kisah pribadi Weidel, yang menentang sebagian platform "nilai-nilai keluarga" partai yang sangat konservatif.

Weidel tinggal bersama seorang wanita kelahiran Sri Lanka—yang membesarkan dua orang anak bersamanya, di sebuah kota di seberang perbatasan di Swiss—dan merupakan seorang penutur bahasa Mandarin yang selama berkarier di dunia bisnis pernah menghabiskan beberapa tahun di China.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Inggris, Prancis, Jerman,...
Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia Siap Cabut Sanksi Teheran setelah Kesepakatan Damai AS-Iran
Jenderal Jerman Ancam...
Jenderal Jerman Ancam Serang Dahsyat Rusia: Kami Siap Bertempur Malam Ini
Jenderal Jerman Duga...
Jenderal Jerman Duga Rusia Bakal Kerahkan Senjata Nuklir ke Luar Angkasa, Bisa Picu Kiamat Satelit
Eks Kepala AL Jerman:...
Eks Kepala AL Jerman: Uni Eropa Bisa 'Berjalan Tanpa Sadar' Menuju Perang Melawan Rusia
Proyek Jet Tempur FCAS...
Proyek Jet Tempur FCAS Prancis-Jerman Gagal, Pukulan Telak bagi Macron
Jamu Presiden Steinmeier,...
Jamu Presiden Steinmeier, Prabowo Sebut Jerman Jadi Inspirasi Inovasi Teknologi
AS: Selat Hormuz Terbuka...
AS: Selat Hormuz Terbuka untuk Dilalui Semua Kapal Tanpa Biaya Tol
Nah, Pentagon Minta...
Nah, Pentagon Minta Anggaran Rp1.426 Triliun untuk Tutupi Biaya Perang Lawan Iran
Rekomendasi
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Dilimpahkan ke Kejari Jakarta Selatan, TNI-Polri Siaga di Lokasi
IHSG Menghijau di Awal...
IHSG Menghijau di Awal Pekan, Pagi Ini Sentuh Level 6.217
Harga Emas Malas Bergerak...
Harga Emas Malas Bergerak di Posisi Rp2.668.000 per Gram, Intip Daftar Lengkapnya
Berita Terkini
Perundingan Iran-AS...
Perundingan Iran-AS Hasilkan 4 Kesepakatan Utama, Negosiator Teheran Sempat Walkout
Jenderal Iran Peringatkan...
Jenderal Iran Peringatkan Pasukan Israel: Tinggalkan Lebanon atau Diusir Secara Memalukan!
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Yordania Gantung 6 Orang...
Yordania Gantung 6 Orang atas Tuduhan Terorisme
Aktor Breaking Bad Giancarlo...
Aktor 'Breaking Bad' Giancarlo Esposito Masuk Islam saat Syuting di Arab Saudi
Iran Jawab Ancaman Trump:...
Iran Jawab Ancaman Trump: AS Sebaiknya Berhati-hati!
Infografis
Nomor Urut Partai Politik...
Nomor Urut Partai Politik yang Lolos sebagai Peserta Pemilu 2024
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved