Intel Moskow: Prancis Bersiap Kerahkan 2.000 Tentara ke Ukraina untuk Perang Melawan Rusia

Jum'at, 12 Juli 2024 - 06:29 WIB
loading...
Intel Moskow: Prancis...
Badan Intelijen Luar Negeri (SVR) Rusia sebut Prancis sedang bersiap mengirim 2.000 tentara ke Ukraina untuk berperang melawan Rusia. Foto/REUTERS
A A A
MOSKOW - Badan Intelijen Luar Negeri (SVR) Rusia telah mendeklasifikasi laporan seorang agen yang menyatakan pada bulan Maret bahwa Prancis sedang bersiap mengirim kontingen sekitar 2.000 tentara ke Ukraina untuk berperang melawan Rusia.

Laporan tersebut diterbitkan dalam edisi terbaru majalah “Scout” SVR, yang dikutip Russia Today, Jumat (12/7/2024).

Di dalamnya, seorang agen yang menggunakan nama samaran Felix mengeklaim; “Tentara Prancis prihatin dengan meningkatnya jumlah warga Prancis yang terbunuh di medan operasi militer Ukraina,” terutama setelah pasukan Rusia menghancurkan pusat penempatan sementara bagi orang asing di dekat Kharkiv pada Januari.

Serangan itu saja telah menewaskan lusinan warga Prancis, menurut perkiraan Paris, dan mencatat bahwa sejak itu, serangan serupa menjadi hal biasa dalam perang di Ukraina.

Baca Juga: Dikerjai Rusia, Senjata Canggih Barat Menjadi Tak Berguna dalam Perang Rusia

Kementerian Pertahanan Prancis secara pribadi mengakui bahwa mereka belum pernah mengalami kerugian sebesar itu sejak perang di Aljazair pada paruh kedua abad ke-20, menurut sandi telegram Felix.

Agen SVR itu melaporkan bahwa jumlah pasti korban dan gagasan bahwa ada prajurit Prancis di Ukraina sengaja ditutup-tutupi oleh pihak berwenang Prancis.

Mereka diduga khawatir bahwa jumlah korban telah melampaui batas psikologis yang signifikan dan bahwa publikasi mereka dapat memicu protes publik massal dan ketidakpuasan di antara para pejabat yang bertindak.

Terlepas dari masalah ini, Felix mengatakan pihak berwenang Prancis tetap mempersiapkan kontingen untuk dikirim ke Ukraina, dan mengeklaim bahwa kelompok ini pada awalnya direncanakan akan mencakup sekitar 2.000 tentara.

Namun, militer Prancis khawatir bahwa tidak mungkin mengirimkan pasukan sebesar itu secara diam-diam ke Ukraina, karena wilayah tersebut akan menjadi target prioritas pasukan Rusia.

Sebelumnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron berulang kali mengisyaratkan bahwa negaranya dapat mengirim tentara untuk berperang di pihak Kyiv, hal ini memicu kecaman dari Rusia serta penolakan dari sebagian besar sekutu Paris di NATO.

Pemimpin Prancis tersebut kemudian juga menegaskan bahwa dia sedang berusaha membentuk koalisi yang bersedia mengerahkan spesialis untuk melatih militer Ukraina di lapangan, dan mengeklaim bahwa beberapa negara telah setuju untuk bergabung dalam upaya tersebut.

Bulan lalu, pejabat senior Ukraina melaporkan bahwa kelompok pertama instruktur Prancis sudah dalam perjalanan ke negara tersebut.

Moskow telah berulang kali memperingatkan agar tidak memberikan bantuan militer tambahan ke Kyiv, sementara Presiden Rusia Vladimir Putin mengeklaim bahwa spesialis militer Barat telah lama aktif di Ukraina dengan menyamar sebagai tentara bayaran.

Putin memperingatkan bahwa pengerahan pasukan Barat ke Ukraina dapat menyebabkan konflik serius di Eropa dan konflik global.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Menteri Perang AS Kecam...
Menteri Perang AS Kecam Negara-negara NATO: Menumpang Gratis, tapi Tolak Bantu Melawan Iran!
Serangan Drone Terbesar...
Serangan Drone Terbesar Ukraina Membakar Kilang Minyak Moskow, Rusia Janji Balas Dendam
Finlandia Buka Pintu...
Finlandia Buka Pintu Jadi Markas Bom Nuklir NATO, Rusia Bisa Marah
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Prancis Naik Pitam!...
Prancis Naik Pitam! Siap Jegal Iran soal Tarif Tol di Selat Hormuz
Serangan Rusia Tewaskan...
Serangan Rusia Tewaskan 9 Orang di Ukraina, Katedral Bersejarah Kyiv Terbakar
Dominasi Pizza Hut Memudar...
Dominasi Pizza Hut Memudar hingga Dilego Pemilik Rp47,8 Triliun
Rekomendasi
OJK Respons Penilaian...
OJK Respons Penilaian MSCI ke Pasar Modal Indonesia: Tahan Status Emerging Market dengan Catatan
Cedera Patah Kaki di...
Cedera Patah Kaki di Piala Dunia 2026, Ismael Kone Terancam Absen Setahun
Kemenhut Bangun Perekonomian...
Kemenhut Bangun Perekonomian Kehutanan Inklusif, Berkelanjutan, dan Kompetitif
Berita Terkini
Netanyahu Keras Kepala,...
Netanyahu Keras Kepala, Israel Tak akan Mundur dari Lebanon Selatan
Hizbullah Peringatkan...
Hizbullah Peringatkan Israel Punya Waktu 60 hari untuk Mundur dari Lebanon
Swiss Ungkap Perundingan...
Swiss Ungkap Perundingan AS-Iran Tidak Jadi Digelar, Wapres Vance Batalkan Perjalanan
Jurnalis AS: Trump Tak...
Jurnalis AS: Trump Tak Konsultasi dengan Israel soal Iran untuk Lemahkan Posisi Netanyahu
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Komite Administrasi...
Komite Administrasi Gaza Ungkap Prioritas Rekonstruksi Sudah Ditetapkan, Siap Mulai Pekerjaan
Infografis
600 Tentara Korea Utara...
600 Tentara Korea Utara Tewas saat Perang Melawan Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved