alexametrics

Al-Baghdadi ISIS Tewas, Nadia Murad: Bagaimana yang Memerkosa Kami?

loading...
Al-Baghdadi ISIS Tewas, Nadia Murad: Bagaimana yang Memerkosa Kami?
Nadia Murad Basee Taha, perempuan Yazidi Irak yang pernah disandera dan dijadikan budak seks oleh ISIS di Mosul, Irak. Foto/ REUTERS/Eduardo Munoz/File Photo
A+ A-
NEW YORK - Perjuangan untuk keadilan bagi para korban militan ISIS tidak berakhir dengan kematian pemimpin kelompok itu, Abu Bakr al-Baghdadi. Hal itu disampaikan Nadia Murad Basee Taha, mantan budak seks ISIS yang meraih Hadiah Nobel Perdamaian 2018.

Perempuan Yazidi Irak itu mempertanyakan kelanjutan memerangi para militan ISIS lainnya, dengan bertanya; "Bagaimana dengan mereka yang memerkosa kami?"

Nadia Murad meraih Hadiah Nobel Perdamaian 2018 atas upayanya untuk mengakhiri penggunaan kekerasan seksual sebagai senjata perang. Dia pernah disandera dan dijadikan budak pemuas nafsu kelompok ISIS di Mosul pada 2014. (Baca: Dikhianati Ajudan, Musabab Ajal Jemput Bos ISIS al-Baghdadi)



Beberapa saudara laki-lakinya dibunuh oleh militan ISIS dan kerabat perempuannya juga ditawan.

Sejak 2010, al-Baghdadi memimpin kelompok teroris tersebut. Namun, dia baru mendeklarasikan diri sebagai "khalifah" ISIS tahun 2014, di mana kelompok tersebut saat itu telah menguasai sebagian wilayah Irak dan Suriah.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan pada hari Minggu bahwa al-Baghdadi bunuh diri dengan meledakkan rompi bom setelah melarikan diri ke terowongan buntu saat dikejar pasukan khusus dan anjing militer AS di Barisha, Idlib, Suriah, Sabtu malam. (Baca juga: Kronologi Dramatis Tewasnya Bos ISIS al-Baghdadi dalam Operasi AS)

"Awalnya saya berbicara dengan ipar perempuan saya," kata Murad kepada wartawan di kantor PBB. "Semua orang berkata: 'Oke, tapi ini hanya Baghdadi, bagaimana dengan semua (anggota) ISIS ini?'," lanjut dia.

"Bagaimana dengan mereka yang memerkosa kami? Mereka yang menjual kami, mereka masih memiliki anak perempuan kami, mereka masih memiliki anak-anak kami, sekitar 300.000 (orang) Yazidi masih hilang, kita tidak tahu apa-apa tentang mereka," keluh perempuan tersebut.

Para pakar AS pada Juni 2016 memperingatkan bahwa ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) melakukan genosida terhadap Yazidi di Suriah dan Irak untuk menghancurkan komunitas agama minoritas melalui pembunuhan, perbudakan seksual, dan kejahatan lainnya.

Militan ISIS menganggap Yazidi sebagai pemuja setan. Iman Yazidi sejatinya memiliki unsur-unsur Kristen, Zoroastrianisme dan Islam.

"Ada ribuan ISIS, mereka bergabung dengan al-Baghdadi dan mereka terus melakukan apa yang dia lakukan," kata Murad. "Jadi bukan hanya Baghdadi, kita harus tahu ada ribuan ISIS seperti Baghdadi...dan mereka tidak menyerah."

"Kami ingin melihat mereka diadili," imbuh Murad, seperti dikutip Reuters, Kamis (31/10/2019).

Tim investigasi AS, yang dibuat oleh Dewan Keamanan AS, sedang mengumpulkan dan menyimpan bukti tindakan ISIS di Irak yang mungkin merupakan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan atau genosida. Murad dan pengacara hak asasi manusia Amal Clooney telah lama mendorong Irak untuk mengizinkan penyelidik AS membantu.

"Mereka yang ditangkap hidup-hidup harus dibawa ke pengadilan di pengadilan terbuka agar dunia bisa melihat. Keadilan adalah satu-satunya tindakan yang dapat diterima," tulis Murad di Twitter, hari Minggu lalu.

"Kita harus menyatukan dan meminta pertanggungjawaban teroris ISIS dengan cara yang sama seperti dunia mengadili Nazi di pengadilan terbuka di Pengadilan Nuremberg," imbuh dia.
(mas)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak