AS Kurangi Impor Garmen dari China, Untungkan Sejumlah Negara Asia

Selasa, 10 Desember 2024 - 09:37 WIB
loading...
AS Kurangi Impor Garmen...
AS mengurangi impor garmen dari China, sejumlah negara Asia diuntungkan. Foto/Xinhua
A A A
JAKARTA - Dalam perubahan signifikan perihal dinamika perdagangan global, Amerika Serikat (AS) terus mengurangi impor garmennya dar i China sejak satu dekade terakhir.

Penurunan ini, yang dipicu perang dagang AS-China dan kekhawatiran atas pelanggaran hak asasi manusia (HAM) oleh China, telah membuka pintu bagi negara Asia lainnya untuk memperluas kehadiran mereka di pasar pakaian jadi Amerika.

Mengutip dari European Times, Selasa (10/12/2024), laporan terbaru Komisi Perdagangan Internasional Amerika Serikat (USITC) menyebutkan bahwa China—yang dulunya pemasok utama garmen ke AS—mengalami penurunan pangsa pasar hingga 16,4 persen antara tahun 2013 hingga 2023.

Baca Juga: Bidik China, Parlemen Eropa Rancang UU Larangan Produk Kerja Paksa

Sebaliknya, negara-negara seperti Vietnam, Bangladesh, India, dan Kamboja muncul sebagai penerima manfaat utama dari perubahan ini.

Dominasi China di pasar pakaian jadi AS dulunya tak tergoyahkan. Kemampuan produksinya dalam skala besar, rantai pasokan efisien, dan harga kompetitif menjadikannya sumber utama bagi pengecer Amerika. Namun, beberapa faktor telah menggerogoti pangsa pasar China selama 10 tahun terakhir.

Perang Dagang AS-China


Perang dagang, yang dimulai pada 2018 di bawah pemerintahan Donald Trump, mengenakan tarif pada barang-barang China senilai ratusan miliar dolar, termasuk pakaian jadi.

Tarif ini secara signifikan meningkatkan biaya impor pakaian dari China, yang mendorong perusahaan-perusahaan AS untuk mengeksplorasi opsi sumber alternatif.

Kekhawatiran HAM


Laporan tentang kerja paksa di wilayah Xinjiang, China, tempat sebagian besar kapas negara itu diproduksi, telah menuai kecaman luas. Sebagai tanggapan, AS memberlakukan Undang-Undang Pencegahan Kerja Paksa Uyghur pada tahun 2021, yang melarang impor barang-barang yang dibuat dengan kerja paksa dari Xinjiang.

Undang-undang ini semakin mengurangi insentif bagi perusahaan-perusahaan Amerika untuk mendapatkan pakaian dari China.

Meningkatnya Biaya Tenaga Kerja


Seiring dengan semakin matangnya ekonomi China, upah pun meningkat, sehingga nilai kompetitifnya berkurang dibandingkan negara-negara penghasil garmen berbiaya rendah lainnya di Asia.

Baca Juga: China Dituduh Ekploitasi Etnis Uighur untuk Pengambilan Organ
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dituding Dukung Militer...
Dituding Dukung Militer AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
PBB Murka Masjid Al-Aqsa...
PBB Murka Masjid Al-Aqsa Diserbu Menteri Israel dan 4.000 Massa Yahudi
AS Rugi Besar akibat...
AS Rugi Besar akibat Serangan Iran di Seluruh Negara Arab
IRGC: Serangan Rudal...
IRGC: Serangan Rudal Iran Hancurkan Sistem Pertahanan THAAD, Patriot, dan C-RAM Amerika di Yordania
Tembus Blokade Laut...
Tembus Blokade Laut Merah, Tanker Raksasa China Bawa Pulang 4 Juta Barel Minyak Arab Saudi
Musim Panas Makin Menyengat,...
Musim Panas Makin Menyengat, Tokyo Dorong Karyawan Kenakan Celana Pendek ke Kantor
Iran Serang Fasilitas...
Iran Serang Fasilitas CIA di Arab Saudi dan Irak, AS Curiga Rusia Terlibat
Rekomendasi
Perjalanan Kereta Lebih...
Perjalanan Kereta Lebih Tenang, Ada Perlindungan untuk Keterlambatan dan Pembatalan
Selain Sertifikat TKA,...
Selain Sertifikat TKA, Ini Syarat Dokumen SPMB Sekolah Nasional Terintegrasi 2026
Petani Tebu yang Belum...
Petani Tebu yang Belum Merdeka
Berita Terkini
Serangan Ekstremis Yahudi...
Serangan Ekstremis Yahudi Meningkat di Tepi Barat, Fatah Salahkan Pemerintah Israel
Baku Tembak Pecah di...
Baku Tembak Pecah di Tepi Barat, 1 Ekstremis Israel Tewas, 4 Warga Palestina Meninggal
Wali Kota Sadiq Khan...
Wali Kota Sadiq Khan Sebut Netanyahu Pelaku Genosida dan Tidak Diterima di London
Dituding Dukung Militer...
Dituding Dukung Militer AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved