Tidak Ada Gencatan Senjata di Gaza sebelum Pemilu AS

Sabtu, 21 September 2024 - 21:51 WIB
loading...
Tidak Ada Gencatan Senjata...
Mantan Presiden Donald Trump (kiri) ditemani Andrei Kozlov, warga Rusia-Israel yang disandera di Gaza hingga dia diselamatkan, selama KTT Nasional Tahunan ke-9 Dewan Amerika Israel di Washington Hilton di Washington, Kamis, 19 September 2024. Foto/AP/Rod
A A A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden tidak akan mampu mengakhiri perang Israel-Hamas sebelum dia lengser dari jabatannya, menurut pejabat AS kepada Wall Street Journal (WSJ).

Biden telah mengklaim selama berbulan-bulan bahwa kesepakatan sudah dekat.

AS, bersama dengan mediator dari Qatar dan Mesir, telah berusaha selama berbulan-bulan untuk mengamankan kesepakatan yang akan membuat Hamas membebaskan sandera Israel yang tersisa dengan imbalan Israel membebaskan ratusan tahanan Palestina dan mengakhiri operasi militernya di Gaza.

Hamas dan Israel saling menuduh telah menggagalkan beberapa proposal gencatan senjata hingga saat ini, dengan pejuang Palestina bersikeras agar Israel menarik diri sepenuhnya dari daerah kantong itu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berada di bawah tekanan dari mitra koalisi garis kerasnya untuk tidak meninggalkan Gaza sampai struktur komando Hamas hancur total.

"Tidak ada kesepakatan yang akan segera terjadi," ujar seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya kepada WSJ pada Rabu, seraya menambahkan, "Saya tidak yakin itu akan pernah tercapai."

Enam sandera tewas di Gaza bulan lalu, dan ribuan anggota Hizbullah mendapat serangan dengan bom pager di Lebanon pekan ini semakin membahayakan kesepakatan tersebut, menurut sumber-sumber AS dan Arab kepada surat kabar tersebut.

"Tidak ada peluang untuk mewujudkannya sekarang," ujar seorang pejabat dari negara Arab. "Semua orang menunggu dan melihat hingga setelah pemilihan. Hasilnya akan menentukan apa yang dapat terjadi dalam pemerintahan berikutnya."

Di bawah tekanan dari kaum progresif pro-Palestina dalam partainya, Biden telah berjanji selama berbulan-bulan untuk melakukan gencatan senjata.

"Kita lebih dekat dari sebelumnya dengan kesepakatan,” ujar dia pada Agustus, seraya menambahkan pemerintahannya terlibat dalam "upaya intensif untuk menyelesaikan perjanjian ini."

Anggota lain dari pemerintahan Biden telah mengeluarkan pernyataan optimis yang serupa, dengan Menteri Luar Negeri Antony Blinken mengklaim dua pekan lalu bahwa Israel dan Hamas telah menyetujui "lebih dari 90%" dari rancangan kesepakatan.

Meskipun Israel baru-baru ini meningkatkan eskalasi terhadap Hizbullah, juru bicara Pentagon Sabrina Singh mengatakan kepada wartawan pada Kamis bahwa, "Kami tidak percaya bahwa kesepakatan akan gagal."

Seorang pejabat senior Israel mengklaim pada Kamis bahwa mereka siap mengakhiri operasinya di Gaza dan menawarkan jalan keluar yang aman dari daerah kantong itu bagi pemimpin Hamas Yahya Sinwar, sebagai imbalan bagi para pejuang untuk membebaskan semua sandera yang tersisa sekaligus dan meletakkan senjata mereka.

Namun, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant kemudian mengatakan baik dia maupun tim negosiasi Israel belum mendengar tentang rencana ini, sementara pakar Israel mencatat kepemimpinan Hamas tidak mungkin menyetujui pelucutan senjata dan pengasingan.

Hamas melancarkan serangan mendadak terhadap Israel Oktober lalu, menewaskan sekitar 1.100 orang dan membawa sekitar 250 sandera kembali ke Gaza.

Israel selama hampir setahun telah membunuh lebih dari 41.000 warga Palestina di Gaza, menurut angka terbaru dari kementerian kesehatan Gaza.

Hamas membebaskan 105 sandera sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata November lalu. Tidak jelas berapa banyak tawanan yang masih hidup.

Baca juga: Baterai Walkie-talkie Lebanon Berisi Bahan Peledak PETN
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
6 Petani Diculik Tentara...
6 Petani Diculik Tentara Israel di Lebanon Selatan
Lebanon dan Israel Tandatangani...
Lebanon dan Israel Tandatangani Kesepakatan Kerangka Kerja untuk Akhiri Perang
India Tuntut Pertanggungjawaban...
India Tuntut Pertanggungjawaban atas Para Pelaku Pemboman Sekolah
AS Kembali Serang Iran,...
AS Kembali Serang Iran, IRGC Balas Gempur Pasukan Amerika
10 Negara dengan Biaya...
10 Negara dengan Biaya Hidup Termahal di Dunia pada 2026, Ada Tetangga Indonesia
Gempa Dahsyat Venezuela,...
Gempa Dahsyat Venezuela, Bandara Internasional Ditutup hingga Warga Berhamburan ke Jalan
Harga Minyak Dunia Turun...
Harga Minyak Dunia Turun usai Selat Hormuz Dibuka Lagi, Dekati Level Sebelum Perang AS-Iran
Rekomendasi
Amanda Manopo Resmi...
Amanda Manopo Resmi Laporkan Pencemaran Nama Baik Demi Sang Buah Hati
Peluang Iran Lolos ke...
Peluang Iran Lolos ke Babak 32 Besar Masih Terbuka, Diprediksi Capai 80 Persen
Kaitan Hari Kiamat dan...
Kaitan Hari Kiamat dan Rezeki dalam Surat Al Waqiah, Ternyata Ini Rahasianya
Berita Terkini
Balas Serangan AS, Iran...
Balas Serangan AS, Iran Gempur Bahrain
Korut Masih Andalkan...
Korut Masih Andalkan Senjata Besar, Korsel Beralih ke 500.000 Prajurit Drone, Siapa Lebih Unggul?
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Pengadilan Inggris Butuh...
Pengadilan Inggris Butuh 300 Tahun untuk Selesaikan Tumpukan Kasus
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
Infografis
10 Bendera Negara Paling...
10 Bendera Negara Paling Unik di Dunia, Ada yang Bergambar Naga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved