Mantan Agen Mossad: Pemimpin Hamas Yahya Sinwar Makin Kuat, Bukan Melemah
Senin, 12 Agustus 2024 - 20:45 WIB
loading...
A
A
A
Usulan 6 Mei, yang sebelumnya disetujui Hamas dan ditolak Israel, juga memastikan pembebasan tawanan Israel di Gaza serta sejumlah warga Palestina yang tidak disebutkan jumlahnya yang ditahan di penjara Israel.
Pernyataan Hamas hari Minggu menambahkan bahwa "para mediator harus menegakkan [usulan 6 Mei] ini pada pendudukan [Israel] alih-alih mengejar putaran negosiasi lebih lanjut atau usulan baru yang akan memberikan perlindungan bagi agresi pendudukan dan memberinya lebih banyak waktu untuk melanjutkan genosida terhadap rakyat kami".
Juru bicara Hamas Jihad Taha mengatakan pada hari Sabtu bahwa pimpinan kelompok tersebut sedang "mempelajari" undangan untuk perundingan gencatan senjata ini.
Taha mengatakan bahwa "yang menghalangi keberhasilan proposal terakhir adalah pendudukan Israel" dan menekankan bahwa "menutup celah yang tersisa dalam perjanjian gencatan senjata dilakukan melalui pemberian tekanan nyata pada pihak Israel, yang dulu, dan masih, mempraktikkan kebijakan menempatkan hambatan di jalan menuju keberhasilan segala upaya dan usaha yang mengarah pada penghentian agresi".
Baca Juga: Jelang Serangan ke Israel, Iran Juga Hadapi Pertikaian Internal
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya mengatakan bahwa ia tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun yang menetapkan diakhirinya perang Israel di Gaza tanpa kekalahan penuh Hamas. Namun Israel mengatakan akan mengirim negosiator untuk mengambil bagian dalam pertemuan gencatan senjata pada 15 Agustus.
Jika perundingan berlangsung, itu juga akan menandai pertama kalinya Hamas akan memimpin perundingan dengan pemimpin Gaza Yahya Sinwar, menyusul pembunuhan Ismail Haniyeh oleh Israel.
Pernyataan Hamas hari Minggu menambahkan bahwa "para mediator harus menegakkan [usulan 6 Mei] ini pada pendudukan [Israel] alih-alih mengejar putaran negosiasi lebih lanjut atau usulan baru yang akan memberikan perlindungan bagi agresi pendudukan dan memberinya lebih banyak waktu untuk melanjutkan genosida terhadap rakyat kami".
Juru bicara Hamas Jihad Taha mengatakan pada hari Sabtu bahwa pimpinan kelompok tersebut sedang "mempelajari" undangan untuk perundingan gencatan senjata ini.
Taha mengatakan bahwa "yang menghalangi keberhasilan proposal terakhir adalah pendudukan Israel" dan menekankan bahwa "menutup celah yang tersisa dalam perjanjian gencatan senjata dilakukan melalui pemberian tekanan nyata pada pihak Israel, yang dulu, dan masih, mempraktikkan kebijakan menempatkan hambatan di jalan menuju keberhasilan segala upaya dan usaha yang mengarah pada penghentian agresi".
Baca Juga: Jelang Serangan ke Israel, Iran Juga Hadapi Pertikaian Internal
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya mengatakan bahwa ia tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun yang menetapkan diakhirinya perang Israel di Gaza tanpa kekalahan penuh Hamas. Namun Israel mengatakan akan mengirim negosiator untuk mengambil bagian dalam pertemuan gencatan senjata pada 15 Agustus.
Jika perundingan berlangsung, itu juga akan menandai pertama kalinya Hamas akan memimpin perundingan dengan pemimpin Gaza Yahya Sinwar, menyusul pembunuhan Ismail Haniyeh oleh Israel.
Lihat Juga :