Mengapa Rezim Assad Runtuh Sekejap dan Mencengangkan di Suriah? Ini 3 Penyebabnya
Senin, 09 Desember 2024 - 12:59 WIB
loading...
A
A
A
Namun, Iran dan kelompok sekutunya mengalami kemunduran besar dalam pertempuran dengan Israel tahun ini dan ini memberi pemberontak Suriah kesempatan untuk menyerang Assad yang terisolasi.
“Pemberontak Suriah memiliki utang darah yang panjang dengan Iran dan serangan itu terjadi sekarang karena Iran dan sekutunya terlalu lemah untuk terus memperkuat rezim Suriah,” jelas Nasr.
Pasukan proksi Iran di Lebanon; Hizbullah, secara terbuka mendukung rezim Damaskus di lapangan sejak 2013, dengan mengirim ribuan milisi melintasi perbatasan untuk memperkuat tentara Suriah.
Namun, pemberontak melancarkan serangan mereka akhir bulan lalu pada hari yang sama ketika gencatan senjata mulai berlaku antara Israel dan Hizbullah, setelah lebih dari setahun permusuhan di Lebanon.
Hizbullah telah memindahkan banyak milisinya dari Suriah ke Lebanon selatan untuk berhadapan dengan Israel, sehingga melemahkan kehadirannya di negara tetangga tersebut.
Pertempuran tersebut menghancurkan kepemimpinan Hizbullah, dengan pemimpin lama kelompok tersebut Hassan Nasrallah, calon penggantinya, dan serangkaian komandan senior tewas dalam serangan udara Israel.
Pada hari Minggu, saat pemberontak Suriah menyerbu Damaskus nyaris tanpa perlawanan, seorang sumber yang dekat dengan Hizbullah mengatakan kelompok itu menarik pasukannya yang tersisa dari pinggiran ibu kota dan daerah Homs di dekat perbatasan.
Menanggapi jatuhnya rezim Assad, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeklaim berjasa."Itu sebagai akibat langsung dari pukulan yang telah kami berikan kepada Iran dan Hizbullah, pendukung utama Assad," katanya.
Presiden Amerika Serikat Joe Biden juga mengeklaim bahwa AS dan sekutunya telah melemahkan pendukung Suriah–Rusia, Iran, dan Hizbullah.
Dia mengatakan bahwa untuk pertama kalinya, sekutu Assad tidak dapat lagi mempertahankan cengkeramannya pada kekuasaan, seraya menambahkan: "Pendekatan kami telah mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah."
“Pemberontak Suriah memiliki utang darah yang panjang dengan Iran dan serangan itu terjadi sekarang karena Iran dan sekutunya terlalu lemah untuk terus memperkuat rezim Suriah,” jelas Nasr.
3. Hizbullah Tidak Beraksi
Pasukan proksi Iran di Lebanon; Hizbullah, secara terbuka mendukung rezim Damaskus di lapangan sejak 2013, dengan mengirim ribuan milisi melintasi perbatasan untuk memperkuat tentara Suriah.
Namun, pemberontak melancarkan serangan mereka akhir bulan lalu pada hari yang sama ketika gencatan senjata mulai berlaku antara Israel dan Hizbullah, setelah lebih dari setahun permusuhan di Lebanon.
Hizbullah telah memindahkan banyak milisinya dari Suriah ke Lebanon selatan untuk berhadapan dengan Israel, sehingga melemahkan kehadirannya di negara tetangga tersebut.
Pertempuran tersebut menghancurkan kepemimpinan Hizbullah, dengan pemimpin lama kelompok tersebut Hassan Nasrallah, calon penggantinya, dan serangkaian komandan senior tewas dalam serangan udara Israel.
Pada hari Minggu, saat pemberontak Suriah menyerbu Damaskus nyaris tanpa perlawanan, seorang sumber yang dekat dengan Hizbullah mengatakan kelompok itu menarik pasukannya yang tersisa dari pinggiran ibu kota dan daerah Homs di dekat perbatasan.
Menanggapi jatuhnya rezim Assad, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeklaim berjasa."Itu sebagai akibat langsung dari pukulan yang telah kami berikan kepada Iran dan Hizbullah, pendukung utama Assad," katanya.
Presiden Amerika Serikat Joe Biden juga mengeklaim bahwa AS dan sekutunya telah melemahkan pendukung Suriah–Rusia, Iran, dan Hizbullah.
Dia mengatakan bahwa untuk pertama kalinya, sekutu Assad tidak dapat lagi mempertahankan cengkeramannya pada kekuasaan, seraya menambahkan: "Pendekatan kami telah mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah."
(mas)
Lihat Juga :