Rusia Marah karena AS Hendak Kerahkan Rudal Tomahawk dan Hipersonik ke Jerman
Jum'at, 12 Juli 2024 - 10:27 WIB
loading...
A
A
A
Penasihat Keamanan Nasional AS, Jake Sullivan, membela keputusan Wahington. ”Apa yang kami kerahkan ke Jerman adalah kemampuan pertahanan. Seperti banyak kemampuan pertahanan lainnya yang telah kami terapkan di seluruh aliansi selama beberapa dekade,” katanya.
”Meningkatnya serangan Rusia tidak akan menghalangi kami untuk melakukan apa yang kami anggap perlu untuk menjaga aliansi tetap kuat,” ujarnya.
Para pejabat Rusia dan AS telah saling menuduh satu sama lain memprovokasi eskalasi ketika para pakar pengendalian senjata memperingatkan bahwa penempatan rudal di benua Eropa, setelah runtuhnya perjanjian Pasukan Nuklir Jarak Menengah (INF), dapat memicu perlombaan senjata baru.
Keputusan untuk menempatkan rudal jelajah non-nuklir Tomahawk, SM-6, dan rudal hipersonik di Jerman mulai tahun 2026 disambut baik oleh Kanselir Jerman Olaf Scholz, yang mengatakan hal itu “sangat cocok” dengan strategi keamanan pemerintahnya—bahkan ketika langkah tersebut menuai kritik keras karena akan membuat Jerman lebih rentan terhadap serangan.
Scholz mengatakan keputusan tersebut telah diambil sejak lama dan tidak mengejutkan bagi siapa pun yang memiliki pengetahuan tentang kebijakan keamanan dan perdamaian.
Hans Kristensen, direktur proyek informasi nuklir di Federasi Ilmuwan Amerika, menulis: “Rusia pertama mengembangkan/menerjunkan rudal yang melanggar perjanjian INF. Kemudian AS menarik diri dari perjanjian dan mengerahkan rudal (yang dilarang perjanjian) INF juga. Kemudian Rusia akan merespons dengan mengerahkan lebih banyak rudal. Lalu…Apakah ada yang punya rencana di sini atau semua orang menggunakan autopilot?”
”Meningkatnya serangan Rusia tidak akan menghalangi kami untuk melakukan apa yang kami anggap perlu untuk menjaga aliansi tetap kuat,” ujarnya.
Para pejabat Rusia dan AS telah saling menuduh satu sama lain memprovokasi eskalasi ketika para pakar pengendalian senjata memperingatkan bahwa penempatan rudal di benua Eropa, setelah runtuhnya perjanjian Pasukan Nuklir Jarak Menengah (INF), dapat memicu perlombaan senjata baru.
Keputusan untuk menempatkan rudal jelajah non-nuklir Tomahawk, SM-6, dan rudal hipersonik di Jerman mulai tahun 2026 disambut baik oleh Kanselir Jerman Olaf Scholz, yang mengatakan hal itu “sangat cocok” dengan strategi keamanan pemerintahnya—bahkan ketika langkah tersebut menuai kritik keras karena akan membuat Jerman lebih rentan terhadap serangan.
Scholz mengatakan keputusan tersebut telah diambil sejak lama dan tidak mengejutkan bagi siapa pun yang memiliki pengetahuan tentang kebijakan keamanan dan perdamaian.
Hans Kristensen, direktur proyek informasi nuklir di Federasi Ilmuwan Amerika, menulis: “Rusia pertama mengembangkan/menerjunkan rudal yang melanggar perjanjian INF. Kemudian AS menarik diri dari perjanjian dan mengerahkan rudal (yang dilarang perjanjian) INF juga. Kemudian Rusia akan merespons dengan mengerahkan lebih banyak rudal. Lalu…Apakah ada yang punya rencana di sini atau semua orang menggunakan autopilot?”
Lihat Juga :