alexametrics

Sebut IQ Tergantung Ras, Pelopor DNA Pemenang Nobel Dicopot Gelarnya

loading...
Sebut IQ Tergantung Ras, Pelopor DNA Pemenang Nobel Dicopot Gelarnya
Ilmuwan pelopor DNA dan pemenang Hadiah Nobel, James Watson. Foto/REUTERS/Richard Carson
A+ A-
NEW YORK - Ilmuwan pelopor DNA dan pemenang Hadiah Nobel, James Watson, telah dilucuti gelar kehormatannya oleh bekas laboratoriumnya di Amerika Serikat (AS) setelah membuat komentar kontroversial. Dia mengatakan intelligence quotient (IQ) atau kecerdasan intelektual seseorang tergantung pada ras dan genetika.

Komentar itu dibuat tahun 2007. Dia menolak menarik argumennya dan mengulangnya lagi pada tahun 2018. Cold Spring Harbor Laboratory (CSHL), laboratorium yang pernah dia pimpin di New York, mengatakan komentar terbaru Watson dalam film dokumenter 2018 adalah sama sekali tidak kompatibel dengan misinya.

Watson telah menimbulkan kontroversi di antara para ahli genetika karena keyakinannya bahwa ada hubungan antara kecerdasan dengan genetika dan ras.



Pada 2007, dia mengatakan bahwa dia secara inheren suram tentang prospek Afrika karena kebijakan Barat terhadap benua itu menganggap orang Afrika sama cerdasnya dengan orang Eropa.

Ilmuwan yang membantu mengidentifikasi struktur double-helix dari molekul DNA tersebut menyatakan dalam film dokumenter bahwa dia masih berpegang pada pandangannya itu.

CSHL membebaskan Watson dari tugasnya setelah komentar kontroversialnya keluar pertama kali tahun 2007. Mengutip Al Jazeera, Senin (14/1/2019), gelar-gelar kehormatannya resmi dicopot pada hari Jumat pekan lalu. CSHL menyebut pendapatnya "tidak berdasar dan ceroboh".

Berbagai gelarnya yang dicopot antara lain Chancellor Emeritus, Oliver R Grace Professor Emeritus, dan Honorary Trustee.

Watson telah lama dikaitkan dengan CSHL, di mana dia menjadi direkturnya pada tahun 1968. Pada tahun 1994 dia menjadi presiden CSHL dan gelar Chancellor Emeritus diraih 10 tahun kemudian. Bahkan, sebuah sekolah di laboratorium dinamai berdasarkan namanya.

Watson memenangkan Hadiah Nobel dalam bidang fisiologi dan kedokteran pada tahun 1962 bersama dengan Francis Crick dan Maurice Wilkins karena menemukan pada tahun 1953 bahwa DNA adalah heliks ganda, berbentuk seperti tangga yang panjang, memutar dengan lembut.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak