6 Alasan Uni Soviet Versi Baru Bangkit, Salah Satunya Memperkuat Aliansi Hadapi Perang Dunia III

Senin, 14 Oktober 2024 - 13:17 WIB
loading...
6 Alasan Uni Soviet...
Uni Soviet versi baru akan bangkit untuk menghadapi Perang Dunia III. Foto/Sputnik
A A A
MOSKOW - Pertemuan Dewan Kepala Negara Persemakmuran Negara-negara Merdeka (CIS) berlangsung di Moskow minggu ini. Namun, itu menunjukkan bagaimana kebangkitkan Uni Soviet gaya baru.

CIS sering disebut sebagai organisasi yang tidak efisien, dan dikritik karena gagal membuat kemajuan signifikan dalam hal integrasi. Beberapa negara anggota, seperti Georgia dan Ukraina, telah meninggalkan organisasi tersebut atau tidak mengambil bagian dalam kegiatannya. Meskipun demikian, terlepas dari tantangan ini, CIS tetap menjadi platform utama untuk interaksi antara negara-negara yang pernah menjadi bagian dari Uni Soviet.

KTT para pemimpin CIS baru-baru ini di Moskow menjadi momen penting untuk menghidupkan kembali organisasi tersebut. Rusia telah menetapkan prioritas geopolitiknya dengan jelas, dan sementara negara-negara Barat berupaya untuk membagi wilayah pasca-Soviet melalui konflik atau secara langsung menariknya ke dalam lingkup pengaruh mereka, upaya mereka sebagian besar gagal.

Namun, Barat terus menjalankan strateginya untuk mengganggu hubungan antara Rusia dan negara-negara pasca-Soviet, yang sangat penting bagi Moskow karena alasan historis dan tradisional, serta karena pertimbangan keamanan dan kepentingan nasional.

6 Alasan Uni Soviet Versi Baru Bangkit, Salah Satunya Memperkuat Aliansi Hadapi Perang Dunia III

1. Putin Mendorong Pentingnya Kerja Sama Bekas Republik Soviet

Selama pertemuan puncak tersebut, Presiden Rusia Vladimir Putin menekankan pentingnya bekas republik Soviet bagi Rusia. Ia mengatakan interaksi dalam kerangka CIS merupakan salah satu prioritas utama kebijakan luar negeri Rusia, dan menegaskan bahwa negara-negara CIS adalah tetangga, teman, dan mitra strategis terdekat bagi Moskow.

Putin mencatat bahwa para pemimpin CIS secara teratur membahas masalah-masalah internasional dan regional, dan membentuk sikap yang bersatu mengenai masalah-masalah ini. Ia juga mengatakan pandangan mereka tentang banyak hal sangat selaras atau bahkan identik.

"Mengingat iklim geopolitik saat ini dan tekanan Barat yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap negara-negara pasca-Soviet (sebuah fakta yang mereka akui secara terbuka), anggota CIS terus mempertahankan hubungan dengan Moskow berdasarkan kepentingan politik dan ekonomi yang rasional dan pemahaman yang realistis tentang situasi tersebut," kata Farhad Ibragimov – pakar, dosen di Fakultas Ekonomi Universitas RUDN, dosen tamu di Institut Ilmu Sosial Akademi Kepresidenan Rusia untuk Ekonomi Nasional dan Administrasi Publik, dilansir RT.

2. Integrasi Ekonomi Uni Soviet

Setelah runtuhnya Uni Soviet, republik-republik yang baru merdeka menghadapi tantangan ekonomi yang signifikan, karena ekonomi mereka telah terintegrasi erat dengan ekonomi Uni Soviet.

"CIS memberi negara-negara ini kesempatan untuk melanjutkan kolaborasi di bidang perdagangan, keuangan, transportasi, dll., yang membantu mengurangi dampak negatif dari keretakan ekonomi ini," ungkap Ibragimov.

3. Memperkuat Interaksi Politik

Selain itu, CIS menjadi platform untuk interaksi politik – seperti membahas kepentingan bersama, masalah diplomatik, dan menyelesaikan perselisihan. Saat ini, CIS membahas masalah keamanan, migrasi, dan topik penting lainnya yang memengaruhi semua negara anggota.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
140 Drone Ukraina Hajar...
140 Drone Ukraina Hajar St Petersburg, Rusia: Serangan Ini Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Putin Klaim Tak Melihat...
Putin Klaim Tak Melihat Adanya Provokasi dari Iran
Negara Anggota NATO...
Negara Anggota NATO Ini Mengalami Kemandulan Kemampuan Militer Terburuk
Putin: Serangan Rudal...
Putin: Serangan Rudal Hipersonik Oreshnik Rusia terhadap Ukraina Hanya Tes, Belum Skala Penuh
PM Inggris: Rusia Akan...
PM Inggris: Rusia Akan Serang NATO 4 Tahun Lagi
Drone Ukraina Meledak...
Drone Ukraina Meledak Sendiri di Pelabuhan Negara NATO, Kyiv Tuduh Rusia Kerjai Sinyalnya
Kamuflase Kendaraan...
Kamuflase Kendaraan Perang Rusia Bisa Mengecoh Drone Berteknologi AI
Laporan Media: Israel...
Laporan Media: Israel Bangun Jaringan Militer Rahasia di Azerbaijan, Dekat Perbatasan Iran
Viral KBRI Tokyo Umumkan...
Viral KBRI Tokyo Umumkan Resepsi Pernikahan Orang Utan Kalimantan di Tobe Zoo Jepang
Rekomendasi
Catat Ekspansi Signifikan,...
Catat Ekspansi Signifikan, Dyputu Studio Bekasi Jadi Subjek Penelitian Akademis
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
Berita Terkini
Meski Sekutu Sejati,...
Meski Sekutu Sejati, Mengapa Pentagon Tingkatkan Ancaman Mata-mata Israel ke Tingkat Tertinggi?
3 Fakta Bantahan Azerbaijan...
3 Fakta Bantahan Azerbaijan Terkait Wilayahnya Digunakan Israel dalam Perang Iran
3 Fakta Penembakan Bayi...
3 Fakta Penembakan Bayi Palestina Berusia 7 Bulan oleh Tentara Israel
Selalu Jadi Target Iran,...
Selalu Jadi Target Iran, Kuwait Beli Senjata Anti-Drone Senilai Rp36 Triliun dari AS
140 Drone Ukraina Hajar...
140 Drone Ukraina Hajar St Petersburg, Rusia: Serangan Ini Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Putin Klaim Tak Melihat...
Putin Klaim Tak Melihat Adanya Provokasi dari Iran
Infografis
3 Taktik Cerdas Iran...
3 Taktik Cerdas Iran untuk Kalahkan AS-Israel, Salah Satunya Perang Ala Vietnam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved