Ukraina Murka Trump Sebut Zelensky Diktator
Kamis, 20 Februari 2025 - 17:30 WIB
loading...
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Foto/tasnim
A
A
A
KIEV - Para pejabat Ukraina bergegas membela presiden negara itu, Volodymyr Zelensky, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mencapnya sebagai “seorang diktator.”
Perseteruan publik antara Trump dan Zelensky meningkat pada hari Rabu (19/2/2025), ketika presiden AS menyebut Zelensky sebagai “seorang diktator tanpa pemilihan umum” dan menuduhnya menipu Washington untuk menyalurkan bantuan ke dalam “perang yang tidak dapat dimenangkan.”
Dia juga mengklaim Zelensky melakukan “pekerjaan yang buruk” dan “tidak akan ada negara yang tersisa” kecuali dia mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Rusia.
Beberapa politisi terkemuka, termasuk mereka yang pernah mengkritik pemerintahan Zelensky di masa lalu, angkat bicara membelanya.
Dalam posting di X, Menteri Luar Negeri Andrey Sibiga menulis, “Ukraina bertahan dari serangan militer paling mengerikan dalam sejarah modern Eropa.”
“Rakyat Ukraina dan Presiden mereka Zelensky menolak menyerah pada tekanan Putin,” tegas dia. “Tidak seorang pun dapat memaksa Ukraina untuk menyerah.”
“Kita bisa menyukai atau tidak menyukai Zelensky. Kita bisa mengutuk tindakannya atau memujinya. Karena dia adalah presiden KITA,” tulis Boris Filatov, wali kota Dnepr, kota terbesar keempat di Ukraina, di Facebook.
Dia berpendapat AS maupun Rusia “tidak punya hak untuk menjelek-jelekkan” Zelensky.
Meskipun masa jabatan presiden lima tahun Zelensky berakhir pada Mei 2024, tidak ada pemilihan umum baru yang diadakan karena darurat militer.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan dia tidak lagi menganggap Zelensky sebagai pemimpin yang sah.
Trump mengklaim pada hari Selasa bahwa peringkat persetujuan Zelensky berada di angka 4% dan menyarankan agar pemilihan umum diadakan.
Zelensky menanggapi dengan mengutip jajak pendapat yang menunjukkan dia memperoleh 57%. “Jika seseorang ingin menggantikan saya sekarang, itu tidak akan terjadi,” ujar dia.
Popularitasnya meroket hingga 90% selama bulan-bulan pertama konflik dengan Rusia pada tahun 2022, tetapi sejak itu menurun karena meningkatnya kerugian di medan perang dan masalah ekonomi.
Dalam wawancara di NBC News awal bulan ini, Zelensky menekankan Ukraina memiliki "peluang kecil untuk bertahan hidup" tanpa bantuan Amerika.
Wakil Presiden AS J.D. Vance memperingatkan Zelensky pada hari Rabu bahwa, dengan "menjelek-jelekkan" Trump, dia tidak akan menguntungkan dirinya sendiri.
Baca juga: Utusan Trump Datang, UEA Tegas Tolak Rencana AS Caplok Gaza
Perseteruan publik antara Trump dan Zelensky meningkat pada hari Rabu (19/2/2025), ketika presiden AS menyebut Zelensky sebagai “seorang diktator tanpa pemilihan umum” dan menuduhnya menipu Washington untuk menyalurkan bantuan ke dalam “perang yang tidak dapat dimenangkan.”
Dia juga mengklaim Zelensky melakukan “pekerjaan yang buruk” dan “tidak akan ada negara yang tersisa” kecuali dia mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Rusia.
Beberapa politisi terkemuka, termasuk mereka yang pernah mengkritik pemerintahan Zelensky di masa lalu, angkat bicara membelanya.
Dalam posting di X, Menteri Luar Negeri Andrey Sibiga menulis, “Ukraina bertahan dari serangan militer paling mengerikan dalam sejarah modern Eropa.”
“Rakyat Ukraina dan Presiden mereka Zelensky menolak menyerah pada tekanan Putin,” tegas dia. “Tidak seorang pun dapat memaksa Ukraina untuk menyerah.”
“Kita bisa menyukai atau tidak menyukai Zelensky. Kita bisa mengutuk tindakannya atau memujinya. Karena dia adalah presiden KITA,” tulis Boris Filatov, wali kota Dnepr, kota terbesar keempat di Ukraina, di Facebook.
Dia berpendapat AS maupun Rusia “tidak punya hak untuk menjelek-jelekkan” Zelensky.
Meskipun masa jabatan presiden lima tahun Zelensky berakhir pada Mei 2024, tidak ada pemilihan umum baru yang diadakan karena darurat militer.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan dia tidak lagi menganggap Zelensky sebagai pemimpin yang sah.
Trump mengklaim pada hari Selasa bahwa peringkat persetujuan Zelensky berada di angka 4% dan menyarankan agar pemilihan umum diadakan.
Zelensky menanggapi dengan mengutip jajak pendapat yang menunjukkan dia memperoleh 57%. “Jika seseorang ingin menggantikan saya sekarang, itu tidak akan terjadi,” ujar dia.
Popularitasnya meroket hingga 90% selama bulan-bulan pertama konflik dengan Rusia pada tahun 2022, tetapi sejak itu menurun karena meningkatnya kerugian di medan perang dan masalah ekonomi.
Dalam wawancara di NBC News awal bulan ini, Zelensky menekankan Ukraina memiliki "peluang kecil untuk bertahan hidup" tanpa bantuan Amerika.
Wakil Presiden AS J.D. Vance memperingatkan Zelensky pada hari Rabu bahwa, dengan "menjelek-jelekkan" Trump, dia tidak akan menguntungkan dirinya sendiri.
Baca juga: Utusan Trump Datang, UEA Tegas Tolak Rencana AS Caplok Gaza
(sya)
Lihat Juga :