alexametrics

Bos Pentagon Ragu Kim Jong-un Rela Serahkan Senjata Nuklirnya

loading...
Bos Pentagon Ragu Kim Jong-un Rela Serahkan Senjata Nuklirnya
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Foto/REUTERS
A+ A-
WASHINGTON - Kepala Pentagon atau Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Mark Esper menyampaikan keraguannya tentang kemungkinan bahwa rezim Korea Utara (Korut) yang dipimpin Kim Jong-un akan sepenuhnya melakukan denuklirisasi.

Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, Menteri Pertahanan yang baru dilantik itu ditanyai apakah Kim Jong-un akan rela menyerahkan senjata nuklirnya.

"Ya, para ahli mungkin akan memberi tahu Anda bahwa itu mungkin tidak, tapi kita akan lihat," katanya, sambil menggambarkan paralel antara prospek denuklirisasi Korut dan runtuhnya Uni Soviet.



"Tumbuh pada tahun 1970-an dan 1980-an, saya tidak pernah berpikir kita akan melihat Uni Soviet runtuh, tetapi ternyata begitu," katanya.

Kendati demikian, Esper mencatat bahwa Pyongyang di atas kertas sudah berkomitmen untuk bekerja menuju denuklirisasi penuh.

Sejak pertemuan puncak di Singapura tahun lalu antara Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump, Para pejabat Washington secara konsisten menekankan pandangan mereka bahwa pemimpin muda Korea Utara itu bersedia melakukan denuklirisasi.

Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo baru-baru ini juga mengklaim bahwa AS dan Korea Utara melihat langsung mengenai definisi denuklirisasi dan Kim Jong-un akan membuat janji untuk melakukan denuklirisasi negaranya dengan imbalan masa depan ekonomi yang lebih cerah yang difasilitasi oleh Washington.

Namun penokohan dari pemahaman bersama tentang proses ini kontras dengan keadaan pembicaraan yang macet antara kedua negara, serta klaim oleh Korea Utara bahwa AS mempromosikan pembacaan yang salah tentang jenis denuklirisasi yang disepakati dalam pertemuan puncak di Singapura.

Mirip dengan AS, pemerintah Korea Selatan juga secara konsisten mengklaim bahwa Kim JOng-un bersedia untuk menyerahkan senjata nuklirnya dengan imbalan manfaat ekonomi.

Bos Pentagon menyikapi masalah itu dengan lebih skeptis. Ditanya apakah dia mempercayai Kim Jong-un, dia menjawab; "Tidak.". Dia menekankan perlunya kedua negara untuk memiliki perjanjian yang dapat diverifikasi.

Namun dia juga membela proses diplomatik yang sedang berlangsung antara kedua negara, serta menegaskan kembali klaim AS baru-baru ini bahwa mereka tidak khawatir dengan serentetan uji coba rudal Korea Utara dalam beberapa pekan terakhir.

"Ketika saya datang ke pemerintahan (Trump) pada akhir 2017...kami berada di jalan menuju perang pada waktu itu," kata Esper. "Sekarang kita berada di jalur diplomatik."

"Saya pikir kekhawatiran terbesar kami adalah dengan uji (rudal) jarak jauh yang sedang dilakukan," ujarnya, membantah bahwa AS tidak pantas untuk terus mengupayakan pembicaraan setelah enam tes senjata oleh Pyongyang dalam sebulan terakhir.

"Saya pikir Anda perlu melihat gambar yang lebih besar," katanya, dikutip dari Fox News, Kamis (22/8/2019).
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak