Giliran Prancis Izinkan Rudal Jarak Jauhnya Digunakan Ukraina untuk Serang Rusia

Minggu, 24 November 2024 - 08:57 WIB
loading...
Giliran Prancis Izinkan...
Setelah AS, kini giliran Prancis izinkan Ukraina gunakan rudal jarak jauh pasokan Paris untuk serang wilayah Rusia. Foto/Kementerian Pertahanan Ukraina
A A A
PARIS - Setelah Amerika Serikat (AS), kini giliran Prancis mengizinkan Ukraina menggunakan rudal jarak jauh pasokan Paris untuk menyerang wilayah Rusia yang diakui secara internasional.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot mengatakan Kyiv dapat menggunakan misil pasokan Paris, tanpa mengonfirmasi apakah serangan tersebut telah terjadi.

Dalam wawancara yang akan disiarkan oleh BBC pada hari Minggu (24/11/2024), Barrot mengatakan bahwa Paris tidak menetapkan dan menyatakan “garis merah" pada dukungannya terhadap Kyiv, dan bahwa serangan jarak jauh di tanah Rusia dapat dilakukan oleh Ukraina dalam logika membela diri.

Baca Juga: Tak Berdaya Melawan Rudal Hipersonik Oreshnik Rusia, Ukraina dan NATO Akan Rapat Darurat

Prancis telah memasok Ukraina dengan sejumlah rudal jelajah SCALP-EG yang tidak diketahui jumlahnya, yang telah digunakan Kyiv untuk menyerang target di Crimea dan empat bekas wilayah Ukraina yang bergabung dengan Federasi Rusia sejak tahun 2022.

SCALP-EG, yang dikenal sebagai Storm Shadow di Inggris, adalah rudal jelajah Inggris-Prancis yang diluncurkan dari udara dengan jangkauan maksimum 550 km (390 mil).

Komentar Barrot muncul sehari setelah militer Ukraina mengonfirmasi bahwa rudal Storm Shadow pasokan Inggris digunakan untuk pertama kalinya dalam serangan ke Wilayah Kursk Rusia, tempat pasukan Ukraina melancarkan invasi lintas batas pada bulan Agustus.

Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, sistem pertahanan udara Moskow menembak jatuh dua rudal Inggris tersebut.

Akhir pekan lalu, Presiden AS Joe Biden dilaporkan mengizinkan Ukraina untuk menggunakan rudal jarak jauh ATACMS pasokan Amerika dalam serangan ke Wilayah Kursk.

Dalam beberapa hari setelah keputusan Biden, yang enggan dikonfirmasi secara resmi oleh Gedung Putih, sistem pertahanan udara Rusia mencegat lima rudal ATACMS di atas Wilayah Bryansk, kata Kementerian Pertahanan di Moskow.

Satu lagi rudal buatan Amerika rusak dan jatuh di lokasi militer, imbuh kementerian tersebut.

Presiden Prancis Emmanual Macron mengatakan pada bulan Mei bahwa dia akan mempertimbangkan untuk mengizinkan penggunaan rudal SCALP-EG pada target jauh di dalam Rusia.

Awal pekan ini, Barrot mengatakan kepada wartawan bahwa Macron tetap terbuka terhadap gagasan tersebut. Komentarnya kepada BBC menandai pertama kalinya seorang pejabat Prancis mengonfirmasi bahwa Ukraina dapat menggunakan rudal tersebut untuk serangan jarak jauh terhadap Rusia.

Rusia telah merespons serangan rudal ATACMS dan Storm Shadow peka lalu dengan menyerang pabrik rudal Ukraina di kota Dnipro dengan rudal hipersonik terbaru yang dinamai Oreshnik.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan rudal dengan kecepatan kilat itu dan akan diproduksi massal dan terus diuji, termasuk dalam pertempuran.

Putin menuduh AS dan NATO sengaja meningkatkan konflik, dan menyatakan bahwa Rusia akan mencapai semua tujuan militernya terlepas dari sistem persenjataan mana yang digunakan Kyiv.

“Serangan lebih lanjut dengan senjata Barat akan mengakibatkan serangan balasan terhadap target yang dipilih Moskow,” katanya dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Kamis. ”Jangan salah: akan selalu ada respons.”
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Update Gempa Venezuela:...
Update Gempa Venezuela: 1.430 Orang Tewas dan Ribuan Hilang!
Iran Desak Militer Negara...
Iran Desak Militer Negara Barat Angkat Kaki dari Timur Tengah: Biang Masalah!
Rekomendasi
Rudal AGM-188A Rusty...
Rudal AGM-188A Rusty Dagger, Membentuk Masa Depan Medan Perang
Maroko Ciptakan Sejarah...
Maroko Ciptakan Sejarah Baru di Piala Dunia 2026
Sundulan Issa Diop Paksa...
Sundulan Issa Diop Paksa Laga Belanda vs Maroko Lanjut ke Extra Time
Berita Terkini
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Indonesia Lunasi Proyek...
Indonesia Lunasi Proyek Jet Tempur KF-21 Korsel Rp6,9 Triliun, Dapat Transfer Teknologi Apa?
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Momen Penyelamatan...
5 Momen Penyelamatan Korban Gempa Venezuela yang Mengharukan
Infografis
3 Alasan Greenland Jadi...
3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved