Mengapa Rezim Assad Runtuh Sekejap dan Mencengangkan di Suriah? Ini 3 Penyebabnya
Senin, 09 Desember 2024 - 12:59 WIB
loading...
A
A
A
Korup dan kehilangan semangat, Angkatan Darat terkejut ketika pemberontak tiba-tiba keluar dari benteng pertahanan mereka di provinsi Idlib pada 27 November, dan hanya memberikan sedikit perlawanan.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berbasis di Inggris, sebuah lembaga pemantau perang Suriah, melaporkan Angkatan Darat berulang kali mengevakuasi posisi mereka di seluruh negeri ketika para pemberontak terus bergerak maju, merebut kota demi kota.
"Sejak 2011, Angkatan Darat Suriah menghadapi pengurangan personel, peralatan, dan moral," kata David Rigoulet-Roze, seorang pakar Suriah di Institut Prancis untuk Urusan Internasional dan Strategis, seperti dikutip France24, Senin (9/12/2024).
Para tentara Angkatan Darat yang digaji rendah dilaporkan menjarah sumber daya untuk bertahan hidup, dan banyak pemuda menghindari wajib militer, katanya kepada AFP.
Pada hari Rabu, Assad memerintahkan kenaikan gaji tentara karier sebesar 50 persen dalam upaya putus asa untuk memperkuat Angkatan Darat-nya yang sedang hancur.
Namun dengan ekonomi Suriah yang hancur, gaji tentara hampir tidak ada nilainya dan langkah itu tidak banyak berdampak.
Selama bertahun-tahun, Assad sangat bergantung pada dukungan militer, politik, dan diplomatik dari sekutu utama; Rusia dan Iran, yang tanpanya rezimnya hampir pasti akan runtuh jauh lebih awal dalam perang.
Dengan bantuan mereka, rezim tersebut merebut kembali wilayah yang hilang setelah konflikpecah pada tahun 2011, dan intervensi Rusia tahun 2015 dengan kekuatan udara mengubah gelombang perang yang menguntungkan Assad.
Namun, serangan pemberontak bulan lalu terjadi saat Rusia masih terperosok dalam perangnya di Ukraina, dan serangan udaranya kali ini gagal menahan pemberontak yang dipimpin kaum "jihadis" yang menguasai sebagian besar wilayah negara itu.
"Rusia ingin lebih banyak membantu rezim Suriah—tetapi sumber daya militer mereka di Suriah sangat berkurang akibat perang yang sedang berlangsung di Ukraina," kata pakar Timur Tengah dari France24, Wassim Nasr.
Sekutu utama Assad lainnya, Iran, telah lama menyediakan penasihat militer bagi angkatan bersenjata Suriah dan mendukung kelompok bersenjata pro-pemerintah di lapangan.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berbasis di Inggris, sebuah lembaga pemantau perang Suriah, melaporkan Angkatan Darat berulang kali mengevakuasi posisi mereka di seluruh negeri ketika para pemberontak terus bergerak maju, merebut kota demi kota.
"Sejak 2011, Angkatan Darat Suriah menghadapi pengurangan personel, peralatan, dan moral," kata David Rigoulet-Roze, seorang pakar Suriah di Institut Prancis untuk Urusan Internasional dan Strategis, seperti dikutip France24, Senin (9/12/2024).
Para tentara Angkatan Darat yang digaji rendah dilaporkan menjarah sumber daya untuk bertahan hidup, dan banyak pemuda menghindari wajib militer, katanya kepada AFP.
Pada hari Rabu, Assad memerintahkan kenaikan gaji tentara karier sebesar 50 persen dalam upaya putus asa untuk memperkuat Angkatan Darat-nya yang sedang hancur.
Namun dengan ekonomi Suriah yang hancur, gaji tentara hampir tidak ada nilainya dan langkah itu tidak banyak berdampak.
2. Sekutu Melemah dan Teralihkan
Selama bertahun-tahun, Assad sangat bergantung pada dukungan militer, politik, dan diplomatik dari sekutu utama; Rusia dan Iran, yang tanpanya rezimnya hampir pasti akan runtuh jauh lebih awal dalam perang.
Dengan bantuan mereka, rezim tersebut merebut kembali wilayah yang hilang setelah konflikpecah pada tahun 2011, dan intervensi Rusia tahun 2015 dengan kekuatan udara mengubah gelombang perang yang menguntungkan Assad.
Namun, serangan pemberontak bulan lalu terjadi saat Rusia masih terperosok dalam perangnya di Ukraina, dan serangan udaranya kali ini gagal menahan pemberontak yang dipimpin kaum "jihadis" yang menguasai sebagian besar wilayah negara itu.
"Rusia ingin lebih banyak membantu rezim Suriah—tetapi sumber daya militer mereka di Suriah sangat berkurang akibat perang yang sedang berlangsung di Ukraina," kata pakar Timur Tengah dari France24, Wassim Nasr.
Sekutu utama Assad lainnya, Iran, telah lama menyediakan penasihat militer bagi angkatan bersenjata Suriah dan mendukung kelompok bersenjata pro-pemerintah di lapangan.
Lihat Juga :