8 Negara Arab Janji Dukung Proses Transisi Damai di Suriah

Minggu, 15 Desember 2024 - 09:30 WIB
loading...
8 Negara Arab Janji...
Kelompok Kontak Arab untuk Suriah mengakhiri pertemuan pada hari Sabtu (14/12/2024) di Aqaba untuk membahas perkembangan terbaru krisis Suriah dan menguraikan langkah-langkah menuju resolusi damai. Foto/Al Rai
A A A
AQABA - Para diplomat tinggi dari delapan negara Liga Arab sepakat dalam pertemuan di Yordania untuk “mendukung proses transisi damai” di Suriah setelah penggulingan Presiden Bashar al-Assad.

Para menteri luar negeri (menlu) dari Yordania, Arab Saudi, Irak, Lebanon, Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Qatar mengeluarkan pernyataan bersama pada hari Sabtu (14/12/2024) setelah mereka bertemu di pelabuhan Laut Merah Yordania, Aqaba.

Mereka mengatakan “semua kekuatan politik dan sosial” harus terwakili dalam pemerintahan Suriah yang baru dan memperingatkan “setiap diskriminasi etnis, sektarian, atau agama” dan menyerukan “keadilan dan kesetaraan bagi semua warga negara”.

“Proses politik di Suriah harus didukung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Liga Arab, sesuai dengan prinsip-prinsip Resolusi Dewan Keamanan 2254, resolusi pada tahun 2015 yang menetapkan peta jalan untuk penyelesaian yang dinegosiasikan,” ungkap pernyataan itu.

Para diplomat Arab juga menghadiri pertemuan terpisah di Aqaba yang dihadiri Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken, Utusan Khusus PBB untuk Suriah Geir Pederson dan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa (UE) Kaja Kallas, serta Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan.

Pertemuan itu juga menyerukan pemerintahan yang inklusif dan representatif yang menghormati hak-hak minoritas dan tidak menawarkan "basis bagi kelompok teroris", menurut Blinken, yang berbicara dalam konferensi pers.

"Kesepakatan hari ini mengirimkan pesan terpadu kepada otoritas sementara dan pihak-pihak baru di Suriah mengenai prinsip-prinsip yang penting untuk mengamankan dukungan dan pengakuan yang sangat dibutuhkan," ujar dia.

Pembicaraan itu dilakukan setelah jatuhnya al-Assad usai serangan kilat oleh kelompok oposisi Hayat Tahrir al-Sham (HTS) pekan lalu.

“Membangun kembali lembaga dan membentuk Suriah yang inklusif adalah istilah-istilah utama dari para diplomat Arab yang diungkap banyak posisi pejabat tinggi lainnya yang hadir hari ini di Aqaba," papar Nour Odeh dari Al Jazeera, melaporkan dari ibu kota Yordania, Amman.

“Tidak seorang pun ingin melihat Suriah terpecah menjadi beberapa negara,” ujar dia. “Mereka ingin melihat Suriah yang stabil yang dapat menyambut kembali jutaan pengungsi, dan mereka menawarkan dukungan, baik secara politik, finansial, maupun kemanusiaan.”

Menurut pernyataan mereka, “Para menteri Arab mengatakan lembaga-lembaga negara harus dipertahankan untuk menghentikan Suriah dari terjerumus ke dalam kekacauan, dan juga menyerukan untuk meningkatkan upaya bersama untuk memerangi terorisme … karena hal itu merupakan ancaman bagi Suriah dan keamanan kawasan dan dunia.”

Mereka juga mengutuk “serangan Israel ke zona penyangga dengan Suriah”, serangan udaranya di Suriah, dan menuntut “penarikan pasukan Israel” dari wilayah Suriah.

Inklusivitas adalah Penting


Setelah al-Assad digulingkan, pemerintahan transisi yang dibentuk pasukan pemberontak bersikeras hak-hak semua warga Suriah akan dilindungi, seperti juga aturan hukum.

Hal ini akan menjadi hal mendasar bagi Suriah pasca-Assad untuk menghindari kesalahan masa lalu, menurut Labib al-Nahhas, direktur Asosiasi Suriah untuk Martabat Warga Negara, yang mengadvokasi hak-hak pengungsi Suriah.

“Kunci keberhasilan dalam fase kritis seperti ini adalah inklusivitas, dan tidak menyerahkan negara kembali kepada satu partai atau satu orang karena itulah asal mula masalah yang kita hadapi, itulah asal mula bagaimana kita sampai di sini setelah 50 tahun kediktatoran,” ujar al-Nahhas kepada Al Jazeera.

“Perilaku penduduk Suriah secara umum, dan para pemberontak secara khusus, yang pergi ke kota-kota, bahkan pergi ke daerah-daerah minoritas. Saya pikir itu patut dicontoh,” papar al-Nahhas, seraya menambahkan sejauh ini hanya ada beberapa laporan tentang pembalasan atau tindakan balas dendam.

Direktur tersebut mengatakan masyarakat internasional harus berperan dalam menjaga proses inklusivitas Suriah.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Luka dan Dendam Masih...
Luka dan Dendam Masih Membara di Benak Rakyat Suriah, Makam Ayah Bashar Al Assad Dibongkar dan Jenazahnya Dicuri
Perang Saudara Berkobar...
Perang Saudara Berkobar di Sekitar Damaskus, Drone Israel Justru Terbang Bebas di Langit Suriah
Siapa Rami Makhlouf?...
Siapa Rami Makhlouf? Pengusaha yang Membentuk 150.00 Pasukan Elite dan Menyebut Bashar Al Assad sebagai Singa Palsu
Arab Saudi dan Qatar...
Arab Saudi dan Qatar Umumkan Akan Lunasi Utang Suriah Rp252,8 Miliar
Gulingkan Assad, Ahmed...
Gulingkan Assad, Ahmed al-Sharaa Ingin Suriah Normalisasi Hubungan dengan Israel
Putin akan Gelar Pertemuan...
Putin akan Gelar Pertemuan Puncak Khusus Rusia-Arab Tahun Ini
Siapa Sulaf Fawakherji?...
Siapa Sulaf Fawakherji? Aktris Suriah yang Masih Loyal dengan Bashar Al Assad
Kim Jong-un Perintahkan...
Kim Jong-un Perintahkan Angkatan Laut Korut Dipersenjatai Nuklir
Horor! Bus Ngebut Seruduk...
Horor! Bus Ngebut Seruduk Deretan Mobil Antre di Gerbang Tol, 12 Orang Tewas
Rekomendasi
Tahun Ini 4 Juara Dunia...
Tahun Ini 4 Juara Dunia Biliar Bakal Berduel di Indonesia
Profil Marsma TNI Erwin...
Profil Marsma TNI Erwin Sugiandi, Danlanud Halim Perdanakusuma Baru usai Mutasi Akhir April 2025
Siapa Nama Asli Ki Hajar...
Siapa Nama Asli Ki Hajar Dewantara? Sosok Penting di Hari Pendidikan Nasional
Berita Terkini
Bos Pentagon Ancam Iran...
Bos Pentagon Ancam Iran usai Serangan Houthi Bikin Jet F/A-18 AS Tenggelam di Laut Merah
34 menit yang lalu
Israel Dilanda Kebakaran...
Israel Dilanda Kebakaran Terparah dalam Sejarah, Pejabat Zionis Saling Menyalahkan
1 jam yang lalu
Kebakaran Menggila di...
Kebakaran Menggila di Israel, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
10 jam yang lalu
Putin Tegaskan Rusia...
Putin Tegaskan Rusia adalah Negara Para Pemenang
10 jam yang lalu
Trump Hadapi Upaya Pemakzulan...
Trump Hadapi Upaya Pemakzulan Ketiga
11 jam yang lalu
507.000 Warga Palestina...
507.000 Warga Palestina Menganggur di Tepi Barat, Ribuan Orang Dibunuh Israel Saat Cari Nafkah
12 jam yang lalu
Infografis
5 Negara Penguasa Harta...
5 Negara Penguasa Harta Karun Logam Tanah Jarang di Dunia
Copyright ©2025 SINDOnews.com All Rights Reserved