Mengerikan, Peran Senjata Nuklir Lebih Menonjol dalam Krisis Geopolitik sejak Perang Dingin
Senin, 17 Juni 2024 - 08:14 WIB
loading...
A
A
A
Presiden Rusia Vladimir Putin telah meningkatkan retorika nuklirnya sejak konflik di Ukraina dimulai, dengan memperingatkan dalam pidatonya pada bulan Februari bahwa ada risiko nyata dari perang nuklir.
Selain itu, kata SIPRI, perjanjian informal antara Amerika Serikat dan Iran yang dicapai pada Juni 2023 dibatalkan setelah dimulainya perang Israel-Hamas pada bulan Oktober.
Menurut SIPRI, sembilan negara bersenjata nuklir di dunia juga terus memodernisasi persenjataan nuklir mereka.”Beberapa telah mengerahkan sistem senjata nuklir baru atau berkemampuan nuklir pada tahun 2023,” kata kelompok penelitian tersebut.
Kesembilan negara itu adalah Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Prancis, China, India, Pakistan, Korea Utara, dan Israel.
Menurut SIPRI, pada bulan Januari, dari perkiraan 12.121 hulu ledak nuklir di seluruh dunia, sekitar 9.585 berada dalam timbunan untuk digunakan. Sekitar 2.100 unit ditempatkan dalam keadaan "siaga operasional tinggi" untuk rudal balistik.
Hampir semua hulu ledak ini milik Rusia dan Amerika Serikat—yang bersama-sama memiliki hampir 90 persen senjata nuklir—namun China untuk pertama kalinya diyakini memiliki sejumlah hulu ledak dalam siaga operasional tinggi.
Selain itu, kata SIPRI, perjanjian informal antara Amerika Serikat dan Iran yang dicapai pada Juni 2023 dibatalkan setelah dimulainya perang Israel-Hamas pada bulan Oktober.
Menurut SIPRI, sembilan negara bersenjata nuklir di dunia juga terus memodernisasi persenjataan nuklir mereka.”Beberapa telah mengerahkan sistem senjata nuklir baru atau berkemampuan nuklir pada tahun 2023,” kata kelompok penelitian tersebut.
Kesembilan negara itu adalah Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Prancis, China, India, Pakistan, Korea Utara, dan Israel.
Menurut SIPRI, pada bulan Januari, dari perkiraan 12.121 hulu ledak nuklir di seluruh dunia, sekitar 9.585 berada dalam timbunan untuk digunakan. Sekitar 2.100 unit ditempatkan dalam keadaan "siaga operasional tinggi" untuk rudal balistik.
Hampir semua hulu ledak ini milik Rusia dan Amerika Serikat—yang bersama-sama memiliki hampir 90 persen senjata nuklir—namun China untuk pertama kalinya diyakini memiliki sejumlah hulu ledak dalam siaga operasional tinggi.
Lihat Juga :