Daftar Jenderal Myanmar yang Hilang atau Dieksekusi akibat Perang Saudara
Jum'at, 26 April 2024 - 18:45 WIB
loading...
A
A
A
“Dari enam orang tersebut, tiga orang dijatuhi hukuman mati dan tiga orang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup,” ungkap laporan Chindwin.
Ye Myo Hein, pengamat politik Myanmar yang berafiliasi dengan Institut Perdamaian Amerika Serikat, mengutip sumber-sumber lokal yang mengatakan lima brigadir jenderal dijatuhi hukuman: tiga orang dijatuhi hukuman mati, dan dua orang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Keenam jenderal tersebut bertanggung jawab merundingkan penyerahan Komando Operasi Regional militer di Laukkai, ibu kota Zona Pemerintahan Sendiri (SAZ) Kokang di Negara Bagian Shan bagian utara, kepada Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar (MNDAA) pada tanggal 5 Januari 2024.
MNDAA berhasil merebut Laukkai sebagai salah satu tujuan utama Operasi 1027, serangan yang dilancarkan kelompok pemberontak tersebut bersama sekutunya, Tentara Arakan dan Tentara Pembebasan Nasional Ta'ang.
Langkah ini menyelesaikan penaklukan kembali Kokang yang telah lama dinantikan para pemberontak, setelah militer Myanmar mengusir mereka pada tahun 2009.
Mereka yang dihukum adalah Brigjen Moe Kyaw Thu, komandan komando militer Laukkai, yang dilaporkan memimpin pembicaraan penyerahan diri dengan MNDAA, dan Brigjen Tun Tun Myint, kepala Komando Timur Laut yang mengetuai badan administratif Kokang selama tahap awal Operasi 1027 pada bulan November.
Sejak awal operasi, militer telah kehilangan kendali atas sekitar 30 kota, beberapa ratus pangkalan dan pos terdepan, termasuk pusat komando, dan beberapa penyeberangan perbatasan penting dengan China.
Namun jatuhnya Kokang, dan runtuhnya posisi militer di Negara Bagian Shan bagian utara, merupakan kemunduran yang paling signifikan.
Selama penyerahan Komando Operasi Regional di Laukkai, hampir 2.400 tentara Myanmar menyerahkan senjata mereka.
Ini dilaporkan sebagai penyerahan senjata terbesar dalam sejarah angkatan bersenjata Myanmar.
Dengan menyerahkan senjata, para tentara diizinkan melakukan perjalanan yang aman ke Lashio, 186 kilometer ke arah barat daya, bersama dengan keluarga mereka.
Menurut The Irrawaddy, keenam jenderal tersebut kemudian diterbangkan dengan helikopter militer ke Lashio, di mana mereka ditahan di markas Komando Timur Laut untuk diinterogasi.
Ye Myo Hein, pengamat politik Myanmar yang berafiliasi dengan Institut Perdamaian Amerika Serikat, mengutip sumber-sumber lokal yang mengatakan lima brigadir jenderal dijatuhi hukuman: tiga orang dijatuhi hukuman mati, dan dua orang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Keenam jenderal tersebut bertanggung jawab merundingkan penyerahan Komando Operasi Regional militer di Laukkai, ibu kota Zona Pemerintahan Sendiri (SAZ) Kokang di Negara Bagian Shan bagian utara, kepada Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar (MNDAA) pada tanggal 5 Januari 2024.
MNDAA berhasil merebut Laukkai sebagai salah satu tujuan utama Operasi 1027, serangan yang dilancarkan kelompok pemberontak tersebut bersama sekutunya, Tentara Arakan dan Tentara Pembebasan Nasional Ta'ang.
Langkah ini menyelesaikan penaklukan kembali Kokang yang telah lama dinantikan para pemberontak, setelah militer Myanmar mengusir mereka pada tahun 2009.
Mereka yang dihukum adalah Brigjen Moe Kyaw Thu, komandan komando militer Laukkai, yang dilaporkan memimpin pembicaraan penyerahan diri dengan MNDAA, dan Brigjen Tun Tun Myint, kepala Komando Timur Laut yang mengetuai badan administratif Kokang selama tahap awal Operasi 1027 pada bulan November.
Sejak awal operasi, militer telah kehilangan kendali atas sekitar 30 kota, beberapa ratus pangkalan dan pos terdepan, termasuk pusat komando, dan beberapa penyeberangan perbatasan penting dengan China.
Namun jatuhnya Kokang, dan runtuhnya posisi militer di Negara Bagian Shan bagian utara, merupakan kemunduran yang paling signifikan.
Selama penyerahan Komando Operasi Regional di Laukkai, hampir 2.400 tentara Myanmar menyerahkan senjata mereka.
Ini dilaporkan sebagai penyerahan senjata terbesar dalam sejarah angkatan bersenjata Myanmar.
Dengan menyerahkan senjata, para tentara diizinkan melakukan perjalanan yang aman ke Lashio, 186 kilometer ke arah barat daya, bersama dengan keluarga mereka.
Menurut The Irrawaddy, keenam jenderal tersebut kemudian diterbangkan dengan helikopter militer ke Lashio, di mana mereka ditahan di markas Komando Timur Laut untuk diinterogasi.
Lihat Juga :