alexametrics

Takut Dibocorkan Trump, CIA Diduga Tarik Mata-matanya di Kremlin

loading...
Takut Dibocorkan Trump, CIA Diduga Tarik Mata-matanya di Kremlin
Markas Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat. Foto/REUTERS
A+ A-
WASHINGTON - Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat (AS) dilaporkan menarik mata-matanya di internal pemerintah Rusia atau Kremlin dengan alasan khawatir dibocorkan Presiden Donald Trump.

Laporan itu diterbitkan CNN. CIA langsung mengecam laporan tersebut yang dianggap menyesatkan dan salah.

Reaksi luar biasa Badan Intelijen Pusat Amerika muncul ketika The New York Times menerbitkan sepotong laporan mengejutkan, yang sebagian besar bertentangan dengan laporan CNN. Menurut The New York Times; "Para pejabat CIA membuat keputusan yang sulit pada akhir 2016 untuk menawarkan mengekstrak sumber dari Rusia, beberapa minggu sebelum Trump menjabat (sebagai presiden)."



Laporan The New York Times yang mengutip seorang sumber mengatakan kekhawatiran tentang laporan media soal dugaan campur tangan pemilu oleh Rusia yang mendorong keputusan CIA tersebut diambil. "Sebagai wawasan terbaik pemerintah Amerika mengenai pemikiran dan perintah dari Presiden Rusia Vladimir Putin," tulis media AS itu mengutip sumbernya.

"Mantan pejabat intelijen mengatakan tidak ada bukti publik bahwa Trump secara langsung membahayakan sumbernya, dan pejabat Amerika saat ini bersikeras bahwa pengawasan media terhadap sumber-sumber agen (intelijen) itu sendiri merupakan dorongan untuk ekstraksi," lanjut The New York Times.

Masih menurut The New York Times, mata-mata tersebut menolak tawaran ekstraksi tahun 2016. Tetapi, CIA mendesaknya lagi beberapa bulan kemudian setelah lebih banyak penyelidikan media mengancam nasib mata-mata tersebut, dan dia akhirnya mengalah.

Isu ini semakin kencang ketika NBC News secara eksklusif melaporkan bahwa mata-mata Rusia di Washington sekarang hidup di bawah perlindungan AS, dan hidupnya dalam bahaya. Sumber mengatakan kepada NBC News bahwa orang Rusia yang tinggal di Washington adalah orang yang sama yang dirujuk dalam laporan CNN dan The New York Times, dan NBC News menyatakan; "Ia cocok dengan profil seseorang yang mungkin memiliki akses ke informasi tentang kegiatan (Presiden Rusia) Putin."

Seorang jurnalis NBC yang mengetuk pintu sosok yang diduga mata-mata Rusia diadang oleh orang-orang tak dikenal yang mengendarai sebuah SUV. Orang-orang tak dikenal itu diduga para personel keamanan. Spekulasi tentang identitas mata-mata tersebut telah menyebar di media sosial.

"Narasi CNN bahwa Badan Intelijen Pusat membuat keputusan hidup atau mati berdasarkan apa pun selain analisis objektif dan pengumpulan suara sama sekali salah," kata Direktur Urusan Publik CIA, Brittany Bramell, dalam sebuah pernyataan.

"Spekulasi yang salah arah bahwa penanganan Presiden atas intelijen paling sensitif (bagi) bangsa kita, yang dia miliki aksesnya setiap hari. Mendorong operasi pembasmian yang diduga tidak akurat," ujar Bramwell.

Menurut laporan kepala koresponden nasional CNN dan mantan pejabat pemerintahan Obama, Jim Sciutto, keputusan untuk melakukan ekstraksi terjadi segera setelah pertemuan Mei 2017 di Oval Office di mana Trump membahas informasi intelijen yang sangat rahasia dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Duta Besar Rusia untuk AS Sergei Kislyak. Informasi intelijen tentang ISIS di Suriah yang telah disediakan oleh Israel juga dibahas dalam pertemuan itu.

"Pengungkapan itu mendorong pejabat intelijen untuk memperbarui diskusi sebelumnya tentang potensi risiko pemaparan," tulis CNN.

Sciutto kemudian mem-posting di Twitter, setelah laporan diterbitkan The New York Times. Menurutnya, agen ganda yang berada dalam bahaya memiliki kemampuan luar biasa untuk mengambil foto dokumen kepresidenan, serta akses langsung ke Putin.

Meski dikecam dan disangkal CIA, laporan CNN itu dilansir berbagai media ternama, termasuk Vox, The Hill, dan The Guardian.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak