AS Kesal China Terus-menerus Dukung Putin dalam Perang Ukraina
Jum'at, 17 Mei 2024 - 07:41 WIB
loading...
Amerika Serikat kesal pada China, yang dianggap terus-menerus mendukung Presiden Rusia Vladimir Putin dalam perangnya di Ukraina. Foto/Sergei Bobylev/Sputnik/Kremlin Pool Photo via AP
A
A
A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) menyampaikan kekesalannya kepada China, yang dianggap terus-menerus mendukung Presiden Rusia Vladimir Putin dalam perangnya di Ukraina.
Respons Washington muncul ketika Putin berkunjung ke China pada Kamis, yang disambut hangat para pemimpin rezim komunis.
“Jika China ingin menjalin hubungan baik dengan Eropa dan negara-negara lain, hal ini tidak bisa terus menjadi ancaman terbesar terhadap keamanan Eropa,” kata seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS kepada Newsweek tanpa disebutkan namanya, Jumat (17/5/2024).
Dia menekankan bahwa ini bukan hanya sikap Washington, namun juga Uni Eropa, NATO, dan G7.
Baca Juga: Putin Kunjungi China, Dielu-elukan sebagai Kaisar dan Jadi Trending Topic
Kunjungan Putin, yang merupakan perjalanan internasional resmi pertamanya sejak terpilih untuk masa jabatan kelima sebagai presiden Rusia, terjadi ketika invasi Moskow ke Ukraina memasuki tahun ketiga—dan ketika AS serta negara-negara Barat lainnya berusaha untuk lebih mengisolasi Moskow di tengah kemajuan perang pasukan Rusia.
Respons Washington muncul ketika Putin berkunjung ke China pada Kamis, yang disambut hangat para pemimpin rezim komunis.
“Jika China ingin menjalin hubungan baik dengan Eropa dan negara-negara lain, hal ini tidak bisa terus menjadi ancaman terbesar terhadap keamanan Eropa,” kata seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS kepada Newsweek tanpa disebutkan namanya, Jumat (17/5/2024).
Dia menekankan bahwa ini bukan hanya sikap Washington, namun juga Uni Eropa, NATO, dan G7.
Baca Juga: Putin Kunjungi China, Dielu-elukan sebagai Kaisar dan Jadi Trending Topic
Kunjungan Putin, yang merupakan perjalanan internasional resmi pertamanya sejak terpilih untuk masa jabatan kelima sebagai presiden Rusia, terjadi ketika invasi Moskow ke Ukraina memasuki tahun ketiga—dan ketika AS serta negara-negara Barat lainnya berusaha untuk lebih mengisolasi Moskow di tengah kemajuan perang pasukan Rusia.
Lihat Juga :