Cara Israel Bunuh Bos Hizbullah Hassan Nasrallah: Kerahkan 14 Jet Tempur dan 80 Ton Amunisi
Senin, 06 Januari 2025 - 11:55 WIB
loading...
A
A
A
Laporan itu mengatakan bahwa pasukan Israel menggunakan strategi penipuan untuk membuat Nasrallah percaya bahwa Israel tidak berniat meningkatkan konflik.
Baik Hizbullah maupun Israel mempertahankan keterlibatan terbatas, memberi isyarat satu sama lain bahwa tidak ada pihak yang berniat mengerahkan sepenuhnya kemampuan militer mereka. Pendekatan ini menyebabkan Nasrallah menurunkan pertahanannya.
Eskalasi tersebut dipicu pada 16 September 2024, menyusul kegagalan upaya mediasi utusan Amerika Serikat (AS) Amos Hochstein untuk meyakinkan Hizbullah agar menghentikan serangannya terhadap Israel, yang menurut kelompok milisi Lebanon itu dilakukan untuk mendukung Gaza.
Setelah Hizbullah menolak permintaan Israel untuk melepaskan diri dari konflik, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan menteri pertahanannya saat itu, Yoav Gallant, mengatakan bahwa penduduk Israel di utara hanya dapat kembali setelah invasi darat ke Lebanon.
Pada 17 September, kabinet keamanan Israel menyetujui invasi tersebut dan menerapkan rencana gangguan komunikasi, meledakkan pager dan perangkat nirkabel.
Sebagai tanggapan, Nasrallah menyampaikan pidato pada 19 September, dengan mengatakan bahwa pertempuran tidak akan berhenti kecuali Israel mengakhiri operasinya di Gaza. Israel merujuk hal ini sebagai alasan untuk eskalasi besar-besaran, yang berpuncak pada invasi darat pada awal Oktober.
Operasi intelijen yang mengarah pada pembunuhan Nasrallah berlangsung selama 18 tahun dan melibatkan pengawasan terperinci terhadap kepemimpinan Hizbullah, dari komandan tertinggi hingga pemimpin unit lokal.
Agen Israel melacak pergerakan Nasrallah selangkah demi selangkah. Beberapa hari sebelum serangan, intelijen militer Israel menunjukkan lokasi persisnya di dalam kompleks di bawah area perumahan di Beirut selatan yang terdiri dari 20 bangunan yang saling terhubung. Penemuan ini dianggap sebagai kesempatan langka dan sekali seumur hidup.
Baik Hizbullah maupun Israel mempertahankan keterlibatan terbatas, memberi isyarat satu sama lain bahwa tidak ada pihak yang berniat mengerahkan sepenuhnya kemampuan militer mereka. Pendekatan ini menyebabkan Nasrallah menurunkan pertahanannya.
Eskalasi tersebut dipicu pada 16 September 2024, menyusul kegagalan upaya mediasi utusan Amerika Serikat (AS) Amos Hochstein untuk meyakinkan Hizbullah agar menghentikan serangannya terhadap Israel, yang menurut kelompok milisi Lebanon itu dilakukan untuk mendukung Gaza.
Setelah Hizbullah menolak permintaan Israel untuk melepaskan diri dari konflik, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan menteri pertahanannya saat itu, Yoav Gallant, mengatakan bahwa penduduk Israel di utara hanya dapat kembali setelah invasi darat ke Lebanon.
Pada 17 September, kabinet keamanan Israel menyetujui invasi tersebut dan menerapkan rencana gangguan komunikasi, meledakkan pager dan perangkat nirkabel.
Sebagai tanggapan, Nasrallah menyampaikan pidato pada 19 September, dengan mengatakan bahwa pertempuran tidak akan berhenti kecuali Israel mengakhiri operasinya di Gaza. Israel merujuk hal ini sebagai alasan untuk eskalasi besar-besaran, yang berpuncak pada invasi darat pada awal Oktober.
Operasi intelijen yang mengarah pada pembunuhan Nasrallah berlangsung selama 18 tahun dan melibatkan pengawasan terperinci terhadap kepemimpinan Hizbullah, dari komandan tertinggi hingga pemimpin unit lokal.
Agen Israel melacak pergerakan Nasrallah selangkah demi selangkah. Beberapa hari sebelum serangan, intelijen militer Israel menunjukkan lokasi persisnya di dalam kompleks di bawah area perumahan di Beirut selatan yang terdiri dari 20 bangunan yang saling terhubung. Penemuan ini dianggap sebagai kesempatan langka dan sekali seumur hidup.
Lihat Juga :