alexametrics

Ada Jejak Uranium di 'Gudang Atom Rahasia' Iran

loading...
Ada Jejak Uranium di Gudang Atom Rahasia Iran
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu paparkan situs yang dia sebut 'gudang atom rahasia' Iran saat pidato di Majelis Umum PBB tahun lalu. Foto/REUTERS/Carlo Allegri
A+ A-
WINA - Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menemukan jejak uranium di sebuah situs di Iran yang oleh Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu disebut sebagai "gudang atom rahasia". Badan pengawas nuklir PBB itu telah mengambil sampel uranium dan menuntut rezim Teheran untuk menjelaskannya.

Dua diplomat yang mengikuti inspeksi IAEA mengungkapkan temuan tersebut. Badan pengawas nuklir itu masih menyelidiki asal usul partikel uranium yang ditemukan di sebuah situs di Iran.

Menurut kedua dilomat yang berbicara secara anonim tersebut, Teheran belum memberikan penjelasan. Temuan itu bisa memicu ketegangan lebih lanjut antara antara Washington dan Teheran.



Dalam pidatonya setahun lalu, PM Netanyahu—yang dengan keras menentang perjanjian multilateral tentang nuklir Iran tahun 2015—meminta IAEA untuk segera mengunjungi situs tersebut. Menurutnya, di situs yang dia sebut sebagai "gudang atom rahasia" itu menampung 15 kg bahan radioaktif yang tidak ditentukan dan telah dihilangkan sejak saat itu.

Reuters
pernah melaporkan pada bulan April lalu bahwa IAEA telah memeriksa situs itu dan sampel telah diambil serta dikirim untuk analisis.

Media-media Israel dan AS sejak itu melaporkan bahwa sampel itu menjadi bukti adanya jejak bahan atau materi radioaktif, sebuah bahasa samar yang sama yang digunakan oleh Netanyahu.

Dua diplomat mengatakan jejak-jejak yang ditemukan IAEA itu adalah uranium, elemen yang sama yang diperkaya Iran dan satu dari hanya dua elemen fisil yang bisa dijadikan inti bom nuklir.

Seorang diplomat mengatakan uranium itu tidak sangat diperkaya, artinya tidak dimurnikan ke tingkat yang mendekati level yang dibutuhkan untuk pembuatan senjata.

"Ada banyak kemungkinan penjelasan," kata diplomat itu, yang dilansir Reuters, Senin (9/9/2019). Tetapi karena Iran belum memberikan apa pun kepada IAEA, sulit untuk memverifikasi asal usul partikel-partikel itu, dan juga tidak jelas apakah jejaknya adalah sisa-sisa material atau kegiatan yang mendahului kesepakatan 2015 atau lebih baru.

IAEA tidak menanggapi permintaan komentar. Para pejabat Iran juga tidak tersedia untuk berkomentar.

Kesepakatan multilateral 2015 yang bernama resmi Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) mengamanatkan pembatasan ketat pada program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi internasional.

JCPOA diteken oleh Iran dan enam kekuatan dunia (AS, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China). Namun, Presiden Donald Trump pada tahun lalu menarik AS keluar dari JCPOA dan memberlakukan kembali sanksi kerasnya terhadap Teheran. Tindakan Trump itu membuat JCPOA di ambang runtuh.

Iran selama ini mengklaim ambisi nuklirnya selalu bertujuan damai. Namun Netanyahu—yang telah berulang kali menuduh Iran ingin menghancurkan Israel mencari kehancuran Israel—tidak sudi percaya pada rezim para Mullah.

IAEA mengambil sampel lingkungan Iran itu karena mereka dapat mengambil partikel yang memberi tahu bahkan lama setelah material telah dikeluarkan dari sebuah situs. Jejak uranium dapat mengindikasikan, misalnya, keberadaan peralatan atau material yang terhubung dengan partikel-partikel tersebut.

Cornel Feruta, penjabat direktur jenderal IAEA, telah bertemu para pejabat Iran pada hari Minggu. "Feruta menekankan bahwa interaksi ini (pada komitmen nuklirnya) membutuhkan kerja sama penuh dan tepat waktu oleh Iran," bunyi pernyataan IAEA.

Laporan IAEA triwulanan yang dikeluarkan seminggu yang lalu tidak menyebutkan hasil sampel karena masalah terkait inspeksi sangat rahasia.

"Interaksi yang sedang berlangsung antara Badan (IAEA) dan Iran...membutuhkan kerja sama penuh dan tepat waktu oleh Iran. Badan terus mengejar tujuan ini dengan Iran," kata laporan itu.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak