Mengejutkan, Israel Sukses Habisi Nasrallah karena Bantuan Mata-mata Iran

Senin, 30 September 2024 - 09:41 WIB
loading...
Mengejutkan, Israel...
Laporan surat kabar Prancis ungkap kesuksesan Israel membunuh pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah karena bantuan seorang mata-mata Iran. Foto/X @SputnikInt
A A A
BEIRUT - Sebuah laporan mengejutkan mengungkap bahwa kesuksesan operasi militer Israel dalam membunuh pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah tak lepas dari bantuan seorang mata-mata Iran.

Laporan itu diterbitkan surat kabar Prancis, Le Parisien, yang mengatakan beberapa jam sebelum Nasrallah tewas akibat serangan udara Zionis di pinggiran Beirut, mata-mata tersebut memberi tahu otoritas Israel tentang lokasi Nasrallah.

Mengutip sumber keamanan di Lebanon, laporan tersebut lebih rinci menyebutkan mata-mata Iran itu telah memberi tahu otoritas Israel bahwa Nasrallah akan berada di markas bawah tanah Hizbullah di pinggiran selatan Beirut untuk menghadiri pertemuan dengan beberapa anggota penting organisasi tersebut.

Pada Sabtu (28/9/2024), sekitar pukul 11.00 pagi waktu Lebanon, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan dalam sebuah posting di X: "Hassan Nasrallah tidak akan bisa lagi meneror dunia."

Baca Juga: Israel Semakin Kalap, Bombardir Lebanon dan Yaman Sekaligus, Puluhan Tewas

Kemudian pada hari itu, Hizbullah mengonfirmasi berita kematian Nasrallah.

"Sayyed Hassan Nasrallah...telah bergabung dengan rekan-rekannya yang hebat dan syahid yang telah dipimpinnya selama sekitar 30 tahun," kata kelompok tersebut dalam sebuah pernyataan.

Pemerintah Iran belum berkomentar atas laporan "pengkhianatan" mata-mata Teheran tersebut.

Laporan lain dari The New York Times menyebutkan keberhasilan Israel dalam melawan Hizbullah merupakan hasil langsung dari keputusan negara itu untuk mencurahkan lebih banyak sumber daya intelijen guna menargetkan Hizbullah setelah perang tahun 2006.

Militer Israel dan badan intelijen, kata laporan itu, gagal meraih kemenangan yang menentukan dalam konflik selama 34 hari tersebut. Perang 2006 itu berakhir dengan gencatan senjata yang ditengahi PBB dan memungkinkan Hizbullah untuk berkumpul kembali dan bersiap untuk perang berikutnya.

Pada tahun-tahun berikutnya, Israel mengerahkan banyak sumber daya untuk mengumpulkan informasi tentang kepemimpinan dan strategi Hizbullah.

Unit 8200, badan intelijen sinyal Israel, membangun peralatan siber canggih untuk menyadap ponsel dan komunikasi Hizbullah lainnya dengan lebih baik, menurut laporan New York Times.

Tim-tim baru dibentuk dalam barisan tempur untuk memastikan bahwa informasi berharga dengan cepat diteruskan ke Angkatan Darat dan Angkatan Udara Israel, imbuh laporan tersebut.

Bom Pager dan Pengakuan Nasrallah


Dalam pidato yang disiarkan televisi baru-baru ini, Nasrallah mengatakan Hizbullah mengalami "pukulan yang belum pernah terjadi sebelumnya" setelah Israel meledakkan pager dan radio genggam yang berisi bahan peledak secara massal.

Serangan tersebut menewaskan 37 orang dan melukai hampir 3.000 orang dalam dua hari. Nasrallah kemudian memperingatkan Israel tentang "balasan yang keras dan hukuman yang adil, baik yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan".

Investigasi Lebanon menemukan bahwa pager tersebut telah dipasangi bom, menurut laporan AFP.

Anggota Hizbullah mulai berkomunikasi melalui pager dan walkie-talkie setelah Israel menyadap ponsel. Namun, hal itu tidak melindungi para anggota kelompok tersebut.

Mossad, menurut laporan New York Times, tampaknya telah membuat perusahaan cangkang di Budapest dan membuat pager tersebut di bawah lisensi dari sebuah perusahaan di Taiwan.

Sebelum pager tersebut tiba di Lebanon, operator Israel memasang bahan peledak di dalamnya. Operasi tersebut ditingkatkan untuk memproduksi ribuan pager, yang membutuhkan manufaktur yang canggih, sambung laporan New York Times.

Pemimpin Tertinggi Hizbullah Jadi Target


Masih menurut laporan New York Times, investasi Israel dalam pengumpulan intelijen yang lebih besar pertama kali membuahkan hasil pada tahun 2008 ketika Mossad bekerja sama dengan CIA untuk membunuh agen utama Hizbullah, Imad Mugniyah, di Suriah.

Pada tahun 2020, Qassem Suleimani, yang memimpin Pasukan Quds Iran, terbang ke Damaskus Suriah dan berkendara dalam konvoi ke Beirut untuk bertemu Nasrallah. Israel tidak mencoba membunuh Nasrallah saat itu karena takut memulai perang.

Israel meneruskan informasi tersebut ke AS dan Suleimani tewas dalam serangan pesawat nirawak di bandara Baghdad.

Serangan Hamas pada 7 Oktober di kota-kota Israel memicu konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Ketika serangan balik Israel memicu perang di Gaza, Hizbullah mulai menargetkan Israel.

Selama beberapa bulan terakhir, Tel Aviv habis-habisan melawan Hizbullah.

Serangan pada 30 Juli menewaskan Fuad Shukr, salah satu komandan militer tertinggi kelompok itu.

Sekitar tiga minggu kemudian, serangan menewaskan Ibrahim Aqil, kepala Pasukan Radwan—unit elite Hizbullah, dan 15 komandan lainnya.

Beberapa hari kemudian, serangan lain menewaskan Ibrahim Mohammed Kobeissi, yang memimpin beberapa unit Hizbullah, termasuk unit rudal berpemandu. Keesokan harinya, Mohammed Srur, kepala unit pesawat nirawak Hizbullah, tewas dalam serangan itu.

Chip Usher, mantan analis CIA yang pernah bekerja dengan intelijen Israel, mengatakan kepada New York Times: "Rahasia kesuksesan mereka bergantung pada beberapa faktor. Mereka memiliki target yang cukup jelas. Itu memudahkan mereka untuk memberikan fokus yang luar biasa pada apa yang mereka lakukan. Mereka berada dalam bayang-bayang perang dengan Hizbullah dan Iran. Dan mereka sangat sabar."
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Israel Sebut Mojtaba...
Israel Sebut Mojtaba Jadi Target Pembunuhan, Iran Marah Besar!
Sanksi Dicabut, Iran...
Sanksi Dicabut, Iran Jual Minyak 20% Lebih Mahal
Iran Bersiap Berperang...
Iran Bersiap Berperang Lagi jika MoU Tidak Dilaksanakan, AS dan Sekutunya Ketar-ketir
Apakah Gerakan Amal...
Apakah Gerakan Amal Bisa Menggantikan Hizbullah?
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Perjuangan Iran di Piala...
Perjuangan Iran di Piala Dunia 2026 Sentuh Hati Infantino
Gagal 3 Kali, Keiko...
Gagal 3 Kali, Keiko Fujimori Akhirnya Menang Pilpres Peru
Israel Incar Pemimpin...
Israel Incar Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei, Siap Perang Lagi 
Rekomendasi
Purbaya Dijadwalkan...
Purbaya Dijadwalkan Uji Coba Perbaikan Coretax Pekan Depan
B50 Dimulai 1 Juli,...
B50 Dimulai 1 Juli, Mampukah Jadi Solusi Ketahanan Energi Tanpa Mengorbankan Petani Sawit?
Harry Kane Lewati Pele,...
Harry Kane Lewati Pele, Kini Bidik Rekor Messi di Piala Dunia
Berita Terkini
Siapa Vadym Yermolaiev?...
Siapa Vadym Yermolaiev? Taipan Ukraina yang Terluka dalam Ledakan di Monako
Italia Blokir Bantuan...
Italia Blokir Bantuan Militer NATO kepada Ukraina Senilai Rp1.436 Triliun, Sinyal Kemenangan bagi Rusia?
Kurangi Ketergantungan...
Kurangi Ketergantungan Eropa dari AS, Mampukah Turki Ingin Memperkuat NATO 3.0?
Israel Sebut Mojtaba...
Israel Sebut Mojtaba Jadi Target Pembunuhan, Iran Marah Besar!
Direktur CIA: Dunia...
Direktur CIA: Dunia Terancam dengan Senjata Nuklir Digital yang Didukung AI
Jalanan di Inggris Meleleh...
Jalanan di Inggris Meleleh pada Suhu 45 Derajat Celsius, Ini 3 Alasannya
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved