alexametrics

Penjelasan Mengapa S-400 dan F-35 Tak Bisa Akur

loading...
Penjelasan Mengapa S-400 dan F-35 Tak Bisa Akur
Pesawat jet tempur siluman F-35 Lockheed Martin yang dioperasikan Israel. Foto/REUTERS
A+ A-
WASHINGTON - Sistem radar dan pesawat terbang saat ini perlu berbagi banyak informasi. Namun, itu menjadi masalah ketika negara-negara yang menghasilkan sistem radar dam pesawat itu tidak berada di pihak yang sama.

Para pejabat militer Amerika Serikat (AS) berulang kali memperingatkan bahwa pembelian sistem rudal anti-pesawat S-400 Rusia oleh Turki dapat membahayakan jet tempur siluman F-35 Lockheed Martin. Tetapi mereka belum membahas secara rinci bagaimana cara senjata pertahanan canggih itu membahayakan pesawat F-35.

Pada bulan Juni, misalnya, Jenderal Tod Wolters, yang memimpin Komando Eropa AS, menawarkan penjelasan begini; "Anda tidak dapat mengoperasikan F-35 di sekitar S-400. Mereka tidak akan berbicara satu sama lain, dan apa yang kedua sistem akan coba lakukan, tentu S-400 terhadap F-35, adalah upaya untuk mengeksploitasi kemampuan F-35. Saya dapat memberi tahu Anda bahwa kami tidak tertarik berbagi kemampuan F-35 dari perspektif radar, dari perspektif operasional, dengan Rusia. Kami sudah membuatnya sangat, sangat jelas."



Namun F-35 Israel telah beroperasi di dekat S-400 Rusia yang dikerahkan di Suriah.

Menurut David Stupples, seorang profesor sistem elektronik dan radio di City, University of London dan anggota dewan Association of Old Crows, sebuah asosiasi untuk para profesional radar dan peperangan elektronik, mengatakan radar pada sistem rudal S-400 akan dapat mengamati F-35. "(Mengamati) pada semua profil penerbangannya, sehingga mampu mengidentifikasi titik-titik lemah dalam kemampuan sembunyi-sembunyi (siluman)-nya," ujarnya, seperti dikutip Defense One, Kamis (18/7/2019).

Stupples mengatakan bahayanya tidak berhenti di udara. Menurutnya, Turki akan mendapatkan dukungan teknis Rusia selama lima tahun dengan pembelian S-400, yang artinya akan memberi Moskow banyak peluang untuk menempatkan agen intelijen di sebelah baterai dan operator sistem rudal tersebut. Dia mengatakan bahwa hal seperti itu menjadi masalah yang umum di India, klien S-400 lainnya.

Michael Kofman, seorang ilmuwan peneliti senior di CNA, sebuah organisasi penelitian dan analisis nirlaba di Arlington, Virginia, meremehkan kekhawatiran itu.

“Kita harus mempertimbangkan bahwa kemungkinan besar F-35 dan S-400 tidak akan berada di dekat satu sama lain. Oleh karena itu proposisi bahwa teknisi Rusia akan bekerja di pangkalan yang sama, berlokasi bersama dengan F-35, adalah peristiwa dengan probabilitas rendah," katanya.

Stupples mengatakan NATO juga khawatir tentang niat Turki untuk mengintegrasikan S-400 dengan NATO Air Defense Ground Environment atau NADGE, sekelompok radar dan sensor lainnya, sistem penargetan, hubungan komunikasi, sistem identifikasi teman dan musuh, dan lain-lain.

"Karena itu, kriteria kemampuan F-35 dapat diakses oleh teknisi IT nakal yang bekerja pada S-400," katanya.

Cara lain yang mungkin untuk serangan siber adalah sistem yang membantu membedakan pesawat sekutu dari pesawat musuh, sebuah tugas yang membutuhkan pembagian data yang luas.

Integrasi S-400 dan NADGE juga dapat memungkinkan operator siber Rusia untuk menargetkan F-35 yang diterbangkan oleh Turki—dan bahkan sekutu lainnya—melalui perangkat lunak pemeliharaan yang terhubungan ke pesawat. "Risiko di sini signifikan dan tidak dapat diabaikan," kata Stupples.

Kofman mengatakan pedang akses data berayun dua arah. "Masalah keamanan, dan akses ke teknologi, sama bermasalahnya dengan Rusia menjual S-400 ke negara NATO seperti untuk AS dalam kasus (menjual) F-35," katanya.

"Untuk beberapa alasan liputan cenderung untuk tidak menanyakan pertanyaan tentang bagaimana Rusia berencana untuk menangani masalah potensial intelijen AS di seluruh sistem mereka di Turki."

Namun, untuk sementara para pejabat AS memiliki keraguan besar tentang penempatan bersama S-400 dan F-35, sedangkan pemerintah Rusia tidak menyatakan keprihatinan yang sama.

Kofman menunjukkan bahwa S-400 yang dijual Rusia ke Turki adalah versi yang disetujui untuk ekspor, sedikit berbeda dari yang digunakan oleh militer Rusia.

“Rusia tidak menangis tentang (langkahnya) menjual teknologi terbaik mereka ke negara NATO, meskipun ada implikasi yang jelas untuk diakses teknologinya. Itu seharusnya membuat kita heran," katanya.
(mas)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak